Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, ada satu agenda rutin yang selalu dinantikan oleh warga Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang: Buka Bersama di Masjid Baiturrahman. Namun, jangan bayangkan Bukber ini seperti umumnya — karena di sinilah, Bukber menjadi lebih dari sekadar makan bersama.

Setiap tahunnya, acara ini bukan hanya mengundang warga kampung, tapi juga melibatkan lintas komunitas dan para mahasiswa yang pernah mengabdi di Dusun Busu. Mereka yang pernah KKN, PKL, hingga kegiatan pengabdian masyarakat di dusun ini, diundang kembali untuk hadir — tak hanya sebagai tamu, tapi sebagai bagian dari keluarga besar Busu.


Inilah momen yang dirindukan: buka puasa dengan rasa kekeluargaan yang begitu kuat. Banyak dari para mahasiswa itu yang telah lulus bertahun-tahun lalu, namun kembali hadir, menyambung silaturahmi, berbagi tawa, dan mengenang hari-hari penuh makna saat mengabdi di kampung sederhana ini. Bukber pun tak ubahnya ajang reuni hangat, bukan hanya antar warga, tapi juga antar generasi.

Yang menjadikan Bukber Baiturrahman semakin istimewa adalah partisipasi warga yang luar biasa. Tak sedikit dari mereka yang menyumbangkan hasil bumi—sayuran, ketela, pisang, cabai, daun singkong, dan rempah-rempah dari kebun mereka sendiri. Semua dimasak bersama, dinikmati bersama. Sederhana, tapi penuh keberkahan.


“Bukan soal mewahnya menu, tapi hangatnya kebersamaan,” ujar salah satu panitia. Dan memang itulah esensi dari buka bersama ini. Kehangatan terasa di setiap sendok nasi, di setiap tawa yang pecah di halaman masjid, dan di setiap pelukan yang mempertemukan kawan lama.


Dalam dunia yang semakin individualistis, Bukber di Masjid Baiturrahman Busu mengajarkan kita satu hal penting: bahwa berbuka puasa bisa menjadi jembatan silaturahmi, bisa menjadi ruang temu lintas waktu, lintas profesi, bahkan lintas kota.

Di Busu, berbuka puasa bukan hanya soal membatalkan lapar dan dahaga, tapi juga soal menyambung rasa, menyatukan jiwa.

Jabung 30/06/2025, Malang — Sungai bukan hanya aliran air, tetapi juga nadi kehidupan masyarakat. Sayangnya, pencemaran sungai kini menjadi ancaman nyata yang tak bisa diabaikan. Untuk menjawab tantangan itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama para kader Sigasspol (Integrasi Pengawasan Sungai Deteksi Sumber Polusi) melangkah lebih jauh: membangun sinergi bersama komunitas anak-anak Gubuk Baca Lereng Busu.

Acara bertajuk Penguatan kader Sigasspol Tumpakjanoko di Dusun Busu Desa Slamparejo dengan penuh semangat. Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh perwakilan DLH, tapi juga para kader Sigasspol dari wilayah Tumpakjanoko yang siap menjadi garda terdepan dalam memantau dan mengawasi kondisi lingkungan, khususnya sungai.

Uniknya, kegiatan ini Kegiatan ini yang menjadi panitia  adalah anak anak gubuk baca yg rata rata masih SD dan SMP mulai menyiapkan tempat, sound, makanan minuman suguhan hiburan dll Mereka menjadi jembatan antara kader, masyarakat, dan pemerintah dalam menyuarakan pentingnya menjaga bumi — mulai dari sungai di sekitar rumah sendiri.

Tiga Tujuan Utama yang Dibawa

Penguatan ini dilakukan dengan tujuan yang sangat jelas dan strategis:

  1. Meningkatkan Kapasitas Kader
    Para kader Sigasspol dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mendeteksi dan melaporkan pencemaran lingkungan secara cepat dan akurat. Dengan begitu, langkah penanganan bisa dilakukan lebih sigap.

  2. Membangun Jaringan Pengawasan Berbasis Masyarakat
    Dengan melibatkan warga sekitar, terutama generasi muda, terbentuklah jaringan pengawasan lingkungan yang aktif, responsif, dan berkelanjutan.

  3. Mendorong Partisipasi Masyarakat
    Kegiatan ini juga bertujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama.

Perwakilan DLH menyampaikan apresiasi atas antusiasme para kader dan anak-anak Gubuk Baca Lereng Busu. Menurut mereka, semangat seperti inilah yang dibutuhkan untuk menggerakkan perubahan dari bawah.

Salah satu kader Sigasspol Tumpakjanoko menyampaikan bahwa pelatihan dan penguatan seperti ini sangat bermanfaat. “Kami jadi lebih paham bagaimana cara mengenali pencemaran sungai dan kepada siapa harus melapor. Dulu kami hanya bisa mengeluh, sekarang kami bisa bertindak,” ungkapnya.

Sementara itu, anak-anak Gubuk Baca Lereng Busu tampil percaya diri dengan membawakan puisi bertema lingkungan dan menyampaikan pesan moral lewat permainan edukatif. Mereka menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa tumbuh sejak dini, bahkan dari tempat sekecil Gubuk Baca Lereng Busu.



Sungai Bersih, Masa Depan Cerah

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para kader Sigasspol makin kuat, masyarakat makin sadar, dan sungai-sungai kita bisa kembali mengalir jernih, membawa kehidupan yang lebih baik. Dan semua itu, dimulai dari langkah kecil: kolaborasi dan kepedulian.

 

Di tengah geliat budaya lokal yang terus tumbuh di pelosok desa, Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Malang, memiliki satu nama yang mulai mencuri perhatian: Bantengan Ki Mangku Jati. Grup seni ini bukan hanya sekadar komunitas kesenian, tapi juga wadah bagi anak-anak dan pemuda yang mencintai tradisi Bantengan — kesenian khas Jawa Timur yang menggabungkan tari, musik, dan unsur spiritual.
Penampilan Bantengan Ki Mangku Jati

Bantengan Ki Mangku Jati resmi berdiri pada 23 Juni 2023. Meski masih terbilang baru, semangat dan eksistensinya begitu kuat. Tujuan utama dibentuknya grup ini adalah untuk memberikan ruang ekspresi bagi generasi muda yang memiliki minat dan bakat di dunia seni tradisi, khususnya kesenian Bantengan. Dalam waktu singkat, Ki Mangku Jati telah menjadi rumah budaya bagi berbagai kalangan — dari anak-anak, remaja, hingga orang tua — yang ingin terlibat dalam pelestarian seni warisan leluhur.


Nama "Ki Mangku Jati” sendiri memiliki makna mendalam. Ki adalah gelar kehormatan bagi tokoh tua atau tokoh budaya, Mangku berarti memikul atau menjaga, sedangkan Jati melambangkan kemurnian dan keaslian. Maka, nama ini merepresentasikan komitmen untuk menjaga kemurnian budaya dan jati diri melalui kesenian Bantengan.


Tak hanya tampil di acara-acara desa, grup ini juga aktif dalam berbagai pertunjukan budaya, pentas seni, hingga penyambutan tamu-tamu luar daerah. Setiap aksi mereka menjadi tontonan yang bukan hanya memukau, tapi juga menggetarkan — membawa pesan kultural yang kuat, sekaligus membangkitkan semangat gotong royong dan kebersamaan.



Yang membuat Bantengan Ki Mangku Jati istimewa adalah keterlibatan komunitas. Warga dusun mendukung penuh, baik secara moril maupun material. Anak-anak diajari disiplin, kerja tim, dan keberanian lewat seni. Orang tua merasa bangga karena budaya yang dulu mereka kenal, kini dihidupkan kembali oleh anak-anak mereka sendiri.
Aksi Sosial Bedah Rumah yang di Lakukan Ki Mangku Jati

Bantengan bukan hanya tentang hiburan — tapi juga tentang identitas. Dan melalui Ki Mangku Jati, Dusun Busu menunjukkan bahwa seni tradisi bisa tetap hidup, relevan, dan dicintai oleh generasi baru.


Kimangku Jati Mengadakan Santunan di Bulan Suro
Sumber foto: Kimangku Jati

 

Sumpah Amil Zakat: Amanah untuk Umat, Ibadah Sepanjang Waktu

Memikul amanah bukan perkara mudah. Menjadi amil zakat bukan hanya soal mengumpulkan dan menyalurkan harta, tetapi juga soal menjaga kepercayaan umat, kejujuran dalam tindakan, dan keikhlasan dalam ibadah. Tugas yang diemban para tokoh kampung kami ini adalah tanggung jawab mulia yang mengikat hati, bukan hanya aturan.


Dengan menyebut nama Allah, para tokoh kampung tercinta kami hari ini telah mengikrarkan sumpah sebagai amil zakat — mengemban peran penting sebagai penjaga titipan ummat, penyalur kebaikan, dan pelayan masyarakat dalam hal yang suci: zakat, infak, dan sedekah.



Semoga mereka selalu diberi kekuatan, keikhlasan, dan keteguhan hati dalam melaksanakan tugas ini. Semoga langkah mereka selalu dilandasi semangat pengabdian, bukan hanya kepada masyarakat, tapi juga kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Amanah itu berat, tapi bersama niat tulus, InsyaAllah jadi ladang pahala.

~ALAM DAN PELATARAN SEBUAH KAMPUNG~
------------------------------------
Besok Tgl 15 Maret 2020 adalah hari bersejarah buat kampungku, Jikalau nanti anak dan cucuku membaca status ini, jaga dan lestarikan alam di kampung ini untuk generasi selanjutnya dan buatlah sebagai ladang amal keluarga kita.

Pohon adalah tempat menumpang hidup,'' kata penyair dan filsuf asal Jerman, Herman Hesse.
''Dari pohon, kita bisa melatih kepekaan dalam mendengar... pohon itu rumah. Pohon itu sumber kebahagiaan.''
Semua orang pasti tahu apa arti penting pohon bagi dunia dan bagi kehidupan kita, akan tetapi berapa banyak orang yang sadar apa sih sebenarnya arti pohon bagi kehidupan kita?
Memberi oksigen, Mencegah banjir, Mencegah longsor dan sebagainya.. itu didalam percakapan dan debat-debat kita.. tetapi faktanya ? saat semua tau bahwa pohon itu pemberi oksigen bagi kita, masih banyak juga yang menebangnya, kita semua tau bahwa pohon dapat mencegah banjir tetapi masih banyak juga pohon yang mengaliri sungai-sungai kita, semua tau bahwa pohon bisa mencegah longsoran tetapi masih banyak juga yang cuek terhadap kegunaan pohon di pinggiran sungai dan tebing. Coba tanya dalam hati, apa sih kegunaan pohon bagi kita? Sudahkah kita mengerti sepenuhnya? Atau hanya sekedar tau bahwa pohon itu penting? Atau hanya untuk memenuhi memori di otak kita? Sudah saatnya berbuat. Gak zaman lagi berkata tanpa ada perbuatan.
Oi Malang Reresik dan Tanam Pohon di Kampung Adat


Oi Malang Reresik dan Tanam Pohon di Kampung Adat

Oi Malang Reresik dan Tanam Pohon di Kampung Adat


Oi Malang Reresik dan Tanam Pohon di Kampung AdatOi Malang Reresik dan Tanam Pohon di Kampung Adat
Oi Malang Reresik dan Tanam Pohon di Kampung Adat
- SALAM -
Perubahan cuaca merupakan dampak dari ketidak berimbangan alam, ekologi yang mengalami banyak kerusakan. Penebangan hutan, pencemaran lingkungan dan rusaknya ekologi air dan kali adalah tanggung jawab manusia. Karena manusialah yang banyak berperan dalam rusaknya alam ini. Sebagai tanggung jawab kami masyarakat Busu, BPK Oi Malang Raya, bersinergi untuk mencegah kerusakan alam yang memang semakin parah ini.Dan oleh karena itulah, Kami ingin mengetuk dan merangkul semua orang yang berfikiran dan mempunyai kegelisahan yang sama atas bencana ekologi yang menghantui kita bersama ini. Kami mengundang semua elemen lapisan masyarakat untuk bersinergi dalam kegiatan tanam pohon dan reresik Kali yang mana adalah muara dari beberapa aliran sungai yang mengaliri Jabung dan sekitarnya. Kita bergerak dari muara, seperti air mengalir ke bawah. Muara bersih lestari niscaya aliran ke bawah akan terus jernih.

Ayo bergerak bersama, dan bila mempunyai bibit pohon apapun bisa ditanam di bantaran muara sungai dusun Busu ini.

*Sendiri kita setetes, bersama kita samudera*