Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Dusun Busu, Slamparejo – Di balik kesuksesan sebuah usaha, selalu ada cerita perjuangan dan inovasi yang jarang diketahui publik. Begitu pula kisah inspiratif dari Cak Supri, atau yang akrab disapa "Princit", warga Dusun Busu, Desa Slamparejo Kec. Jabung-Malang, yang kini dikenal sebagai salah satu pengepul singkong paling sukses di wilayah Jabung dan sekitarnya.

Cak Supri memulai usahanya dari sekitar tahun 2002, beliau mulai mencoba-coba berdagang singkong dari hasil panen para petani di sekitarnya. Meski skala usaha saat itu masih kecil-kecilan, Cak Supri tak menyerah dan terus belajar dari pengalaman lapangan. Dengan modal kepercayaan dari petani dan ketekunan yang tak pernah surut, usahanya perlahan tumbuh dan berkembang.


Kini, usaha yang diberi nama “Singkong Ketan” ini telah mampu memasok puluhan kwintal singkong ke berbagai pabrik pengolahan. Nama "Singkong Ketan" dipilih karena filosofi dan harapan agar usahanya lengket dan awet seperti ketan—yakni selalu melekat di hati petani dan pelanggan, serta bertahan dalam jangka panjang.

Namun, bukan hanya volume penjualan yang membuat usaha Cak Supri patut diapresiasi. Yang paling menarik adalah pola pikir inovatifnya. Dalam dunia perdagangan, limbah atau produk gagal sering kali dianggap rugi. Tetapi tidak bagi Cak Supri. Singkong-singkong yang tidak layak kirim ke pabrik, yang biasanya dibuang, justru diolah menjadi pakan kambing. Dengan cara ini, tidak ada yang terbuang sia-sia. Bahkan, ia berhasil memanfaatkan limbah menjadi nilai tambah.


“Inovasi kecil ini memang sederhana, tapi berdampak besar. Dari pada mubazir, mending dimanfaatkan untuk ternak. Petani juga jadi terbantu karena semua hasil panennya bisa dimonetisasi,” ujar Cak Supri.

Langkah ini tidak hanya menunjukkan kepekaan lingkungan dan efisiensi usaha, tapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar, khususnya dalam hal peternakan kambing.


Cak Supri telah menjadi contoh nyata bahwa kesuksesan bisa diraih dari desa, dengan modal semangat, kerja keras, dan pikiran terbuka. Ia membuktikan bahwa inovasi tidak selalu datang dari teknologi tinggi, tapi bisa juga lahir dari kesederhanaan dan keinginan untuk terus berkembang.

Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang adalah salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi luar biasa di bidang pertanian, UMKM, dan pariwisata berbasis lokal. Terletak di bagian timur laut Kabupaten Malang, Jabung dikenal sebagai daerah yang subur, kaya budaya, dan masyarakatnya hidup rukun serta religius.

https://www.kampungadat.com/2025/07/kecamatan-jabung-kabupaten-malang-jawa-timur-potensi-alam-umkm-dan-budaya-lokal-yang-menarik.html
Peta Kecamatan Jabung 3D

Artikel ini akan mengulas lengkap tentang profil Kecamatan Jabung, mulai dari geografi, potensi unggulan, hingga peluang wisata dan ekonomi lokal yang semakin berkembang.


✅ Profil Singkat Kecamatan Jabung, Malang

Secara administratif, Kecamatan Jabung terdiri dari 12 desa, di antaranya:

  • Jabung
  • Pandansari
  • Taji
  • Kemiri
  • Sidomulyo
  • Slamparejo
  • Argosari
  • Kemantren
  • Gunungjati
  • Sukolilo
  • Sukopuro
  • Ngadirejo

Wilayahnya didominasi oleh dataran tinggi dan sebagian lereng pegunungan, yang menjadikan Jabung sebagai kawasan yang subur dan cocok untuk sektor pertanian dan perkebunan


🌱 Potensi Pertanian dan Komoditas Unggulan

Salah satu kekuatan utama Kecamatan Jabung Malang adalah sektor pertanian. Beberapa komoditas unggulan dari wilayah ini meliputi:

  • Singkong

  • Padi dan jagung

  • Tebu

  • Kopi di wilayah lereng

  • Sayur-sayuran dataran tinggi

Selain itu, Jabung juga dikenal sebagai daerah dengan produk susu kambing dan sapi perah yang mulai dikembangkan melalui koperasi desa.


🛍️ Perkembangan UMKM dan Ekonomi Lokal

Seiring berkembangnya teknologi dan keterbukaan pasar, UMKM di Jabung mulai tumbuh pesat. Beberapa jenis usaha kecil dan menengah yang berkembang antara lain:

  • Produksi olahan singkong dan keripik

  • Toko kelontong dan sembako

  • Usaha ternak kambing dan sapi

  • Kuliner khas desa Jabung

  • Usaha katering dan snack rumahan

Pemerintah desa dan kecamatan terus mendorong digitalisasi UMKM agar mampu menembus pasar luar daerah dan bahkan e-commerce nasional.


🌄 Wisata Jabung Malang: Alam, Edukasi, dan Religi

https://www.kampungadat.com/2025/07/kecamatan-jabung-kabupaten-malang-jawa-timur-potensi-alam-umkm-dan-budaya-lokal-yang-menarik.html
Peta Kecamatan Jabung 2D


Meskipun belum sepopuler destinasi wisata lainnya di Kabupaten Malang, Jabung memiliki daya tarik wisata lokal yang terus dikembangkan, seperti:

  • Gubuk Baca Lereng Mbusu: Ruang edukasi dan wisata literasi di kawasan perbukitan.

  • Wisata Edukasi Pertanian: Belajar bertani dan beternak di desa.

  • Wisata religi: Ziarah makam ulama lokal dan kegiatan keagamaan.

Potensi wisata ini sangat cocok dikembangkan menjadi wisata berbasis masyarakat (community-based tourism) yang ramah lingkungan dan memberdayakan warga.


💡 Harapan Masa Depan Kecamatan Jabung

Dengan sumber daya alam yang melimpah dan masyarakat yang penuh semangat, Kecamatan Jabung berpotensi menjadi:

  • Sentra pertanian dan peternakan organik

  • Kawasan wisata lokal berbasis alam dan budaya

  • Pusat pengembangan UMKM pedesaan di Malang bagian timur

Dukungan infrastruktur, pemasaran digital, dan pelatihan kewirausahaan akan sangat menentukan arah pertumbuhan wilayah ini di masa mendatang.


📌 Kesimpulan

Kecamatan Jabung Kabupaten Malang bukan hanya kawasan agraris, tapi juga wilayah penuh potensi yang siap berkembang. Dengan kekuatan di sektor pertanian, UMKM, dan wisata edukatif, Jabung siap menjadi destinasi unggulan baru di Kabupaten Malang.

Jika Anda mencari desa wisata di Malang, UMKM pedesaan yang berkembang, atau ingin menjajaki peluang investasi di wilayah agraris, Jabung adalah pilihan yang menjanjikan.

Di awal tahun 2000-an, seorang pria sederhana bernama Samsul Arifin asal Dusun Busu Desa Slamparejo, Jabung-Malang, memulai perjalanannya sebagai sopir pengantar tahu ke berbagai pasar tradisional. Selama enam tahun ia setia menjalankan pekerjaannya, menyusuri jalanan dari pagi buta hingga siang demi mengantar produk tahu ke tangan para pedagang. Namun karena jarak dan waktu tempuh yang semakin berat, ia memutuskan untuk berhenti dan mencoba berbagai pekerjaan lain, mulai dari sopir toko besi hingga kuli bangunan.

Namun, dunia tahu seolah sudah melekat dalam hidupnya. Pada awal tahun 2010-an, dengan tekad dan semangat pantang menyerah, ia kembali ke industri tahu bersama sang kakak. Bermodalkan niat dan pengalaman masa lalu, ia mulai memproduksi tahu sendiri — dari hanya 1 kwintal kedelai per hari, kini usahanya mampu mengolah hingga 5 kwintal setiap harinya.

Tak hanya itu, ketika momen-momen besar seperti Maulid Nabi atau Hari Raya tiba, kapasitas produksi bisa melonjak hingga dua kali lipat!

Saat ini, pabrik tahu yang ia rintis telah berkembang pesat. Setiap hari, ia mengirimkan 25–30 box tahu ke Pasar Nongkojajar sejak pukul 3 pagi hingga 6 pagi. Tak hanya itu, pengiriman juga menjangkau berbagai pasar di Kota Malang seperti Pasar Blimbing, Kebalen, dan Tawangmangu dengan jumlah sekitar 20–25 box per hari.


Selain mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, usaha tahu ini juga memberikan dampak sosial yang positif. Setiap harinya, usaha ini membuka lapangan pekerjaan bagi 4 hingga 5 orang, membantu roda perekonomian warga sekitar terus berputar.

Kisah ini menjadi bukti bahwa dengan niat, kerja keras, dan keyakinan, siapa pun bisa bangkit dan membangun usahanya sendiri — bahkan dari nol. Sebuah inspirasi nyata dari Temas, Batu, untuk Indonesia.


Di pelosok Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, hiduplah seorang peternak yang memulai segalanya dari nol. Namanya kang Erik, seorang yang dulunya bekerja sebagai buruh dolok kayu, namun kini dikenal sebagai salah satu peternak kambing yang berkembang dan mandiri.


Tahun 2000: Awal yang Tak Direncanakan

Perjalanan kang Erik di dunia peternakan dimulai pada tahun 2000, bukan karena cita-cita, tapi karena keinginan menambah penghasilan. Ia memelihara beberapa ekor kambing Jawa Randu dan kambing pedaging, sambil tetap bekerja sebagai tukang kayu. Dengan modal kecil, Erik merawat 5 induk dan 3 pejantan di kandang sederhana di samping rumahnya.

Tanpa rencana besar, kambing-kambing itu terus berkembang. Dalam beberapa tahun, jumlahnya mencapai 27 ekor. Kandang pun tak lagi muat, dan kang Erik mulai berpikir lebih serius untuk memperluas skala usahanya.

2017: Kandang Baru dan Kambing Unggul

Tahun 2017, kang Erik membangun kandang yang lebih representatif dan mulai mencoba jenis-jenis kambing baru seperti:

  • Etawa Cross
  • Border
  • Safera
  • Senduro

Perlahan, kang Erik memperluas jenis ternaknya, baik untuk kebutuhan qurban, pembibitan, maupun kontes lokal.

Tanpa Rencana Jual-Beli, Tapi Rezeki Mengalir

Awalnya, jual-beli kambing bukan rencana utama. kang Erik sendiri mengaku tak pernah merencanakan jadi blantek (makelar hewan ternak). Namun, karena banyak teman-temannya yang datang langsung ke kandang untuk membeli, akhirnya ia pun terpikir: “Kenapa tidak sekalian terjun ke dunia perblantekan?”


Dengan modal nekat, pengalaman, dan keberanian, kang Erik mulai menekuni jual beli kambing secara terbuka. Ia tidak hanya beternak, tapi juga membantu menyediakan kambing untuk acara hajatan, aqiqah, dan qurban.

Breeding dan Pelayanan Hajatan

Kini, kang Erik lebih fokus pada breeding — terutama jenis Etawa Cross dan kambing hias. Tak hanya itu, ia juga menyediakan layanan kambing untuk acara hajatan seperti aqiqah, serta menyediakan bibitan kambing untuk pemula yang ingin belajar beternak bersama.

kang Erik membuka diri untuk berbagi ilmu, karena menurutnya, “kalau kita sukses sendirian, ya biasa. Tapi kalau sukses bareng, itu luar biasa.”

Peternakan sebagai Tabungan dan Ladang Rezeki

Bagi kang Erik, beternak kambing kini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah bentuk investasi masa depan. Sambil menabung untuk keperluan keluarga, usaha peternakan ini telah menjadi ladang rezeki yang halal dan berkah. Ia bersyukur karena usaha kecil yang dulu dimulai tanpa rencana besar, kini mampu membantu mencukupi kebutuhan rumah tangga, dan bahkan menginspirasi pemuda lain di Dusun Busu.


Penutup: Dari Kampung, Untuk Masa Depan

Kisah kang Erik adalah bukti bahwa kesuksesan bisa dimulai dari kandang sederhana, asalkan ada ketekunan, kejujuran, dan keberanian untuk belajar. Dari Dusun Busu, kang Erik telah membuktikan bahwa peternakan rakyat bisa tumbuh menjadi usaha yang mandiri, bermanfaat, dan menginspirasi.

Malang, Jawa Timur — Di tengah geliat ekonomi kerakyatan yang semakin berkembang, hadir sebuah koperasi yang tak hanya menjadi tumpuan ekonomi lokal, tetapi juga inspirasi nasional. Koperasi Agro Niaga Jabung atau KAN Jabung Syariah Jawa Timur, yang berlokasi di Jl. Suropati No. 4-6, Desa Kemantren, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, telah menorehkan prestasi membanggakan sebagai Koperasi Produsen Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional.

ini hanya ilustrasi (SUPERKAN)

Dengan jumlah anggota aktif mencapai lebih dari 2.400 orang, KAN Jabung tidak hanya menjadi lembaga ekonomi, tapi juga wadah pemberdayaan masyarakat. Salah satu kelompok masyarakat yang turut aktif di dalamnya adalah warga Dusun Busu, Desa Slamparejo. Banyak dari mereka yang kini merasakan manfaat langsung dari koperasi ini, baik sebagai produsen, peternak, pengrajin, maupun pelaku usaha UMKM.

Hijrah Ekonomi Bersama KAN Jabung

Sejak tahun 2020, KAN Jabung tampil dengan wajah baru dan semangat hijrah ekonomi. Melalui sistem syariah, koperasi ini hadir untuk membimbing anggotanya agar tumbuh bersama secara ekonomi yang lebih berkah dan adil. Dengan prinsip transparansi, keadilan, dan partisipasi aktif anggota, KAN Jabung mampu menggerakkan roda perekonomian berbasis komunitas.

Dusun Busu yang dulunya lebih dikenal sebagai daerah agraris biasa, kini menjadi bagian dari ekosistem koperasi modern. Para peternak sapi perah, pengusaha hasil tani, hingga pelaku industri rumahan dari dusun ini kini ikut merasakan dampak positif dari bergabung di KAN Jabung.

Fasilitas dan Program Unggulan

KAN Jabung Syariah tidak hanya menawarkan simpan pinjam. Lebih dari itu, koperasi ini memiliki berbagai unit usaha produktif yang saling menopang:

  • Unit Pengolahan Susu dan Hasil Ternak

  • Toko Pertanian dan Peternakan

  • Pembiayaan Syariah tanpa riba

  • Pelatihan Wirausaha & Pemberdayaan Anggota

  • Pemasaran Produk Anggota ke Pasar Nasional

Dengan fasilitas ini, anggota dari Dusun Busu tidak hanya mendapat akses pembiayaan, tetapi juga pelatihan manajemen usaha dan peluang memperluas pasar. Hal ini sejalan dengan visi koperasi untuk menjadi “Koperasi Berbasis Syariah yang Profesional dan Mandiri.”

Mewujudkan Mimpi Bersama

KAN Jabung percaya bahwa semua orang boleh bermimpi, dan koperasi inilah tempat yang tepat untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Dari Dusun Busu hingga pelosok Jabung, koperasi ini telah menjadi rumah besar yang menumbuhkan harapan. Di tengah tantangan ekonomi global, KAN Jabung menunjukkan bahwa ekonomi lokal berbasis komunitas dan syariah bisa menjadi solusi yang nyata dan berkelanjutan.


Kesimpulan:
KAN Jabung Syariah Jawa Timur bukan sekadar koperasi, tapi gerakan ekonomi yang menyatukan mimpi dan perjuangan anggotanya, termasuk warga Dusun Busu. Dengan semangat kebersamaan dan prinsip syariah, koperasi ini terus melangkah untuk mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat dari desa untuk Indonesia.

Dusun Busu, sebuah wilayah kecil yang terletak di Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, menyimpan cerita menarik tentang kemandirian ekonomi masyarakatnya. Mayoritas warga di dusun ini menggantungkan hidup dari sektor peternakan, lebih tepatnya sebagai peternak sapi perah.

Setiap hari, para peternak di Dusun Busu dengan tekun merawat sapi-sapi mereka. Pekerjaan ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dari kandang sederhana di belakang rumah hingga proses pemerahan susu secara manual, semua dilakukan dengan penuh ketelatenan dan semangat kebersamaan.


Susu yang dihasilkan dari sapi-sapi perah tersebut bukan hanya dikonsumsi pribadi, namun juga dijual sebagai susu murni berkualitas tinggi. Hasil perahan itu kemudian disetorkan ke Koperasi KAN Jabung, sebuah koperasi ternama di Kecamatan Jabung yang sudah dikenal luas dalam mengelola dan menyalurkan hasil peternakan susu para anggotanya.

KAN Jabung menjadi mitra penting bagi masyarakat Dusun Busu. Koperasi ini tidak hanya menampung dan memasarkan hasil susu perah, tetapi juga memberikan berbagai pembinaan dan pelatihan kepada peternak tentang cara beternak yang sehat, menjaga kualitas susu, hingga pengelolaan keuangan rumah tangga peternak.


Dengan sistem kerja sama yang saling menguntungkan antara peternak dan koperasi, Dusun Busu kini tumbuh menjadi salah satu sentra peternakan sapi perah yang diperhitungkan di wilayah Jabung. Bahkan, banyak wisatawan lokal dan asing yang mulai tertarik untuk datang dan belajar langsung tentang kehidupan peternakan di desa ini, sebagai bagian dari wisata edukasi dan kuliner, terutama lewat kunjungan ke Busu Kuliner.

Kisah Dusun Busu adalah bukti bahwa dengan kekompakan dan kerja keras, masyarakat desa bisa mandiri secara ekonomi dan tetap menjaga warisan tradisionalnya. Peternakan sapi perah bukan hanya sekadar pekerjaan, tapi juga identitas dan kebanggaan warga Dusun Busu, Desa Slamparejo.

 

Dusun Busu, Permata Tersembunyi di Jabung yang Memikat Turis Asing

Di tengah hamparan alam Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, terdapat sebuah dusun yang menyimpan keunikan budaya dan keramahan warga yang luar biasa Dusun Busu, Desa Slamparejo. Tempat ini kini tidak hanya menjadi kebanggaan warga sekitar, tetapi juga telah menarik perhatian turis mancanegara yang ingin menyelami kehidupan kampung khas Indonesia.

Salah satu daya tarik utama dusun ini adalah Busu Kuliner, sebuah tempat wisata edukasi untuk turis asing yang menghadirkan aneka masakan tradisional khas Indonesia. Di sini, para turis mancanegara tak hanya mencicipi sajian lokal, tetapi juga diajak langsung belajar memasak makanan khas Jawa dengan bumbu-bumbu asli dan metode tradisional. Aktivitas ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung karena selain memasak, mereka juga dikenalkan dengan nilai-nilai kekeluargaan dan kegotongroyongan masyarakat setempat.

Tidak berhenti di dapur, turis juga diajak berkeliling kampung, menyusuri jalan-jalan kecil yang dikelilingi sawah, kebun, dan rumah-rumah warga yang ramah. Mereka berkesempatan melihat langsung kehidupan sehari-hari masyarakat desa, mulai dari bertani, membuat kerajinan, hingga mengikuti aktivitas budaya yang masih lestari.


Salah satu momen yang paling ditunggu adalah pertunjukan seni Tari Topeng Wayang Jabung—sebuah kesenian khas lokal yang sarat akan nilai sejarah dan filosofi Jawa. Tarian ini menjadi media untuk mengenalkan warisan budaya kepada dunia luar, serta memperkuat identitas kultural Dusun Busu sebagai kampung wisata budaya.


Semua keberhasilan ini tentu tidak bisa dilepaskan dari dukungan penuh masyarakat dan pemerintah desa, yang secara aktif menjaga dan mengembangkan potensi lokal. Namun, ada satu sosok penting yang menjadi pionir dari geliat pariwisata budaya di dusun ini, yaitu Pak Kusnadi, atau yang akrab disapa Pakde Abiet.


Pakde Abiet adalah sosok yang mencintai kampung halamannya dengan sepenuh hati. Berkat dedikasi dan inisiatif beliau, Dusun Busu mulai dikenal luas sebagai destinasi wisata edukasi dan budaya. Semangatnya dalam mengenalkan kekayaan lokal telah menginspirasi banyak orang, termasuk generasi muda di kampung itu, untuk ikut melestarikan warisan budaya dan membangun desa dengan potensi yang mereka miliki.

Dusun Busu bukan hanya tempat wisata, tapi juga simbol dari kekuatan lokal yang dikelola dengan cinta dan kebersamaan. Sebuah contoh nyata bahwa kampung kecil pun bisa menginspirasi dunia.




https://www.kampungadat.com/2024/07/menjaga-warisan-budaya-kisah-mbah-mat.html


Di tengah gempuran modernisasi yang tak kenal ampun, masih ada mereka yang gigih menjaga warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah Mbah Mat Darip, seorang perajin bambu berusia 76 tahun dari dusun Busu, Slamparejo, Jabung, Kabupaten Malang. Dengan tangan terampilnya, Mbah Darip telah mengukir sejarah melalui karya-karya anyaman bambu yang tidak hanya mengagumkan tetapi juga penuh nilai.


Mbah Darip, yang telah menggeluti dunia anyaman bambu selama puluhan tahun, dikenal sebagai ahli dalam menciptakan berbagai bentuk alat dapur tradisional. Dari Kalu, dunak, Entik, Keroncongan, tompo, tampeh, bajong, wakul, hingga alat-alat dapur lainnya, semuanya dibuat dengan kecintaan dan dedikasi yang besar. Menggunakan bahan alami seperti bambu dan Penjalin, Mbah Darip tetap setia pada metode tradisional, meskipun banyak perajin lain yang telah beralih menggunakan tali dari plastik.

“Bambu dan Penjalin bukan hanya bahan, tapi juga bagian dari jiwa karya ini,” ujar Mbah Darip dengan mata berbinar. “Setiap anyaman adalah doa, harapan agar yang menggunakan merasakan kehangatan dari alat tradisional ini.”

Keahliannya tidak diragukan lagi, setiap anyaman yang dihasilkan Mbah Darip adalah bukti nyata dari ketekunan dan kecintaannya pada budaya tradisional. Kualitas karyanya yang terjaga dengan baik menjadi bukti bahwa penggunaan bahan alami tidak kalah dari material modern seperti plastik.

Imbas modernisasi dalam penggunaan plastik yang tidak ramah lingkungan namun murah ini lah, menjadikan keahlian para maestro anyaman tradisional semakin terpinggirkan. Semakin berkurangnya masyarakat yang menggunakan alat-alat tradisional ramah lingkungan, beralih ke alat rumah tangga yang murah berbahan plastik.

Di era digital ini, karya-karya tradisional seperti yang dibuat oleh Mbah Darip menjadi semakin langka. Namun, Mbah Darip tidak kehilangan harapan. Beliau percaya bahwa dengan terus memproduksi dan mempertahankan kualitas, anyaman bambu tradisional akan tetap bertahan dan dicintai oleh generasi mendatang.

“Saya berharap, melalui tangan-tangan muda, warisan ini bisa terus hidup. Mereka harus tahu bahwa keindahan dan kegunaan dari anyaman bambu tidak tergantikan,” tambahnya dengan semangat.

Mbah Darip Meski terlihat bersemangat atas keilmuannya akan selalu lestari, namun ketiadaan masyarakat yang menggunakan keahliannya dalam bentuk membeli atau memesan alat-alat tradisional karya beliau, menjadikan sedikit pengetahuan Mbah Darip berkurang, karena telah lama tidak membuat.

https://www.kampungadat.com/2024/07/menjaga-warisan-budaya-kisah-mbah-mat.html

“Saya sudah sedikit lupa, anyaman model apa yang di pakai untuk membuat Entik, ya karena lama tidak membuat Entik” imbuhnya.

Kisah Mbah Mat Darip adalah pengingat bagi kita semua bahwa modernisasi tidak selalu harus mengorbankan warisan budaya. Melalui dedikasi dan cinta pada budaya, warisan leluhur dapat terus hidup dan dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Mbah Darip tidak hanya menjaga warisan budaya tetapi juga kelestarian alam. Bambu, sebagai bahan utama karyanya, adalah sumber daya alam yang ramah lingkungan. Pertumbuhannya yang cepat dan kemampuannya untuk mengurangi emisi karbon menjadikan bambu pilihan yang berkelanjutan.

Dengan memilih bambu dan Penjalin sebagai bahan utama karyanya, Mbah Darip secara tidak langsung turut serta dalam upaya pelestarian lingkungan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua bahwa dalam setiap karya, ada tanggung jawab terhadap alam.

Kisah Mbah Mat Darip tidak hanya tentang menjaga warisan budaya, tetapi juga tentang bagaimana seorang individu dapat menginspirasi banyak orang. Melalui karya dan dedikasinya, Mbah Darip telah membuktikan bahwa kecintaan pada budaya dan lingkungan dapat membawa dampak yang besar.


Generasi muda, dengan semua sumber daya dan teknologi yang tersedia, memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Mbah Darip. Dengan menggabungkan warisan budaya dengan inovasi, kita dapat menciptakan sesuatu yang tidak hanya indah tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Mbah Mat Darip, dengan setiap anyaman bambunya, telah menyampaikan pesan penting tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan kelestarian alam. Kisahnya mengingatkan kita semua bahwa dalam setiap tradisi, ada kearifan yang dapat membawa kita ke masa depan yang lebih baik.



 

https://www.kampungadat.com/2024/07/wiwitan-ritus-pertanian-awal-petik-padi.html
Cok Bakal/ubo rampe dalam prosesi ritus pertanian Wiwitan.


Kehidupan manusia sangat bergantung dengan ketersediaan pangan, dan di Nusantara kebudayaan dalam penyediaan pangan telah diwariskan secara turun temurun. Pengetahuan tradisional dalam merawat lahan dan pengetahuan terhadap jenis bahan pangan beraneka ragam. Dalam tradisi Jawa, kearifan dalam mendapatkan bahan makanan menjadi suatu pengetahuan yang mesti terus ditularkan dan regenerasikan.


Salah satu kearifan pertanian kita yang mengisaratkan rasa Syukur kepada alam, kepada Tuhan sang pemberi kesejahteraan adalah tradisi Wiwitan. Tradisi Wiwitan merupakan awal petani memetik hasil sawah (padi) sebelum panen dilakukan. Dalam proses pemetikan padi, petani mempunyai kearifan tradisi yang telah turun temurun diwariskan. Wiwitan dalam bahasa jawa mempunyai arti awal atau pertama, yang mana sebuah ritual awal petik padi dilakukan dengan diiringi doa Syukur kepada tuhan yang ESA.


Proses Wiwitan dilakukan dengan pertimbangan hari baik, yang mana adalah suatu kearifan dan pengetahuan tradisional yang kini langka. Perhitungan itu ditunjukan pada jumlah tangkai padi yang dipetik dalam prosesi wiwitan (awal/pertama) sebelum panen padi dilakukan. Perhitungan itu disesuaikan dengan jumlah hari pasaran. Semisal panen jatuh pada hari Senin (5) Legi (4) jadi tangkai padi yang dipetik dalam prosesi wiwitan berjumlah sembilan (9) tangkai.


Sebelum prosesi petik tangkai padi, petani dan tukang ujub (modin) melakukan ritual doa yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia limpahan rejeki tanaman padi. Sebelum doa dimulai Modin menyiapkan Cok Bakal lengkap.


Cok bakal diletakan di pojok sawah diatas pematang sawah (galengan). Setelah itu doa islam jawa dirapalkan. Di dahului doa keselamatan dengan bahasa arap dan dilanjutkan dengan rapal jawa.


Dalam prosesi wiwitan ini, rapal (jawa) merujuk pada rasa sukur dan terimakasih kepada Tuhan yang maha Esa. Setelah itu dan dilanjutkan menyebut Mbah Sri Sedono (Dewi Sri) dan Joko Sedono yang dalam mitos jawa sebagai pembawa benih untuk kehidupan di bumi. Doa rapal yang biasanya dipakai oleh masyarakat antaralain sebagai berikut.


"Bismillahirohmanirohim, ngalkamdulillah hirobilalamin, matur nuwun Gusti kang moho agung, kang sampun peparingan katahe rejeki keselamatan pinaringan ing jagat. Matur nuwun Mbah Sri Sedono, Joko Sedono dipun wiwiti metik rejeki saking Allah Ta'ala. Mandelo rejekine dibeto wangsul dipapak aken lumbung selayur. Mugi mugi damel murakapi keluarga kulo. Allahu amin.


Setelah doa dirapal, petani pemilik lahan atau modin memetik tangkai padi sejumlah hari pasaran. Dengan begitu acara panen bisa dilaksanakan. Tangkai padi yang telah dipetik pertama kali dalam prosesi wiwitan seterusnya dibawah pulang oleh pemilik lahan, dan biasanya dipasang atau ditempelkan ditembok rumah.


Hal ini sebagai harapan bahwa nantinya rejeki akan selalu mengalir ke dalam rumah sang pemilik sawah. Juga sebagai simbol atau pepiling (pengingat) karunia rejeki dari Tuhan yang maha Esa. Dengan ditempel dirumah harapannya ketika pemilik sawah melihat untaian padi ditembok akan selalu mengucap sukur kepada Tuhan yang Esa.

#Rituspertanian #Wiwitan #kearifanlokal #tradisipertanian #pemajuankebudayaan #opk #Busu


https://www.kampungadat.com/2024/06/gastronomi-tradisi-dusun-busu-2-jam.html



Nostalgia tentang suasana, pengalaman, kenangan bahkan keadaan menjadi satu hal yang mengasikan dalam ajang “Tempo Doeloe” di even budaya Tepung Sanak, dusun Busu, RT 22 RW 03 desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, kabupaten Malang. Suguhan keramahan, kesederhanaan, kepolosan dan keharmonisan menjadi nilai yang menggembirakan bagi pengunjung pekan budaya skala dusun ini, sabtu (1 juni 2024).


Lorong jalan paving kampung Tretek, dusun Busu itu hanya di terangi oleh penerangan obor. di kanan kirinya di hiasai lapak-lapak penjual makanan dan jajanan tradisional khas dusun Busu. Suasana yang temaram, menjadikan kenangan akan masa lalu lengkap bagi pengunjung. Meski pertunjukan seni di panggung utama even Tepung Sanak belum di mulai, selepas magrip itu, ratusan warga masyarakat sudah memadati jalanan yang indah berlampu obor ini.


Sego gerit, sego tiwul, ketan bubuk, cenil, horok-horok, serabi, jamu tradisional dan masih banyak gastronomi makanan serta jajanan tradisional yang di hadirkan oleh warga busu, yang membuat lapak-lapak sederhana di sepanjang jalan kampung tretek ini tidak sepi antrian warga. masyarakat berduyun-duyun memadati kampung yang mempunyai ikon treteg bambu ini. Tidak sampai 2 jam, semua dagangan warga busu ini sudah ludes habis. Banyak warga yang datang dan tidak kebagian merasakan makanan dan jajanan tempo doeloe malam itu. 


“Ramai sekali mas, saya aja tidak kebagian Cenil dan Tiwul tadi” ujar warga yang tidak mau menyebutkan nama ini. 


Dirinya datang bersama anak dan istri, yang malam itu masih berkesempatan merasakan jajanan tradisional Kontol Kambing.


Tegur saling sapa, tertawa, dan gembira terlihat dari para pengunjung yang mayoritas adalah warga Busu dan tetangga kampung, serta tidak sedikit pengunjung yang datang dari luar Jabung. Pertunjukan seni oleh adik-adik Busu yang selama tiga hari sebelumnya di dampingi dan ajari oleh Mahasiswa UIN Maliki Malang menjadi pembuka ajang seni di panggung utama, yang sorenya telah di mulai dengan pertunjukan seni “Banteng Alit” dari Putra Surya Tejo, grup bantengan anak-anak kampung Tretek. Permainan angklung sangat memukau dan harmoni di mainkan anak-anak yang masih berusia TK sampai sekolah dasar ini menjadi pertunjukan malam itu.


https://www.kampungadat.com/2024/06/gastronomi-tradisi-dusun-busu-2-jam.html


Kesan menggembirakan juga terungkap dari warga yang berjualan, salah satunya adalah Mak Kas, yang malam itu menjual Sego Gerit. salah satu warga kampung Tretek ini mengatakan, dagangannya laris dan semuanya habis.


“Dari mulai habis magrip tadi sudah banyak yang beli, senang sekali pokoknya” ungkapnya gembira.


Susana semakin meriah, tak kala para mahasiswa yang selama 3 hari ini residensi dan berbagi di Kampung Tretek ini, berkolaborasi dalam tarian petilan Topeng Jabung. Malam itu., sebuah flasmob tari Jejer Jowo apik di mainkan di panggung utama yang bertempat di tengah rumah warga kampung Trerek. Selain penampilan dari anak-anak dan mahasiswa di panggung utama, pertunjukan musik keroncong oleh grup Senandung Swara Sideorejo juga menyerot perhatian warga, berlokasi di sebelah barat, tepat di pelataran rumah ketua RT.


Even budaya hari pertama Tepung Sanak malam itu, menjadi berkah bagi warga yang berjualan dan tentunya menggembirakan bagi pengunjung yang merasakan nostalgia masa lampau di selingi penampilan seni oleh warga. Dan tentunya nanti di hari kedua, sebagai puncak acara tepung sanak, sebuah grup musik bergenre World Musik “Arca Tatasawara” dan Njagong tresno bersama Gus Muham El Muqtadir akan menjadi satu suplemen kebahagian warga yang hadir.   


Kios Mesin Malang atau Tukan Las Kampung Adat | Dusun Busu JabungTukang Las Kampung adat ini sangatlah menarik kenapa karena usaha besar yang ada di kampung terpencil yang ada di kabupaten Malang dan lagi-lagi ada di Rt 22 Rw 03. Pemilik usaha ini adalah mas Sofyan atau cak Platuk. 


Kios Mesin Malang adalah toko mesin usaha terbesar di Malang. Kami jual aneka mesin usaha makanan, mesin packaging / pengemas, mesin pertanian dan teknologi tepat guna pengolahan pertanian
Kios Mesini Malang telah melayani lebih dari banyak pengusaha di seluruh indonesia
Kami memliki pabrik mesin usaha dan mesin pertanian terbesar di Malang, yang dilengkapi dengan mesin-mesin bubut, potong plat, tekuk plat, dll. Kapasitas produksi saat ini tah mencapai ratusan mesin per bulan.
Dekorasi Pernikahan yang Terkenal teryata ada di Kampung Adat Malang

Dekorasi pernikahan yang ada di kampung adat sangat lah terkenal di wilayah malang dan sekitarnya.

nama dekorasi pernikahanya adalah syailendra dekorasi dekorasi ini berdiri sejak tahun 2010 an tempanya ada di Dusun Busu RT 22 RW 03 Desa Slamparejo Kecamatan Jabung. Kabupaten Malang. 

Syailendra Dekorasi Malang berawal dari komunitas kecil pelaku seni yang di bina oleh pakar-pakar seni (senior) yang ada di Malang.
Sehingga kami sedikit demi sedikit berusaha menjadi sebuah team yang tujuanya ingin bekerja secara maksimal di bidang Seni terutama Jasa Dekorasi tepanya di Malang.

Alahamdulilah dengan adanya dekorasi pernikahan ini mengangkat perekonomian warga di sekitar  usaha  dekorasi, kok bisa ?? iya karena warga di sekitar di perdayakan untuk memasang dekorasi , ada juga yang menanam bunga hidup yang nantinya akan di buat hiasan dekorasi tersebut nama ownernya bisa di sapa pakdhe abiet beliau adalah anak kampung adat dan terlahir dari tanah adat ini

impian beliau semoga apa yang dilakukan membawa kemanfaatan untuk kampungnya dan bisa mengankat perekonomian warga sekitar.