Bebarengan Ujudake Sejahteraning Urip
Bersama Mewujudkan Kesejahteraan Hidup
“Bebarengan ujudake sejahteraning urip” — Bersama-sama mewujudkan kesejahteraan hidup.
Di balik rangkaian kata ini tersimpan filosofi luhur masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong, dan semangat untuk saling membantu demi kehidupan yang lebih baik.
🔹 Makna Kebersamaan
Kata "bebarengan" bukan sekadar berarti bersama-sama secara fisik, namun juga secara hati, niat, dan tujuan. Ia mengajak setiap individu untuk tidak berjalan sendiri-sendiri, tapi melangkah bersama, saling mendukung, dan saling menguatkan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
🔹 Tujuan Mulia: Sejahtera
Sementara itu, "sejahteraning urip" atau kesejahteraan hidup tidak hanya diartikan secara materiil, namun juga meliputi ketenangan batin, keamanan, kesehatan, dan hubungan sosial yang harmonis. Kesejahteraan sejati adalah ketika semua lapisan masyarakat bisa hidup dengan layak, adil, dan bahagia.
🔹 Implementasi dalam Kehidupan Desa dan Komunitas
Dalam kehidupan desa atau komunitas, filosofi ini bisa menjadi pedoman utama pembangunan dan kebijakan sosial. Dari program pemberdayaan ekonomi, pengelolaan lingkungan, hingga pendidikan masyarakat — semua akan lebih kuat dan berhasil bila dilakukan secara kolektif.
Seperti pepatah Jawa yang lain mengatakan:
“Sikil kiwa lan tengen kudu bisa mlaku bareng”
(Kaki kiri dan kanan harus bisa melangkah bersamaan).
🔹 Penutup
"Bebarengan ujudake sejahteraning urip" bukan hanya sekadar slogan. Ia adalah ajakan untuk bersatu, bekerja bersama, dan mewujudkan cita-cita hidup yang lebih baik — tidak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk semua.
Mari kita jadikan nilai ini sebagai semangat dalam setiap langkah pembangunan, dari desa, komunitas, hingga bangsa.
🎯 Tujuan dari Logo Branding:
-
Identitas Dusun:
-
Memberikan wajah atau ciri khas visual bagi Dusun Busu dalam berbagai media promosi.
-
-
Meningkatkan Daya Tarik Wisata & Produk Lokal:
-
Logo ini memperkuat branding jika Dusun Busu ingin mengembangkan wisata desa, kuliner tradisional, peternakan, atau kerajinan lokal.
-
-
Menegaskan Nilai-nilai Sosial:
-
Menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Busu menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong, dan kesejahteraan bersama.
-
-
Membuka Kolaborasi Lebih Luas:
-
Logo yang profesional akan memudahkan mitra, investor, maupun turis untuk mengenali dan mempercayai potensi Dusun Busu.
-
Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang adalah salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi luar biasa di bidang pertanian, UMKM, dan pariwisata berbasis lokal. Terletak di bagian timur laut Kabupaten Malang, Jabung dikenal sebagai daerah yang subur, kaya budaya, dan masyarakatnya hidup rukun serta religius.
![]() |
| Peta Kecamatan Jabung 3D |
Artikel ini akan mengulas lengkap tentang profil Kecamatan Jabung, mulai dari geografi, potensi unggulan, hingga peluang wisata dan ekonomi lokal yang semakin berkembang.
✅ Profil Singkat Kecamatan Jabung, Malang
Secara administratif, Kecamatan Jabung terdiri dari 12 desa, di antaranya:
- Jabung
- Pandansari
- Taji
- Kemiri
- Sidomulyo
- Slamparejo
- Argosari
- Kemantren
- Gunungjati
- Sukolilo
- Sukopuro
- Ngadirejo
Wilayahnya didominasi oleh dataran tinggi dan sebagian lereng pegunungan, yang menjadikan Jabung sebagai kawasan yang subur dan cocok untuk sektor pertanian dan perkebunan
🌱 Potensi Pertanian dan Komoditas Unggulan
Salah satu kekuatan utama Kecamatan Jabung Malang adalah sektor pertanian. Beberapa komoditas unggulan dari wilayah ini meliputi:
-
Singkong
-
Padi dan jagung
-
Tebu
-
Kopi di wilayah lereng
-
Sayur-sayuran dataran tinggi
Selain itu, Jabung juga dikenal sebagai daerah dengan produk susu kambing dan sapi perah yang mulai dikembangkan melalui koperasi desa.
🛍️ Perkembangan UMKM dan Ekonomi Lokal
Seiring berkembangnya teknologi dan keterbukaan pasar, UMKM di Jabung mulai tumbuh pesat. Beberapa jenis usaha kecil dan menengah yang berkembang antara lain:
-
Produksi olahan singkong dan keripik
-
Toko kelontong dan sembako
-
Usaha ternak kambing dan sapi
-
Kuliner khas desa Jabung
-
Usaha katering dan snack rumahan
Pemerintah desa dan kecamatan terus mendorong digitalisasi UMKM agar mampu menembus pasar luar daerah dan bahkan e-commerce nasional.
🌄 Wisata Jabung Malang: Alam, Edukasi, dan Religi
![]() |
| Peta Kecamatan Jabung 2D |
Meskipun belum sepopuler destinasi wisata lainnya di Kabupaten Malang, Jabung memiliki daya tarik wisata lokal yang terus dikembangkan, seperti:
-
Gubuk Baca Lereng Mbusu: Ruang edukasi dan wisata literasi di kawasan perbukitan.
-
Wisata Edukasi Pertanian: Belajar bertani dan beternak di desa.
-
Wisata religi: Ziarah makam ulama lokal dan kegiatan keagamaan.
Potensi wisata ini sangat cocok dikembangkan menjadi wisata berbasis masyarakat (community-based tourism) yang ramah lingkungan dan memberdayakan warga.
💡 Harapan Masa Depan Kecamatan Jabung
Dengan sumber daya alam yang melimpah dan masyarakat yang penuh semangat, Kecamatan Jabung berpotensi menjadi:
-
Sentra pertanian dan peternakan organik
-
Kawasan wisata lokal berbasis alam dan budaya
-
Pusat pengembangan UMKM pedesaan di Malang bagian timur
Dukungan infrastruktur, pemasaran digital, dan pelatihan kewirausahaan akan sangat menentukan arah pertumbuhan wilayah ini di masa mendatang.
📌 Kesimpulan
Kecamatan Jabung Kabupaten Malang bukan hanya kawasan agraris, tapi juga wilayah penuh potensi yang siap berkembang. Dengan kekuatan di sektor pertanian, UMKM, dan wisata edukatif, Jabung siap menjadi destinasi unggulan baru di Kabupaten Malang.
Jika Anda mencari desa wisata di Malang, UMKM pedesaan yang berkembang, atau ingin menjajaki peluang investasi di wilayah agraris, Jabung adalah pilihan yang menjanjikan.
Di balik tenangnya alam dan ramahnya penduduk Desa Slamparejo, tersimpan kisah penuh perjuangan dari masa lampau. Sebuah kisah tentang tekad, pengorbanan, dan keberanian seorang pengembara yang kini dikenang sebagai pendiri desa — Mbah Gude.
Berabad-abad silam, Mbah Gude bersama rombongan kecilnya melakukan perjalanan jauh dari tanah Mataram. Tujuan mereka sederhana namun mulia: membuka lahan baru dan membangun kehidupan yang damai. Perjalanan membawa mereka ke sebuah tempat yang kala itu dikenal sebagai Peteguhan, yang kini menjadi wilayah Desa Argosari.
![]() |
| Gambar ini hanya ilustrasi |
Namun, kedatangan mereka tidak diterima dengan hangat. Penduduk Peteguhan merasa terancam dan menolak kehadiran para pendatang baru. Terjadilah pengusiran. Tapi Mbah Gude bukan orang yang mudah menyerah. Ia justru melihat penolakan itu sebagai petunjuk untuk menemukan tanah yang lebih tepat.
Perjalanan pun berlanjut ke arah utara — menuju wilayah yang saat itu masih berupa hutan belantara. Dengan tekad yang tak tergoyahkan, Mbah Gude dan para pengikutnya mulai menebangi pepohonan, membuka jalan di tengah hutan. Mereka menembus lebatnya alam hingga akhirnya menciptakan pemukiman kecil yang diberi nama Busu, berasal dari kata Tembusan, tempat mereka “menembus” rimba demi harapan baru.
Namun, perjuangan belum usai. Tanah di Busu berbukit dan sulit dijadikan lahan pertanian yang luas. Maka mereka kembali melanjutkan perjalanan lebih ke utara. Di sanalah mereka menemui tantangan baru: rawa-rawa yang dalam dan berbahaya. Tak putus asa, mereka mengikatkan tampar (tali) antar pohon untuk bisa menyeberangi rawa secara bergantian — sebuah aksi yang kemudian dikenal sebagai “nylamper”.
Setelah berhasil melewati rintangan alam itu dan membabat hutan di seberangnya, terbentuklah sebuah daerah baru yang dinamai Slampar, dari kata “tampar” yang menjadi simbol perjuangan mereka. Seiring berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi desa yang kini dikenal sebagai Desa Slamparejo.
Dua dusun pun lahir dari perjuangan ini: Dusun Busu yang menjadi saksi awal pembukaan lahan, dan Dusun Krajan yang berkembang seiring dengan bertambahnya penduduk.
Warisan Semangat
Kini, Desa Slamparejo bukan sekadar titik di peta Kecamatan Jabung. Ia adalah warisan sejarah, tempat di mana jejak langkah Mbah Gude terus hidup dalam semangat gotong royong, kerja keras, dan cinta tanah kelahiran. Setiap warga yang menapakkan kaki di desa ini, tanpa sadar telah menjadi bagian dari cerita panjang yang dimulai dari seutas tampar dan tekad yang tak pernah pudar.
Jabung 30/06/2025, Malang — Sungai bukan hanya aliran air, tetapi juga nadi kehidupan masyarakat. Sayangnya, pencemaran sungai kini menjadi ancaman nyata yang tak bisa diabaikan. Untuk menjawab tantangan itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama para kader Sigasspol (Integrasi Pengawasan Sungai Deteksi Sumber Polusi) melangkah lebih jauh: membangun sinergi bersama komunitas anak-anak Gubuk Baca Lereng Busu.
Uniknya, kegiatan ini Kegiatan ini yang menjadi panitia adalah anak anak gubuk baca yg rata rata masih SD dan SMP mulai menyiapkan tempat, sound, makanan minuman suguhan hiburan dll Mereka menjadi jembatan antara kader, masyarakat, dan pemerintah dalam menyuarakan pentingnya menjaga bumi — mulai dari sungai di sekitar rumah sendiri.
Tiga Tujuan Utama yang Dibawa
Penguatan ini dilakukan dengan tujuan yang sangat jelas dan strategis:
-
Meningkatkan Kapasitas KaderPara kader Sigasspol dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mendeteksi dan melaporkan pencemaran lingkungan secara cepat dan akurat. Dengan begitu, langkah penanganan bisa dilakukan lebih sigap.
-
Membangun Jaringan Pengawasan Berbasis MasyarakatDengan melibatkan warga sekitar, terutama generasi muda, terbentuklah jaringan pengawasan lingkungan yang aktif, responsif, dan berkelanjutan.
-
Mendorong Partisipasi MasyarakatKegiatan ini juga bertujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama.
Perwakilan DLH menyampaikan apresiasi atas antusiasme para kader dan anak-anak Gubuk Baca Lereng Busu. Menurut mereka, semangat seperti inilah yang dibutuhkan untuk menggerakkan perubahan dari bawah.
Sementara itu, anak-anak Gubuk Baca Lereng Busu tampil percaya diri dengan membawakan puisi bertema lingkungan dan menyampaikan pesan moral lewat permainan edukatif. Mereka menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa tumbuh sejak dini, bahkan dari tempat sekecil Gubuk Baca Lereng Busu.
Sungai Bersih, Masa Depan Cerah
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para kader Sigasspol makin kuat, masyarakat makin sadar, dan sungai-sungai kita bisa kembali mengalir jernih, membawa kehidupan yang lebih baik. Dan semua itu, dimulai dari langkah kecil: kolaborasi dan kepedulian.
Di tengah gempuran modernisasi yang tak kenal ampun, masih ada mereka yang gigih menjaga warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah Mbah Mat Darip, seorang perajin bambu berusia 76 tahun dari dusun Busu, Slamparejo, Jabung, Kabupaten Malang. Dengan tangan terampilnya, Mbah Darip telah mengukir sejarah melalui karya-karya anyaman bambu yang tidak hanya mengagumkan tetapi juga penuh nilai.
Mbah Darip, yang telah menggeluti dunia anyaman bambu selama puluhan tahun, dikenal sebagai ahli dalam menciptakan berbagai bentuk alat dapur tradisional. Dari Kalu, dunak, Entik, Keroncongan, tompo, tampeh, bajong, wakul, hingga alat-alat dapur lainnya, semuanya dibuat dengan kecintaan dan dedikasi yang besar. Menggunakan bahan alami seperti bambu dan Penjalin, Mbah Darip tetap setia pada metode tradisional, meskipun banyak perajin lain yang telah beralih menggunakan tali dari plastik.
“Bambu dan Penjalin bukan hanya bahan, tapi juga bagian dari jiwa karya ini,” ujar Mbah Darip dengan mata berbinar. “Setiap anyaman adalah doa, harapan agar yang menggunakan merasakan kehangatan dari alat tradisional ini.”
Keahliannya tidak diragukan lagi, setiap anyaman yang dihasilkan Mbah Darip adalah bukti nyata dari ketekunan dan kecintaannya pada budaya tradisional. Kualitas karyanya yang terjaga dengan baik menjadi bukti bahwa penggunaan bahan alami tidak kalah dari material modern seperti plastik.
Imbas modernisasi dalam penggunaan plastik yang tidak ramah lingkungan namun murah ini lah, menjadikan keahlian para maestro anyaman tradisional semakin terpinggirkan. Semakin berkurangnya masyarakat yang menggunakan alat-alat tradisional ramah lingkungan, beralih ke alat rumah tangga yang murah berbahan plastik.
Di era digital ini, karya-karya tradisional seperti yang dibuat oleh Mbah Darip menjadi semakin langka. Namun, Mbah Darip tidak kehilangan harapan. Beliau percaya bahwa dengan terus memproduksi dan mempertahankan kualitas, anyaman bambu tradisional akan tetap bertahan dan dicintai oleh generasi mendatang.
“Saya berharap, melalui tangan-tangan muda, warisan ini bisa terus hidup. Mereka harus tahu bahwa keindahan dan kegunaan dari anyaman bambu tidak tergantikan,” tambahnya dengan semangat.
Mbah Darip Meski terlihat bersemangat atas keilmuannya akan selalu lestari, namun ketiadaan masyarakat yang menggunakan keahliannya dalam bentuk membeli atau memesan alat-alat tradisional karya beliau, menjadikan sedikit pengetahuan Mbah Darip berkurang, karena telah lama tidak membuat.
Kisah Mbah Mat Darip adalah pengingat bagi kita semua bahwa modernisasi tidak selalu harus mengorbankan warisan budaya. Melalui dedikasi dan cinta pada budaya, warisan leluhur dapat terus hidup dan dinikmati oleh generasi yang akan datang.
Mbah Darip tidak hanya menjaga warisan budaya tetapi juga kelestarian alam. Bambu, sebagai bahan utama karyanya, adalah sumber daya alam yang ramah lingkungan. Pertumbuhannya yang cepat dan kemampuannya untuk mengurangi emisi karbon menjadikan bambu pilihan yang berkelanjutan.
Dengan memilih bambu dan Penjalin sebagai bahan utama karyanya, Mbah Darip secara tidak langsung turut serta dalam upaya pelestarian lingkungan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua bahwa dalam setiap karya, ada tanggung jawab terhadap alam.
Kisah Mbah Mat Darip tidak hanya tentang menjaga warisan budaya, tetapi juga tentang bagaimana seorang individu dapat menginspirasi banyak orang. Melalui karya dan dedikasinya, Mbah Darip telah membuktikan bahwa kecintaan pada budaya dan lingkungan dapat membawa dampak yang besar.
Generasi muda, dengan semua sumber daya dan teknologi yang tersedia, memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Mbah Darip. Dengan menggabungkan warisan budaya dengan inovasi, kita dapat menciptakan sesuatu yang tidak hanya indah tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Mbah Mat Darip, dengan setiap anyaman bambunya, telah menyampaikan pesan penting tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan kelestarian alam. Kisahnya mengingatkan kita semua bahwa dalam setiap tradisi, ada kearifan yang dapat membawa kita ke masa depan yang lebih baik.
![]() |
| Cok Bakal/ubo rampe dalam prosesi ritus pertanian Wiwitan. |
Kehidupan manusia sangat bergantung dengan ketersediaan
pangan, dan di Nusantara kebudayaan dalam penyediaan pangan telah diwariskan
secara turun temurun. Pengetahuan tradisional dalam merawat lahan dan
pengetahuan terhadap jenis bahan pangan beraneka ragam. Dalam tradisi Jawa,
kearifan dalam mendapatkan bahan makanan menjadi suatu pengetahuan yang mesti
terus ditularkan dan regenerasikan.
Salah satu kearifan pertanian kita yang mengisaratkan rasa Syukur
kepada alam, kepada Tuhan sang pemberi kesejahteraan adalah tradisi Wiwitan. Tradisi
Wiwitan merupakan awal petani memetik hasil sawah (padi) sebelum panen
dilakukan. Dalam proses pemetikan padi, petani mempunyai kearifan tradisi yang
telah turun temurun diwariskan. Wiwitan dalam bahasa jawa mempunyai arti awal
atau pertama, yang mana sebuah ritual awal petik padi dilakukan dengan diiringi
doa Syukur kepada tuhan yang ESA.
Proses Wiwitan dilakukan dengan pertimbangan hari baik, yang
mana adalah suatu kearifan dan pengetahuan tradisional yang kini langka. Perhitungan
itu ditunjukan pada jumlah tangkai padi yang dipetik dalam prosesi wiwitan
(awal/pertama) sebelum panen padi dilakukan. Perhitungan itu disesuaikan dengan
jumlah hari pasaran. Semisal panen jatuh pada hari Senin (5) Legi (4) jadi
tangkai padi yang dipetik dalam prosesi wiwitan berjumlah sembilan (9) tangkai.
Sebelum prosesi petik tangkai padi, petani dan tukang ujub
(modin) melakukan ritual doa yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
karunia limpahan rejeki tanaman padi. Sebelum doa dimulai Modin menyiapkan Cok
Bakal lengkap.
Cok bakal diletakan di pojok sawah diatas pematang sawah
(galengan). Setelah itu doa islam jawa dirapalkan. Di dahului doa keselamatan
dengan bahasa arap dan dilanjutkan dengan rapal jawa.
Dalam prosesi wiwitan ini, rapal (jawa) merujuk pada rasa
sukur dan terimakasih kepada Tuhan yang maha Esa. Setelah itu dan dilanjutkan
menyebut Mbah Sri Sedono (Dewi Sri) dan Joko Sedono yang dalam mitos jawa
sebagai pembawa benih untuk kehidupan di bumi. Doa rapal yang biasanya dipakai
oleh masyarakat antaralain sebagai berikut.
"Bismillahirohmanirohim, ngalkamdulillah hirobilalamin,
matur nuwun Gusti kang moho agung, kang sampun peparingan katahe rejeki
keselamatan pinaringan ing jagat. Matur nuwun Mbah Sri Sedono, Joko Sedono
dipun wiwiti metik rejeki saking Allah Ta'ala. Mandelo rejekine dibeto wangsul
dipapak aken lumbung selayur. Mugi mugi damel murakapi keluarga kulo. Allahu
amin.
Setelah doa dirapal, petani pemilik lahan atau modin memetik
tangkai padi sejumlah hari pasaran. Dengan begitu acara panen bisa
dilaksanakan. Tangkai padi yang telah dipetik pertama kali dalam prosesi
wiwitan seterusnya dibawah pulang oleh pemilik lahan, dan biasanya dipasang
atau ditempelkan ditembok rumah.
Hal ini sebagai harapan bahwa nantinya rejeki akan selalu
mengalir ke dalam rumah sang pemilik sawah. Juga sebagai simbol atau pepiling
(pengingat) karunia rejeki dari Tuhan yang maha Esa. Dengan ditempel dirumah
harapannya ketika pemilik sawah melihat untaian padi ditembok akan selalu
mengucap sukur kepada Tuhan yang Esa.
![]() |
| Prosesi injak telur dalam tradisi pernikahan Loro Pangkon |
A : “Assalamualaikum.”
B : “Waalaikumsalam. Teja-teja sulaksana, tejane wong anyar
katon. Ilang tejane cumlorot saksada lanang, jumleger kari menungsane. Dherek
niku sinten namine?”
A : “Nami kula Pak Cukup, yogane Pak Turah. Tegese cukup
sing disandang lan dipangan nganti turah-turah.”
B : “Lha sampeyan niki saking pundi pinangkane?”
A : “Kula saking Suralaya Adilinuwih. Sura tegese wani, laya
pati, adi bagus, linuwih samubarang kalire. Lajeng panjenengan menika sinten,
lan niki dusun pundi?”
B : “Nami kula Darmojulig. Darmo niku temen, Julig niku duta
perwakilan, lan niki dusun Karang Kadempel. Tebih saking Suralaya dumugi Karang
Kadempel mriki, menapa ingkang sampeyan padosi, Dhik?”
A : “Madosi griyane mbok rondo sing gadhah petetan pitik
dara, aran Sekar Jaya Mulya, ingkang dereng rontok sarine.”
B : “Lha nggih niki Dhik, sing sampeyan padosi. Cocok nggih
niki.”
A : “Niku jenenge mapan kabeneran, dapur kaleresan.”
B : “Wonten paribasane, tumbu oleh tutup, bantal oleh
guling. Tebih saking Suralaya, liwat dalan pundi sampeyan wau, Dhik?
Percakapan diatas adalah, sepotong percakapan yang dilakukan
pada prosesi temu dalam pernikahan Jawa, yang mana dewasa ini, sangat jarang
kita temui di prosesi pernikan di sekitar kita. Tradisi yang sangat elok untuk
terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari pemanfaatan objek pemajuan
kebbudayaan seperti yang telah di amanahkan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan
No. 5 tahun 2017. Percakapan diatas biasanya
disebut Loro Pangkon. Namun begitu, ada beberapa pendapat bahwa Loro Pangkon
adalah seluruh jalannya ritual dalam pernikahan itu yang disebut Loro Pangkon. Di
dalam tulisan ini, dan dengan minimnya pengetahuan penulis berupaya untuk
mencoba mengemukakan norma-norma tradisi yang ada dalam tradisi Loro Pangkon,
berdasar obrolan dengan beberapa sesepuh di dusun Busu, dan sesepuh di Jabung.
Perjumpaan penulis dengan Tradisi Loro Pangkon ini, saat
menetap dan tinggal di di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung,
Kabupaten Malang. saat itu, pertama kali penulis merasa takjub dan semangat
dalam mengikuti pernikahan, dikarenakan pernikahan kawan yaitu Kholis pada
bulan desember tahun 2019 yang lalu dilangsungkan dengan membawakan adat tradisi
jawa dengan Loro Pangkon.
Meski tradisi ini masih banyak dilestarikan di beberapa
daerah, terutama di Jawa Timur, namun saat ini, sepengetahuan penulis tradisi Loro
Pangkon sudah tidak banyak dipakai dalam resepsi pernikahan di masyarakat
Malang, terutama di perkotaan.
Selain prosesi pernikahan menjadi Panjang, biaya untuk
melangsungkan prosesi Tradisi Loro Pangkon ini akan mahal ditanggung keluarga
mempelai. Namun berbeda bila resepsi pernikahan ini mendapat dukungan warga
tetangga atau kerabat, maka ritual Loro Pangkon akan berjalan sangat sakral dan
membawa kebahagiaan bagi mempelai dan keluarga karena masyarakat akan ikut
andil membantu kelancaran prosesi Loro Pangkon ini.
Meski mulai banyak di tinggalkan, untuk di ketahui bahwa Tradisi
ini memiliki makna filosofis yang sangat mendalam dan sarat akan nilai-nilai
budaya Jawa, yang bisa menjadi pembelajaran norma-norma Bagai kita, maupun
generasi muda saat ini.
![]() |
| Cak Min memegang Replika Ayam Jago dalam tradisi Loro Pangkon |
Arti dan Makna Loro Pangkon
Loro Pangkon berasal dari kata "loro" yang berarti
dua dan "pangkon" yang berarti pangkuan. Jadi, Loro Pangkon dapat
diartikan sebagai dua pangkuan. Makna filosofisnya adalah bahwa dalam
pernikahan Jawa, kedua mempelai akan duduk di dua pangkuan yang berbeda, yaitu
pangkuan orang tua pengantin pria dan pangkuan orang tua pengantin wanita. Hal
ini melambangkan bahwa kedua mempelai telah meninggalkan pangkuan orang tuanya
dan kini memulai kehidupan baru sebagai keluarga yang mandiri.
Berikut adalah beberapa proses pelaksanaan tradisi Loro
Pangkon yang saya dapati dalam pengamatan pernikahan sahabat saya Kholis.
1. Petuk Jago/ Seserahan. Disini para pengiring yang membawa berbagai barang pecah belah, hingga bantal dan tikar, akan di sambut oleh perwakilan tuan rumah, atau perwakilan mempelai pria atau Perempuan, tergantung prosesi ini dilaksanakan dari kedua pihak. Disinilah yang menarik, dan akan menjadi tontonan warga, karena ada percakan Loro Pangkon Dimana dengan membawakan sebuah patung Ayam Jago. Prosesi ini sebagai sarat awal kedua mempelai untuk melangkah ke proses selanjutnya.
2. Upacara Siraman: Pengantin pria dan wanita dimandikan dengan air yang dicampur dengan berbagai macam bunga dan daun-daunan. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri dari segala kotoran dan kesialan sebelum memasuki kehidupan pernikahan.
3. Midodareni: Pada malam hari sebelum akad nikah, pengantin pria dan wanita dipisahkan dan diasingkan di dua tempat yang berbeda. Pengantin pria biasanya diasingkan di rumah kerabat dekat, sedangkan pengantin wanita diasingkan di rumah orang tuanya. Upacara Midodareni bertujuan untuk memberikan waktu bagi kedua mempelai untuk merenungkan diri dan mempersiapkan diri secara mental sebelum menikah.
4. Akad Nikah: Pada hari akad nikah, pengantin pria dijemput oleh keluarga pengantin wanita dan diarak menuju tempat akad nikah. Sesampainya di tempat akad nikah, pengantin pria akan duduk di pangkuan ayah pengantin wanita dan mengucapkan ijab kabul. Setelah ijab kabul, pengantin pria dan wanita resmi menjadi suami istri.
5. Resepsi Pernikahan: Setelah akad nikah, biasanya diadakan resepsi pernikahan untuk merayakan pernikahan kedua mempelai. Resepsi pernikahan biasanya dihadiri oleh keluarga, kerabat, dan teman-teman kedua mempelai.
Tradisi Loro Pangkon mengandung beberapa nilai-nilai budaya
Jawa yang penting, antara lain:
- Penghormatan
kepada orang tua: Tradisi ini menunjukkan rasa hormat kepada orang tua
kedua mempelai yang telah membesarkan dan mendidik mereka.
- Mengenal
makna Norma pernikahan: Selain mempe
- Kesucian
pernikahan: Tradisi ini melambangkan kesucian pernikahan dan tekad
kedua mempelai untuk menjalani kehidupan pernikahan dengan penuh tanggung
jawab.
- Keseimbangan:
Tradisi ini melambangkan keseimbangan antara peran laki-laki dan perempuan
dalam pernikahan.
- Gotong
royong: Tradisi ini menunjukkan nilai gotong royong dalam masyarakat
Jawa, di mana keluarga dan kerabat bahu-membahu membantu pelaksanaan
pernikahan.
![]() |
| Kadang, peran mereka tidak tampak (tak mau tampak) tapi dari mereka sebuah kesuksesan ritual Loro Pangkon berjalan dengan semestinya... |
Yang menarik dari tradisi ini adalah Barang bawaan/Seserahan
yang dibawa oleh para pengiring mempelai, dalam pengamatan penulis barang
bawaan ini menguatkan apa yang telah di
wedar pada Loro Pangkon diawal pembuka prosesi pernikahan ini. Barang bawaan ini bukan hanya sekadar benda,
tetapi memiliki arti dan makna tertentu yang berkaitan dengan harapan dan doa
bagi kehidupan pernikahan yang akan dijalani. Berikut beberapa contoh barang
bawaan dalam tradisi Loro Pangkon:
- Jarang
Goyang: Sebuah kipas yang terbuat dari bulu ayam atau merak. Simbol
ini melambangkan kesejukan dan ketenangan dalam rumah tangga.
- Payung:
Melambangkan perlindungan bagi keluarga dari segala rintangan dan bahaya.
- Jodang
dan Ongkek: Wadah yang berisi berbagai macam peralatan dapur. Simbol
ini melambangkan kesiapan pengantin wanita untuk mengurus rumah tangga.
- Bantal
dan Guling: Melambangkan keharmonisan dan kebersamaan dalam
pernikahan.
- Uang:
Simbol kemakmuran dan kecukupan dalam kehidupan pernikahan.
- Makanan
Tradisional: Biasanya berupa jajanan pasar dan kue-kue tradisional
yang melambangkan kesuburan dan kelimpahan.
- Cok
Bakal/Ubo Rampe: Sesaji yang dipersembahkan kepada leluhur sebagai
bentuk penghormatan dan doa restu.
- Hasil
Bumi: Berbagai macam hasil bumi seperti padi, jagung, dan buah-buahan
melambangkan kesuburan dan kelimpahan rezeki.
- Uang
Sumbangan: Simbol gotong royong dan kepedulian keluarga dalam membantu
kelancaran pernikahan.
Tradisi Loro Pangkon saat ini sudah jarang dilakukan dalam
pernikahan-pernikahan di wilayah perkotaan, meski masih ada yang melestarikan
dengan menampilkan tradisi ini oleh beberapa masyarakat, terutama di pedesaan.
Namun, dengan modernisasi dan globalisasi, tradisi ini mulai mengalami beberapa
perubahan. Diantara bentuk perubahan tradisi ini bis akita lihat dalam Upacara
Midodareni yang dulunya bisa berlangsung selama beberapa hari, kini hanya
dilakukan selama beberapa jam. Pengantin Jawa saat ini tidak lagi selalu
menggunakan busana pengantin tradisional, tetapi juga menggunakan busana modern
seperti gaun pengantin dan jas.Beberapa prosesi pernikahan Jawa yang rumit dan
memakan waktu, seperti prosesi panggih pengantin, saat ini mulai
disederhanakan.
Meskipun mengalami beberapa perubahan, tradisi Loro Pangkon
tetap menjadi salah satu bagian penting dalam budaya pernikahan Jawa. Tradisi
ini merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan dan dijaga agar tidak
punah. Melestarikan tradisi ini berarti menjaga warisan budaya leluhur dan
menanamkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan pernikahan.
Kampung Adat | Hari itu, Minggu pagi suasana di dusun Busu, desa Slamparejo, Kec. Jabung, Kab Malang ini sedikit berbeda. Kondisi pandemic yang mengharuskan masyarakat dan dunia pendidikan “mandek” dan beralih ke media pembelajaran daring, akan tetapi pagi itu, banyak anak-anak dengan riang berlari dan bergurau dengan memakai pakaian seragam sekolah. Seperti bukan hari libur di minggu, anak-anak itu terlihat sangat antusias dan penuh kegembiraan memakai seragam merah putih dan menenteng bendera dengan tongkat kayu, (13/9/2020).
Puluhan murid sekolah itu bukannya akan melakukan aktivitas belajar disekolah, tapi mereka berkumpul di Kampung Tretek untuk meramaikan suatu hajat dari muda-mudi penggerak literasi di dusun Busu ini. Sebuah acara Seminar Kampung akan dilaksanakan di Balai Dusun Busu yang lokasinya berada di timur dari masjid Busu. Dengan tegap dengan sembari bergurau puluhan anak-anak berbaju seragam sekolah dasar ini berlatih berbaris dengan masing-masing anak memegang bendera. Dari kejauhan terlihat sangat unik dan mengundang banyak pasang mata warga kampung tretek untuk mendekat melihat apa yang dilakukan adik-adik itu.
Matahari semakin beranjak dewasa (tinggi), pukul 8.00 wib sinar cahaya kekuningan mentari itu menambah kegembiraan adik-adik yang masih penuh semangat dengan bendera-bendera itu. Tidak berapa lama, mulai berdatangan adik-adik lainnya, kebanyakan anak-anak perempuan. Kedatangan adik-adik perempuan ini tak kalah menariknya dari anak sekolah dengan bendera merah putih yang sejak awal sudah wira wiri di jalan kampung Tretek. Sorotan-sorotan kagum kepada adik-adik perempuan ini, hal ini lantaran apa yang dikenakan oleh sepuluh (10) adik-adik dari Gubuk Lereng Busu ini, mereka semua mengenakan pakaian warna-warni yang unik, iya pakaian kreasi daur ulang dari sampah plastic.
Pemandangan itulah yang menjadikan suasana pagi hari di jalan yang bersih dan berpaving itu meriah, gelak tawa renyah dari masyarakat, candaan adik-adik menambah kebahagiaan suasana yang damai di dusun Busu pagi hari itu. Singkatnya, adik-adik berseragam dan yang berpakaian daur ulang sampah itu nantinya akan melakukan “kirap Alit” yang akan dipandu oleh dua penari Topeng Jabung. Wuaah, sungguh akan menjadikan hari minggu yang sangat berbeda di awal September ini.
Cobalah kakak-kakak bayangkan, bagaimana gairah bahagia yang akan di dapatkan adik-adik yang bisa meramaikan dan menyumbangkan sedikit tenaganya untuk dusun tercintanya, hanya bermodal gembira dan tentunya bangun pagi lah.
Dan seperti yang telah tertulis di panflet pengumunan yang sudah tersebar di media social Facebook, grup-grup washap, dari mulut ke mulut bahwa pukul 8.30 wib acara Seminar Kampung di mulai. Benar juga, para pendamping adik-adik tadi mulai mengaba-aba mereka berkumpul di ujung jalan di bawah pohon Klengkeng, para pendamping ini semua berseragam dengan tulisan besar di pakainnya “Paguyupan Arek Busu”, wuah benar-benar pencerminan bahwa muda mudi dusun Busu selalu kompak. Bukan hanya mereka yang berserakam PAB, pendamping ini juga ada yang dari mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang loh, setahu kakak, mereka memang telah berapa minggu atau sebulan terakhir ini melakukan KKN (kuliah kerja nyata) di dusun ini, KKN memang istilah jadul buat mahasiswa yang turun kebawah (Turba) dan melakukan pendampingan ataupun membantu masyarakat dengan mengaplikasikan teori pengalaman mereka yang didapatkan selama makan bangku kuliah, itu pemahaman lama ya, nah kalau istilah barunya adalah PMM, kakak saja baru tahu loh PMM itu adalah Pengabdian Mahasiswa untuk Masyarakat.
Dan mereka, 6 mahasiswa yang semua cantik dengan kerudung eeh jilbab ini ternyata adalah penggagas pakaian daur ulang sampah plastic yang di kenakan adik-adik itu loh. Wuah sangat brilian ide itu menurut kakak, setelah Tanya kanan kiri, ternyata konsep pakaian daur ulang ini adalah salah satu cara mbak mahasiswa untuk berkampanye pentingnya menjaga alam dari limbah sampah, khususnya sampah plastic.
Wuaah sangat dalam yang dilakukan oleh mahasiswa PMM Baktimu Negri ini, pinginnya kakak menulis lebih panjang tentang apa yang dilakukan mereka di dusun Busu ini, tapi mungkin akan kakak sambung ditulisan yang lain, kakak berfikir apa yang dikampanyekan mahasiswa ini sangat brilian dan memang permasalahan sampah sudah semakin akut di dusun ini, tapi nanti ya ditulisan lain, sekarang kita bergembira dulu saja dengan giat pagi minggu itu.
Gak percaya, kakak bahagia banget loh, akhirnya kakak bisa langsung menyaksikan Mbak mahasiswa yg cantik tadi itu sedang merapikan dan mengenakan pakaian daur ulang kepada adik-adik dihalaman rumah Pak De Kus (Abit). Dirumah itu juga sedang duduk Ibu Umul Azizah beserta suaminya di ruang tamu bersama Pak De Abit. Oh iya, Bu Azizah ini yang nantinya akan menjadi narasumber di Seminar Kampung bersama Ibu Wilda Fizriyani yang diadakan di Balai Dusun Busu, hal ini juga lantaran tahu kakak bertanya pada Ratna temen sekolahku yang juga pagi itu menjadi panitia seminar ini.
Oh ya, baru tahu kalau di ruang sebelah rumah Pak De Abita ada dua orang yang sedang berganti pakaian tari, kata Ratna lagi, mereka ini adalah kakak-kakak dari Republik Gubuk Jabung. “itu yang brewok ganteng namanya kak Majid, dan satunya itu Kak Faris mereka guru tari adik-adik disini dan Pembina dari Republik Gubuk” gitu kata ratna menjelaskan ke kakak. Tapi tahu gak, waktu ngomong itu muka ratna memerah loh. Bahagia kali ya punya guru tari ganteng-genteng gitu. Oh ya, suasana makin rame di halaman rumah itu, di tambah Pak De abit memberitahu kalau sudah harus jalan ke balai dusun. Adik-adik gembira mendengar itu, mbak Mahasiswa juga terlihat cekatan merapikan da nada yang mulai mengarahkan adik-adik melangkah berkumpul ke ujung jalan.
Tak disangka, di Klengkeng sudah berjajar rapi adik-adik berdiri dengan bendera merah putih tadi, dan adik-adik perempuan yang mengenakan pakaian daur ulang sampah ini menyusun barisan di depannya. Penari topeng berpakaian merah tadi langsung melangkah ke depan barisan loh, ooh ternyata menjadi pembuka jalan di kirap alit yang aku baca di panflet acara yang aku dapat di grup fb. Tak berapa lama sih eeh tahunya Ibu pemateri sudah ada disitu bersama Pak De Abit. Dan kakak baru sadar bahwa kirap alit ini bagian dari seminar kampung, karena tahu Ibu pemateri ikut dalam kirap berjalan ke balaidusun. Jadi teringat buku yang pernah kakak baca, dalam buku itu bercerita bahwa dahulu seorang putri ataupun orang penting di kerajaan, kalau dalam lawatan atau bepergian selalu di kawal dengan kirap prajurit begitu.
Entah siapa yang mengkonsep acara ini, yang jelas kakak yakin bahwa kirap adik-adik ini adalah suatu penghargaan dan apresiasi kepada Ibu pemateri, ya di muliakan seperti putri kerajaan yang pernah aku baca itu.
Dani teman bermainku dari kampung kidul (selatan) dan cak Kin terlihat jeprat jepret mengabadikan momen adik-adik yang sudah mulai berjalan, sungguh ramai sekali pokonya minggu pagi itu. Banyak masyarakat dan tetangga yang menyaksikan dengan teriak-teriak atau memanggil adik-adik yang sedang kirap. Kakak mengikuti rombongan ini dengan melangkah hati-hati karena jalan paving saat itu seperti tidak muat, dan akhirnya kakak berjalan minggir sekali.
Sampai di depan warung Pak Karneli suara dentuman music terdengar keras, dan ternyata itu dari mobil miniature yang diseret. Aku kira mereka ini sedang berkegiatan sendiri dengan mobil dan sound system, istilah terkenalnya sih cek sound. Tapi yang membuat aku semakin kagum dan kaget, ternyata…tahu gak, miniature mobil sebesar setengah dari ukuran gerobak itu juga menjadi bagian pengiring music bagi rombongan kirap.
Duuh, aduh pokonya seneng deh lihatnya, kakak tahu kalau mobil kecil itu memang ikut kirap lantaran alunan gamelan dari soundnya ternyata langsung di tangkap oleh kakak penari topeng berpakaian merah itu. Pokonya suasana jadi makin meriah, dan kakak sempat terpaku loh melihat kedua penari itu, sangat gagah..gagah banget seperti pemain pemain film Superhero dari amerika loh. Kedua penari berjalan didepan disusul iringan adik-adik membawa bendera dan diteruskan adik dengan pakaian plastic, rombongan ini mencuri perhatian warga BUsu yang pagi itu banyak beraktifitas di luar. Jalan aspal didepan masjid jadi macet oleh keriangan adik-adik. Cahaya sinar mentari pagi itu menambah jumlah rombongan kirap, bayang bayang adik-adik tercetak jelas di aspal yang mulai panas itu.
Ratna, Lisa, Dina dan lainnya semua terlihat sibuk dengan makin dekatnya rombongan kirap yang mengawal ibu pemateri. Dan betul sekali, semua teman yang kesemua memakai kaos bewarna biru dongker dengan gambar peta Busu di punggung ini, banyak berkumpul di depan balai dusun, mereka menyongsong rombongan adik-adik yang sedang kirap.
Oh ya lantaran kakak tidak bermasker dan pagi itu sedang harus ke pasar, maka kakak tidak mengikuti hingga adik-adik dan rombongan kirap masuk ke balai dusun busu. Kakak kembali ke kampung treteg mengambil sepeda motor dan langsung cus ke pasar Jabung. Sampai disini ya ceritaku tentang kegembiraan di dusun Busu pada minggu kemarin, mungkin nanti kalau sempat dan ketemu Pak De abit, kakak akan banyak Tanya tentang acara Seminar Kampung dengan dua narasumber dari kota malang itu. Terima kasih busu, yang minggu kemarin membahagiakan dengan kirap adik-adik berpakaian dari sampah itu. Kakak yakin kok, pakaian dari sampah itu akan menjadi satu pelajaran, bahwa sampah bisa menjadi manfaat atau mudhorot tergantung kita menyikapinya. Mau memanfaatkan atau membuangnya ke sembarang tempat. Terima kasih..
penulis adalah warga busu, yang sekarang sedang menempuh dunia DO dan menjadi Petani Keren
Kampung Adat | Seminar Kampung (SK) adalah sebuah gagasan dalam pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang di gagas oleh generasi muda dusun Busu, desa Slamparejo, Kecamatan Jabung bersama para penggiat Republik Gubug. Seminar Kampung ini adalah membuat ruang diskusi dan dialog secara sederhana dengan menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya. Seminar Kampung akan di adakan rutin setiap sebulan sekali dengan pemateri yang berbeda. Dan dusun Busu akan memulainya dengan Seminar Kampung yang pertama, dengan pembahasanan persoalan wanita dan Karir.
Dalam Seminar Kampung yang pertama ini, akan dihadiri oleh wanita yang akan menjadi narasumber, mereka adalah wanita wanita yang sukses didalam karir pekerjaannya. Dua wanita cantik yang akan menjadi narasumber dalam SK pertama ini adalah Wilda Fizriyani (Jurnalis Harian Republika dan Republika Online) dan Umul Azizah (Area funding dan Transsation Manager Bank Syariah Mandiri area Malang). Dalam SK ini nantinya masyarakat akan mengetahui bagaimana seorang wanita yang dikenal dengan kelembutannya ini bisa meraih karir yang maksimal.
Dalam kehidupan di masyarakat, Wanita terkadang masih dianggap sebagai mahluk yang lemah, atau bisa dibilang mahluk yang hanya bisa berkarya di rumah saja, atau banyak anggapan wanita hanya mengekor pada laki-laki dan dipandang sebagai mahluk nomer dua ini apakah layak dan berhak dalam meraih cita-cita setingginya, dan untuk mengetahui bagaimana Wanita dalam menyikapinya diera saat ini, mari datang dan saling tukar pemikiran dalam acara SK di balai dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung Kabupaten Malang.. MOnggo..
Ashabul Kahfi yang di anggotai muda mudi antara lain Muhammad Suep, muhammad kholili,Suhermanto, Rohman, Sunardi, Muhammad Rojiin, Muhammad Junaidi, Alfian Sahrul Faridian, Risaldi Fajar Karisma, Khariono, Muhammad Arif, Ulul Irfani, Feri Irawan, dan anggota lainnya.
Seni Banjari Ashabul Kahfi dusun Busu, desa Slamparejo, kec Jabung ini mempunyai kekhasan yaitu memadukan seni banjari tradisi dan kontemporer. Dengan gotong royong masyarakat dusun busu, malam ini menggelar pengajian yang insyaallah akan di isi oleh Gus Sifak dari Kemantren.
Dengan mengaparesiasi potensi dusun busu, gelar satu tahun ashabul kahfi ini mendapat dukungan dari masyarakat yang selama ini bergerak dalam bidang jasa dekor, sound sistem, bahkan jasa penyediaan peralatan pernikahan. Mereka yang ikut mendukung harlah ini antara lain Adeva, HR Audio, 4G audio, NS audio, Abl Audio, Energi Audio, JM audio, HN dekorasi, Wildan audio.
Harlah pertama Ashabul kahfi juga mengangkat tema Isrok Mi'roj yang mrndapat dukungan dari beberapa organisasi bawahan NU anak ranting dusu Busu antara lain Anak Ranting Muslimat Fatayat, IPNU, IPPNU, Ansor dan Banser dusun Busu dan kegiatan ini juga mendapat suport dari program Babusalam Mengaji, dalam harlah ini juga nantinya ada penampilan dari Drumband Alkhomar dari dusun Busu.
Melihat antusias masyatakat yang bergotong royong dan saling mengapresiasi kegiatan harlah ini, pihak desa yang di wakili oleh Kepala Dusun Busu yaitu Bapak Sapuan sangat mengapresiasi dan berharap kegiatan ini bisa memberi semangat kembali dalam kebersamaan masyarakat dusun Busu, Slamparejo, kec.Jabung dalam segala hal kegiatan kemasyarakatan.
"BEBARENGANGAN UJUD AKE SEJAHTERANING URIP" pungkas Pak Sapuan disela kegiatan.















.jpeg)











