Tampilkan postingan dengan label TradisiJawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TradisiJawa. Tampilkan semua postingan

JABUNG – Langit Dusun Busu malam itu, Sabtu (4/4/2026), tidak sedang ingin bersahabat. Gerimis turun malu-malu, memeluk udara dengan kelembapan yang menusuk tulang. Namun, di pelataran rumah Pak Ngatenu, dingin tak punya kuasa. Sebuah panggung sederhana berukuran 8x6 meter, berbalut kain hitam legam tanpa “gincu” banner kegiatan, berdiri tegak menjadi kanvas murni bagi sebuah peristiwa budaya yang akan dicatat oleh ingatan.

Malam itu adalah awal dari pengembaraan panjang Malang Dance. Dusun Busu dipilih menjadi saksi pertama pembukaan tur tiga kota (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu) untuk karya teater tari kolosal: “Pengakuan Rahwana”. Sebuah karya yang membedah relung hati sang raksasa, diadaptasi dari bait-bait puitis “Kemelut Cinta Rahwana” karya Begawan Sastra, Prof. Dr. Djoko Saryono.

https://www.kampungadat.com/2026/04/sajak-gerimis-di-pelataran-busu-kala-rahwana-menitipkan-cintanya-pada-tanah-adat.html
Meski rintik hujan kian padat, warga Busu tidak bergeming. Mereka merangsek, mencari celah di teras-teras rumah, memastikan mata tak kehilangan sedetik pun magis di atas panggung. Sebelum sang Dasamuka muncul, suasana dipanaskan oleh gemulai Tarian Mban Egrek dari Sanggar Kopi Maknyak Prigen. Tak lama, alunan musik balada dari Tali Jiwa menghipnotis warga Busu dengan sajak-sajak Iwan Fals, membawa penonton dalam perenungan yang dalam sebelum hujan memaksa alat musik mereka menepi lebih awal.

Namun, jeda itu tak dibiarkan sunyi. Ludruk Organik naik panggung lebih cepat dari jadwal semula. Pak Ngatenu, sang empunya rumah, menjelma menjadi artis dengan membanggakan nama panggilkannya Londo Gendeng. Dengan peci merah dan banyolan khasnya, ia menjadi jembatan rasa, mengabarkan pada warga bahwa malam ini adalah pertunjukan ke-55 bagi sang Rahwana, sebuah pencapaian emas yang dimulai dari tanah Jabung sebelum melawat ke Taman Krida Budaya Malang dan berakhir di Amphiteater Arjuna Wiwaha, Batu.

Kala gerimis mulai menyusut, api semangat justru kian membara. Sesi lawak Ludruk Organik mendadak sunyi saat sosok Winarto Ekram muncul di atas panggung. Bukan sebagai koreografer, melainkan sebagai sang pemuja cinta Rahwana.

https://www.kampungadat.com/2026/04/sajak-gerimis-di-pelataran-busu-kala-rahwana-menitipkan-cintanya-pada-tanah-adat.html

Pertunjukan dimulai dengan lengkingan biola yang jernih, membelah kesunyian malam Busu yang sejuk. Selama satu jam, penonton seolah dipindahkan ke dimensi lain. Mereka tak lagi melihat Rahwana sebagai antagonis yang banal, melainkan sosok yang membawa kemurnian dan ketulusan cinta pada Dewi Sinta.

Langkah kaki yang tegas, sorot mata yang tajam dalam balutan tata cahaya yang dramatis, hingga riuhnya pasukan kera dan lincahnya Hanoman, merangkai sebuah narasi yang apik. Totalitas para penari di bawah suhu dingin Jabung menciptakan kehangatan yang tak kasat mata.

Decak kagum membuncah saat pertunjukan usai. Tidak ada jarak antara sang maestro dan warga biasa. Malam yang diawali dengan kecemasan akan hujan, ditutup dengan tawa dan sesi foto bersama yang akrab.

https://www.kampungadat.com/2026/04/sajak-gerimis-di-pelataran-busu-kala-rahwana-menitipkan-cintanya-pada-tanah-adat.html

Di Dusun Busu, Rahwana telah "mengaku". Bukan mengakui kekalahan, melainkan mengakui bahwa cinta yang tulus dan seni yang membumi akan selalu menemukan jalannya untuk pulang ke hati masyarakat, sedingin apa pun cuaca yang menyertainya.

JABUNG, MALANG – Di sudut pelataran Kampung Tretek Dusun Busu, Desa Slamparejo, sesosok paruh baya sedang asik dengan kuas dan cat, dengan lugas tangannya menyaput guratan sebuah wajah yang “seram” pada pelapah Kelapa. Sosoh itu tak lain adalah Mbah Pit, salah satu tokoh sepuh Kampung Tretek. Mbah Piet siang itu sedang membuat Tetek Melek, salah satu pengetahuan tradisional leluhur dalam upaya Tolak Balak.

Yang menarik adalah inisiatif Mbah Piet untuk membuat Tetek Melek ini yaitu untuk dihadirkan dalam gelaran Festival Busu Jaman Biyen (BJBfest2026) yang akan di gelar tanggal 10-12 april 2026 nanti. Kehadirannya di gelaran Festival Busu Jaman Biyen (BJBfest) 2026 bukan sekadar pajangan estetis, melainkan upaya menghidupkan kembali memori kolektif tentang pengetahuan tradisional penolak bala.

https://www.kampungadat.com/2026/04/tetek-melek-simbol-kewaspadaan-pelestari-tradisi-penolak-bala-di-bjbfest-2026.html

Bagi generasi muda saat ini, Tetek Melek mungkin tampak asing atau sekadar kerajinan tangan biasa. Namun, bagi sesepuh Dusun Busu, benda ini adalah perlambang kekuatan dan doa masyarakat dalam menghadapi masa-masa sulit, terutama saat terjadi pagebluk (wabah penyakit) di masa lampau.

Secara harfiah, "Melek" dalam bahasa Jawa berarti terjaga atau waspada. Dahulu, Tetek Melek diletakkan di depan rumah atau di gerbang desa sebagai sarana tolak bala. Pengetahuan tradisional ini mengajarkan bahwa untuk menghadapi musibah atau wabah, masyarakat harus tetap waspada dan "terjaga" secara lahir maupun batin.

"Tetek Melek ini adalah kearifan lokal yang hampir punah. Dahulu, orang tua kita menggunakannya untuk mengusir aura negatif atau penyakit yang masuk ke desa. Bahannya sangat sederhana, hanya dari pelepah kelapa yang ada di sekitar kita, tapi maknanya sangat dalam tentang perlindungan dan kewaspadaan," ujar Mbah Piet, ketika diminta alasan membuat Tetek Melek

Era saat ini tantangan terbesar adalah minimnya pengetahuan generasi milenial dan Gen Z terhadap fungsi-fungsi magis-sosial dari benda-benda tradisi seperti Tetek Melek. Banyak anak muda yang tidak lagi mengenali bentuk apalagi maknanya.

Dalam rangkaian BJBfest 2026 yang didukung oleh Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan RI, Tetek Melek dipamerkan kembali secara luas. Tidak hanya dipajang, festival ini juga memberikan ruang bagi pengunjung untuk berinteraksi dan mempelajari proses pembuatannya.

https://www.kampungadat.com/2026/04/tetek-melek-simbol-kewaspadaan-pelestari-tradisi-penolak-bala-di-bjbfest-2026.html

"Kami tidak ingin pengetahuan ini mati di tangan generasi sekarang. Dengan menampilkannya di BJBfest, kami ingin memberi tahu anak-anak muda bahwa leluhur kita punya sistem pertahanan diri yang cerdas dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk saat menghadapi pagebluk," Ujar Kusnadi disela-sela kesibukan Panitia menyongsong terselenggaranya Festival BJBfest2026.

Penempatan Tetek Melek di sepanjang rute festival bersanding dengan lapak-lapak gastronomi dan panggung Ludruk Organik menciptakan suasana "Jaman Biyen" yang otentik. Hal ini selaras dengan tema besar festival tahun ini, yakni "Rekonsiliasi Budaya di Tanah Adat".

Kusnadi, menambahkan bahwa menghadirkan kembali Tetek Melek adalah cara warga untuk bersyukur karena telah melewati masa pandemi yang sulit beberapa tahun lalu. "Ini seperti mengingatkan kita kembali, bahwa setelah pagebluk Covid kemarin, kita harus tetap melek (waspada) dan terus bergotong royong agar desa tetap aman," tuturnya.

Melalui BJBfest 2026, Tetek Melek kini kembali menemukan "panggungnya". Ia bukan lagi sekadar pelapah kelapa yang terbuang, melainkan saksi bisu keuletan budaya masyarakat Jabung dalam menjaga harmoni dan menolak segala bentuk marabahaya di tanah adat mereka.

 

https://www.kampungadat.com/2024/07/menjaga-warisan-budaya-kisah-mbah-mat.html


Di tengah gempuran modernisasi yang tak kenal ampun, masih ada mereka yang gigih menjaga warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah Mbah Mat Darip, seorang perajin bambu berusia 76 tahun dari dusun Busu, Slamparejo, Jabung, Kabupaten Malang. Dengan tangan terampilnya, Mbah Darip telah mengukir sejarah melalui karya-karya anyaman bambu yang tidak hanya mengagumkan tetapi juga penuh nilai.


Mbah Darip, yang telah menggeluti dunia anyaman bambu selama puluhan tahun, dikenal sebagai ahli dalam menciptakan berbagai bentuk alat dapur tradisional. Dari Kalu, dunak, Entik, Keroncongan, tompo, tampeh, bajong, wakul, hingga alat-alat dapur lainnya, semuanya dibuat dengan kecintaan dan dedikasi yang besar. Menggunakan bahan alami seperti bambu dan Penjalin, Mbah Darip tetap setia pada metode tradisional, meskipun banyak perajin lain yang telah beralih menggunakan tali dari plastik.

“Bambu dan Penjalin bukan hanya bahan, tapi juga bagian dari jiwa karya ini,” ujar Mbah Darip dengan mata berbinar. “Setiap anyaman adalah doa, harapan agar yang menggunakan merasakan kehangatan dari alat tradisional ini.”

Keahliannya tidak diragukan lagi, setiap anyaman yang dihasilkan Mbah Darip adalah bukti nyata dari ketekunan dan kecintaannya pada budaya tradisional. Kualitas karyanya yang terjaga dengan baik menjadi bukti bahwa penggunaan bahan alami tidak kalah dari material modern seperti plastik.

Imbas modernisasi dalam penggunaan plastik yang tidak ramah lingkungan namun murah ini lah, menjadikan keahlian para maestro anyaman tradisional semakin terpinggirkan. Semakin berkurangnya masyarakat yang menggunakan alat-alat tradisional ramah lingkungan, beralih ke alat rumah tangga yang murah berbahan plastik.

Di era digital ini, karya-karya tradisional seperti yang dibuat oleh Mbah Darip menjadi semakin langka. Namun, Mbah Darip tidak kehilangan harapan. Beliau percaya bahwa dengan terus memproduksi dan mempertahankan kualitas, anyaman bambu tradisional akan tetap bertahan dan dicintai oleh generasi mendatang.

“Saya berharap, melalui tangan-tangan muda, warisan ini bisa terus hidup. Mereka harus tahu bahwa keindahan dan kegunaan dari anyaman bambu tidak tergantikan,” tambahnya dengan semangat.

Mbah Darip Meski terlihat bersemangat atas keilmuannya akan selalu lestari, namun ketiadaan masyarakat yang menggunakan keahliannya dalam bentuk membeli atau memesan alat-alat tradisional karya beliau, menjadikan sedikit pengetahuan Mbah Darip berkurang, karena telah lama tidak membuat.

https://www.kampungadat.com/2024/07/menjaga-warisan-budaya-kisah-mbah-mat.html

“Saya sudah sedikit lupa, anyaman model apa yang di pakai untuk membuat Entik, ya karena lama tidak membuat Entik” imbuhnya.

Kisah Mbah Mat Darip adalah pengingat bagi kita semua bahwa modernisasi tidak selalu harus mengorbankan warisan budaya. Melalui dedikasi dan cinta pada budaya, warisan leluhur dapat terus hidup dan dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Mbah Darip tidak hanya menjaga warisan budaya tetapi juga kelestarian alam. Bambu, sebagai bahan utama karyanya, adalah sumber daya alam yang ramah lingkungan. Pertumbuhannya yang cepat dan kemampuannya untuk mengurangi emisi karbon menjadikan bambu pilihan yang berkelanjutan.

Dengan memilih bambu dan Penjalin sebagai bahan utama karyanya, Mbah Darip secara tidak langsung turut serta dalam upaya pelestarian lingkungan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua bahwa dalam setiap karya, ada tanggung jawab terhadap alam.

Kisah Mbah Mat Darip tidak hanya tentang menjaga warisan budaya, tetapi juga tentang bagaimana seorang individu dapat menginspirasi banyak orang. Melalui karya dan dedikasinya, Mbah Darip telah membuktikan bahwa kecintaan pada budaya dan lingkungan dapat membawa dampak yang besar.


Generasi muda, dengan semua sumber daya dan teknologi yang tersedia, memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Mbah Darip. Dengan menggabungkan warisan budaya dengan inovasi, kita dapat menciptakan sesuatu yang tidak hanya indah tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Mbah Mat Darip, dengan setiap anyaman bambunya, telah menyampaikan pesan penting tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan kelestarian alam. Kisahnya mengingatkan kita semua bahwa dalam setiap tradisi, ada kearifan yang dapat membawa kita ke masa depan yang lebih baik.