Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

https://www.kampungadat.com/2026/04/Orasi-kebudayaan-tentang-busu-jaman-biyen-oleh-dwi-cahyono-sejarahwan-dan-arteolog-malang.html
Assalamu'alaikum WR WB, Rahayu Sagung Dumadi

Bapak ibu dan saudara sekalian

Pada tanggal 20-21 Maret 2026 berselang Umat Muslim Indonesia merayakan "Hari Raya Idul Fitri". Hampir bersamaan waktu, pada tanggal 19 Maret 2026 umat Hindu merayakan "Hari Raya Nyepi". Dua hari raya keagamaan yang nyaris bersamaan waktu. Selain kedua hari raya itu, masih terdapat sejumlah hari raya keagamaan lain, seperti Hari Raya Waisak pada Umat Buddha, Hari Raya Imlek pada etnik Tionghoa Hoa Pera- makan, perayaan Hari Paskah pada 5 April 2026 dan Natal 25 Desember 2025 lalu pada umat Kristen Protestan dan Katolik, dan masih banyak lagi hari-hari keagamaan lainnya. Terkesan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan "Hari Raya (diakro- nimkan dengan "Riayan" atau "Riadin").

Warga masyarakat etnik pun memiliki hari raya etnikya sendiri-sendiri. Warga sub-etnik Jawa Tengger misalnya, mempunyai Hari Raya Kasada dan Hari Raya Karo yang selenggarakan.setiap tahun dan hari raya Unan-unan setiap lima tahun. Terdapat juga Hari Raya Rambu Solo' pada etnik Toraja, Hari Raya (Pesta) Bona Taon pada etnik Batak, hari raya Pasola pada etnik Marapu di Sumba, dsb. Tak semua Hari Raya etnik tersebut berupa hari raya keagamaan. Bisa juga berupa "hari raya kebudayaan". Sesuai unsur sebutan."budaya" dalam "hari raya budaya", peyelenggaraannya berkenaan dengan perhelatan budaya. Adapun unsur sebutan "raya" pada "hari raya" memberi petunjuk mengenai suasana kebesaran dan kerayaan pada hari yang bersangkutan. Ada kemeriahan, ada kesuka-citaan, dan ada pula kebahagiaan, yang  belum tentu dapat ditemui pada hari-hari biasa. Pendek kata, hari raya keagamaan ataupun hari raya budaya adalah hari yang istimewa. Oleh karena itu, kehadirannya secara periodik ditunggu-tunggu oleh warga. 

 Hari raya budaya tidak senantiasa berskala luas. Ada hari raya budaya yang berskala "mikro", seperti dalam apa yang dinamai "hari raya budaya kampung"  Festival "Busu Jaman Biyen (disingkat dengan "BJB") di Dusun Busu, yang diselenggarakan pada tanggal 10 hingga 12 April 2026 misalnya adalah salah satu dari "Hari Raya Budaya Kampung". Riayan Kabudayan ini adalah "ekspresi kesukacitaan, kebahagiaan dan kemeriahan kampung. Sebagai "agenda budaya tahunan", sekali dalam setahun warga di Dusun Busu mengekspresikan kegembiraan dan kebahagiaannya melalui wahana budaya "BJB", yang pada tahun ini (2026) memasuki tahun ke-3 -- sempat terkendala oleh Covid -19 pada tahun 2020-2022.

Hari Raya Budaya Kampung Busu bertajuk "Festival Busu Janan Biyen". Penggunaan unsur sebutan "jaman byen (bahasa Indonesia "Tempo Dulu")" memberi gambaran bahwa festival budaya ini "berperspektif historis". Sejalan dengan perspektif itu, khasanah sisio-kutural yang mentradisi (tradisi budaya) yang tumbuh dan berkembang di Busu lintas gerasi bahkan lintas masa diekspresikan pada helat budaya Ini. Mengapa helat budaya ini mengambil tema waktu  "masa lalu (bahasa Jawa "jaman biyen)"? Mengapa tidak memperggunakan sebutan "Festival Busu Jaman Now"?

Bapak ibu dan Saudara Pecinta Budaya 

Kerinduan akan kehidupan masa lampau terkadang menjadi "impian sesaat" oleh orang-orang yang hidup di masa kini. Tak sedikit festival betajuk "Tempoe Doeloe" dihelat di banyak tempat pada satu hingga dua dasawarsa terakhir. Kehidupan yang damai, yang "gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo (aman, tentram, dau serta makmur)" pada masa lalu menjadi harapan hidup dari orang-orang masa kini, yang pada kesehariannya berada di dalam "kegundahan, kekurangan (kecingkrangan) dan kesulitan'. Jaman biyen dengan demikian tidak hanya difahami sebagai "kenangan (memory)", namun lebih dari itu merupakan "impian (dreaming)".

https://www.kampungadat.com/2026/04/Orasi-kebudayaan-tentang-busu-jaman-biyen-oleh-dwi-cahyono-sejarahwan-dan-arteolog-malang.html

Pada helat budaya berperspektif "masa lalu (jaman biyen)" yang demikian, nuansa arkais (lawasan), anasir tradisi, kenangan lama, maupun kebaikan hidup" yang pernah hadir di masa lalu dihadirkan kembali. Para hadirin dibawa serta untuk memasuki lorong-lorong kampung yang kala itu dikemas menjadi "lorong waktu kelampauan (ancient time tunel)". Helai budaya ini acap dijadikan sebagai wahana "healing" secara kultural dalam rangka menyembuhkan luka batin, peyakit mental atau kondidi emosional yang bisa jadi menghinggapi orang-orang masa kini guna memperoleh ketenangan, kenyamanan dan kesehatan mental yang lebih baik. Festival Budaya "BJB" dengan demikian adalah wahana healing bagi warga Dusun Busu dan dusun ataupun Desa-desa lain di sekitarnya. Helat budaya ini memiliki "daya magnit" untuk menarik kehadiran warga dusun Busu dan Dusun/Desa lain ke Dusun Busu untuk "berkenduri budaya" yang membahagiakan.

Bapa, ibu, dan Saudara yang Budiman  

Kehidupan sosial di  Busu masa pada masa lampau, yang diwarnai oleh jejaring sosial yang berupa kegotongroyongan dan kerja sama dalam tradisi "sayan (saya+an)" pada sesi ini seolah hadir kembali, sedari proses persiapan hingga pelaksanaan "Festival BJB". Festival budaya kampung Busu yang berbasis pada gotong royong dan dharma bhakti mendapat sokongan dari mayoritas warga dusun secara suka rela dan dalam suasana suka cita. Tanpa adanya fssiltasi dari pemerintah Desa, Kabupaten, Provinsi maupun Pusat pun festival budaya ini tetap dihelat dengan spirit sosial yang mandiri. Kata kunci (keyword) terselenggaranya adalah "kegotongroyongan" menurut tradisi "sayan". Pada ikatan sosial ini warga Busu ibarat untaian lidi dalam bentuk sapu lidi, yang dengan "kebersamaan"-nya mampu menghelat kegiatan akbar yang tak bakal mampu bila ditangani secara perorangan.

https://www.kampungadat.com/2026/04/Orasi-kebudayaan-tentang-busu-jaman-biyen-oleh-dwi-cahyono-sejarahwan-dan-arteolog-malang.html

Busu yang berada di lembah sisi selatan -barat Gunung Tengger adalah kampung tua. Meski merupakan kampung terakhir di tepian Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TN BTS), namun telah menjadi ajang kegiatan sosial- budaya semenjak amat lama. Konon Busu yang berada di Desa Slamparejo ini masuk ke dalam wilayah desa kuno Jebing -- kini berubah sebutan menjadi "Jabung", yakni sebutan untuk Desa dan Kecamatan di sub-area timur Kabupaten Malang. Keberadaan Desa Jebing disebutkan dalam prasasti tembaga (tamra prasasti) yang ditemukan di bukit Penanjakan, sehingga diberi sebutan "Prasasti Pamanjakan (1405/6 Masehi). Pada prasasti era Majapahit ini, Jebing dan empat desa lain di sekitarnya, yaitu desa (1) Kacaba (?), Walandit (kini disebut "Blandit" pada Desa Wonoejo), Mamanggis (kini "Manggis" di Desa Srigading), dan Lili (?) merupakan desa-desa "Tengger Mula", yang setiap tahun di pada Bulan Asada (kini disebuti  "Kasada") melakukan pemujaan terhadap "Gunung Suci Brama" sebagai tempat persemayaman Hyang Swayabhu (sebutan lengkap "Swayabhuva", yakni nama lain untuk Dewa Brahma).

Desa Jabung dan desa-desa lain tetangga-nya, termasuk Walandit, dengan demikian adalah "desa-desa bersejarah". Bahkan, desa kuno Muncang di tetangga Jabung  telah disebut di dalam Prasasti Muncang (944 Masehi). Pada desa di lereng selatan Gunung Tengger ini terdapat bangunan suci suci Walandit untuk pemujaan Sang Hyang Swayambhu. Untuk kepentingan itu desa Muncang ditetapkan sebagai "desa perdikan (sima atau swatantra)". Sebutan "muncang" adalah istilah Jawa Kuna dan Jawa Tengahan untuk rempah-rempah, yang di ddalam bahasa Jawa Baru disebut dengan "miri (bahasa Indonesia "kemiri"). Kini topinimi yang bersinonim arti dengan  "muncang" masih  tersimpan menjadi nama "Kemiri I, II dan III" di Kecamatan Jabung. Desa Kemiri bertetangga dengan Desa Wonorejo (Dusun Blandit berada di dalamnya), Desa Jabung (dulu dinamai "Jebing") dan Desa Slamparejo (Dusun Busu ada di wilayahnya).

Bapak, Ibu dan Saudara yang Bijaksana 

Sebagai "dusun bersejarah",, tepatlah bila Kampung Busu menghelat festival budaya yang berperspektif historis dengan tajuk "Busu Janan Biyen (BJB)". Festival ini turut menegaskan "historisitas Kampung Busu" sebagai kampung yang telah meniti sejarah panjang, sebagaimana terlibat dalam proses dinamika sosial-budayanya dari waktu ke waktu menuju ke arah kemajuan. Anasir sosial-budaya lama, yang kini hadir sebagai tradisi sosio-kultura merupakan "Warisan Sosial-Budaya (Socio-Cultural Heritage)" yang perlu dieksplorasi lantas dikonservasi (dilestarikan) sebagai sumberdaya sosial-budaya internal dusun Busu. Adapun anasir budaya baru luar yang memasuki Dusun Busu dopisisikan sebagai kekuatan eksternal yang berguna untuk membaharukan (mengatualisasiikan) aset ekologis, sosial dan kultural setempat.

Tradisi sosial dan budaya di Busu adalah suatu warisan budaya (cultural heritage) yang secara organik dilestarikan. Generasi tua berada di garda depan untuk melestari- kan warisan budaya masa lampau. Adapun generasi muda musti tampil sebagai "agen pembaharuan" untuk mengaktualisasikan kekayaan alam, sosial dan budaya lokalnya agar sesuai dengan kondisi dan keperkuan hidup  masa kini. Paduan antara dua ikhtiar itu, yaitu (a) konservasi dan (b) unovasi itu merupakan kekuatan internal untuk dapat mendinsmisasikan Dusun Busu ke arah kemajuan tanpa harus menyirnakan aset sisio-kultura yang telah mentradisi di dusunnya. Kreatifitas warga dusun adalah kunci untuk unovasi dusun. Anasir tradisi diolahkreasikan memjadi "tradisi-kreasi" agar sesuai dengan jiwa zaman (zeit geist).

Kampung Busu adalah dusun agraris, yang konon warganya membudidayakan padi jenis gaga di sawah pagagan dan palawija ditanah tegalnya. Kini budidaya padi dan palawija mulai tergeser oleh budidaya rumput gajah sebagai pakan sapi perah yang dibudidayakannya.  Sebagian yang lainnya mengisi waktu luang dalam bertani dengan  usaha kerajinan dan pertukangan. Konon dusun Slamparejo para sub-area timur Kabupaten Malang merupakan sentra kerajinan anyam bambu.  Ada pula yang merajin mainan anak dari bahan kayu. Para pekerja bangunan dan tukang kayu asal Busu  dikenal sebagai tukang bangunan yang terampil. Ini berarti bahwa kreatifitas telah cukup lama terbangun di Dusun Busu. Hingga kini pun sejumlah warga kampung Busu dikenal sebagai kreator handal di sektor kerajinan. Okeh karena itu, Kampung Busu layak menyandang predikat sebagai "Kampung Undagi/Undahagi yang warga dusunnya terbilang kreatif, sehingga bisa juga dipredikati sebagai "kampung kreatif"..

Untuk kepentingan kini serta mendatang, anasir tradisi yang menjadi kekayaan internal Kampung Busu perlu dibaharukan (up dating) dengan memanfaatkam anasir budaya baru dari luar secara adaptif untuk mendinamisasikan eko-sosio-kultura di Dusun Busu. Dengan cara demikian, maka Kampung Busu, yang pada satu dasawarsa terakhir menjelma menjadi "Kampung Sapi Perah" bakalan memperoleh kemajuannya dan membuahkan kesejahteraan bagi warga masyarakatnya. Selamat merayakan "Hari Raya Budaya Kampung" di Dusun Busu yang bertajuk "Busu Jaman Biyen (disingkat "BJB"". Semoga helat budaya tahunan ini bakal membuahkan ragam kefaedahan dan berlanjut ke helat BJB ke-4 pada tahun datang (2027).

Wassalamualaikum WR WB. Rahayu

Griyajar Citralekha, 9 April 2026

https://www.kampungadat.com/2026/04/rundown-bjb-fest-2026-festival-busu-jaman-biyen.html


RUNDOWN ACARA

Festival Busu Jaman Biyen (BJB Fest 2026)
“Rekonsiliasi Budaya di Tanah Adat”
๐Ÿ“… 10 – 12 April 2026
๐Ÿ“ Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kec. Jabung, Kab. Malang


Hari 1 – Jumat

Pagi (09.00 WIB – selesai)

  • Bubak’an
    Peserta: Masyarakat & Panitia

Siang (13.30 – 16.00 WIB)

  • Bangga Mendesะฐ: “Menjadi Mbusu”
    ๐Ÿ“ Area Dusun Busu RW 03

Sore (15.00 – 17.30 WIB)

  • Pawai Undang Tamu:
  • Sambutan dari Perwakilan dinas Kebudayaan dan pariwisata
  • Pepiling weweling Bapak Kepala Desa
  • Orasi budaya

17.30 WIB

  • Istirahat / Break Magrib

18.15 WIB

  • Persiapan & cek sound Keroncong
    Oleh: Grup Keroncong Senandung Sidorejo

18.30 – 21.00 WIB

  • Jeda Giat – Panggung Sambang
        ๐Ÿ“ (Area Bazar Gastronomi)

21.00 WIB

  • Keroncong Senandung Swara Sidorejo
    ๐Ÿ“ Panggung Utama
  • Mocopat oleh Mbok Ngatinah (Maestro Mocopat Malangan)
    ๐Ÿ“ Panggung 3 (Distrik RT 22)
  • Terbang Gandul
  • ๐Ÿ“ Panggung (Distrik RT 18)

Hari 2 – Sabtu

08.00 – 11.30 WIB

  • Bangga Mendesะฐ: “Riyayan Dolanan Rakyat”
    ๐Ÿ“ Dusun Busu RW 03

09.00 – 15.30 WIB

  • Bangga Mendesะฐ: “Menjadi Mbusu”
    ๐Ÿ“ Dusun Busu RW 03
15.30 - 19.00
  • Blocking perfom Topeng Darmo langgeng +check sound n karawitan
  • ๐Ÿ“ Panggung Utama
19.30-20.30
  • Gending Gending Pambuko
  • ๐Ÿ“ Panggung Utama
20.30 - 22.30
  • Pentas Wayang Topeng Darmo Langgeng ( panggung utama)
  • ๐Ÿ“ Panggung Utama
20.00- 22.00
  • Lagu lagu tempo dulu ( ciple legend) 
  • ๐Ÿ“ Districk RT 22.
22.30 - 23.00
  • closing

Hari 3 – Minggu

09.00 – 13.00 WIB

  • Bangga Mendesะฐ: “Riyayan Pembakti Kampung”
    ๐Ÿ“ Dusun Busu RW 03

09.00 – 15.00 WIB

  • Bangga Mendesะฐ: “Menjadi Mbusu”
    ๐Ÿ“ Dusun Busu RW 03

15.00 – 17.30 WIB

  • Bangga Mendesะฐ: “Uyon-Uyon Kampung”
    ๐Ÿ“ Dusun Busu RW 03

17.30 – 19.30 WIB

  • Break magrib dan Isyak

19.30 – 20.30 WIB

  • Prolog Ludruk organik
20.40 – 22.30 WIB
  • Drama "Ludruk organik" dalam lakon "Hikayat Keblek"
22.30 - Selesai
  • Closing
"Daftar lengkap nama pahlawan Kali Jahe di Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Mereka adalah pejuang Kompi Gagak Lodra yang gugur pada Agresi Militer Belanda II tahun 1948. Sejarah heroik ini menjadi saksi bisu perjuangan dan pengorbanan para pahlawan revolusi di Dusun Begawan."
https://www.kampungadat.com/2025/09/daftar-nama-pahlawan-kali-jahe-pandansari-lor-kecamatan-jabung-kabupaten-malang.html
Daftar Pahlawan Kali Jahe — Pandansari Lor, Kecamatan Jabung

Daftar Nama Pahlawan Kali Jahe — Pandansari Lor, Kecamatan Jabung

No Nama Pahlawan Alamat Lokasi
1Untung SugiatiJombangDawuhan Kali Jahe
2Bu RumaniyMojokerto=== " ===
3Pak GunturMojokertoDi Ladangnya P. Sentot
4Pak Sabar SoetopoMojokertoDi Ladangnya P. Untung
5Pak Sabar SubandiMojokerto=== " ===
6Pak Ahmad Kec. DlangguLetu Sutrisno MojokertoDi Ladangnya P. Sentot
7SuwarniJl. KH. Nawawi 25 MojokertoDawuhan Kali Jahe
8PunahP. Moenasir 519 Mojokerto=== " ===
9Rubai’yahNanasan TeburengDawuhan Kali Jahe
10KalfiatiSelorejo Batu=== " ===
11SunotoDungsari=== " ===
12SutomoBareng Kartini=== " ===
13JoyoBantur=== " ===
14PonoBantur=== " ===
15WagiranBareng Kartini=== " ===
16Pak JaliDungsari=== " ===
17WarnotoWajak=== " ===
18RumadiNglawangDi Atas Tugu
19DonoKarangplosoDi Bawah Pohon Intungan
20KastamanMalang Gang IDi Atas Tugu
21HastmanMojokertoDawuhan Kali Jahe
22IsmanKedung Kandan Bumi Ayu=== " ===
23MatudiDung Doto=== " ===
24ParmanTumpang=== " ===
25YansanKarangploso=== " ===
26ParmenKlampok Singosari=== " ===
27Samsul Hadi=== " ====== " ===
28Gatot=== " ===Di Atas Tugu
29Budi Utomo=== " ====== " ===
30Safari=== " ====== " ===
31Baturnya Hastomo (Kasiani)=== " ===Dawuhan Kali Jahe
32Abdul Ahmadi=== " ===Di Atas Tugu
33Wanudin=== " ====== " ===
34Taib=== " ====== " ===
35Pak Nun JakramPasuruanDitempuran Kali Jahe Jilu
36M. Asir JL. Anjasmoro Gg. I/27Lawang Ds. TurirejoAlas Mager Sari
37Pak TarminSelorejo BatuDi Bawah Pohon Intungan
38Pak Nari Ds. DhemunganNongko Jajar PasuruanAlas Magerwesi

Kisah Heroik Kompi Gagak Lodra dalam Pertempuran Melawan Belanda di Dusun Begawan, Pandansari Lor - Pada masa kelam Agresi Militer Belanda II, tepat tanggal 19 Desember 1948, dentuman senjata mengguncang tanah Malang. Kompi Gagak Lodra, pasukan gagah berani yang dipimpin oleh Kapten Sabar Soetopo, mendapat mandat mulia: membuka jalan bagi Batalyon Samsul Islam dan Batalyon Abd. Syarif. Tugas ini bukanlah perkara mudah—nyawa taruhannya.

https://www.kampungadat.com/2025/09/tragedi-gugurnya-para-pahlawan-kali-jahe-desa-pandansari-lor-kecamatan-jabung.html
Di tengah kabut pagi, pertempuran pecah. Rentetan peluru berdesing, meledak bersama semangat juang yang membara. Pasukan Belanda berusaha menutup jalan, namun keberanian Kompi Gagak Lodra tak tergoyahkan. Mereka bertempur habis-habisan, dada mereka menjadi tameng, nyawa mereka menjadi taruhan. Pertempuran itu dimenangkan, tetapi harga yang harus dibayar sungguh mahal. Tubuh-tubuh pejuang berserakan, darah mereka menyuburkan bumi pertiwi.

Esok harinya, 20 Desember 1948, perintah baru datang. Seksi Soeseno ditugaskan bertahan di Wajak hingga Desa Garotan, sementara Seksi Soetomo menjaga Wajak Utara. Mereka bukan hanya menghadang, tapi juga menghambat laju musuh yang semakin buas. Pertempuran kembali berkobar di banyak titik. Asap mesiu menutupi langit, jeritan perih bercampur dengan pekik semangat perjuangan.

https://www.kampungadat.com/2025/09/tragedi-gugurnya-para-pahlawan-kali-jahe-desa-pandansari-lor-kecamatan-jabung.html
Namun, perjuangan belum usai. Dalam pelariannya, Kompi Gagak Lodra mencari tempat untuk mengatur napas dan mengonsolidasikan kekuatan. Dusun Begawan, Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, menjadi pilihan. Mereka berharap sejenak beristirahat, menyusun strategi, dan menenangkan diri. Tetapi takdir berkata lain. Belanda telah lebih dulu menguasai daerah itu.

Tanpa ampun, pasukan musuh menggempur. Serangan datang tiba-tiba, bagaikan badai menghantam perahu rapuh. Para pejuang terjebak, tak sempat menghindar. Pertempuran sengit meledak di tengah dusun yang tenang. Jeritan “Merdeka!” menjadi saksi terakhir keberanian mereka.

https://www.kampungadat.com/2025/09/tragedi-gugurnya-para-pahlawan-kali-jahe-desa-pandansari-lor-kecamatan-jabung.html
Di antara kobaran api perlawanan, Kapten Sabar Soetopo berdiri tegak, memimpin hingga tetes darah terakhir. Ia gugur bersama kurang lebih 40 orang pasukannya, termasuk dua kadet muda yang penuh harapan Kadet Subandi dan Kadet Sumartono. Mereka berkorban, bukan hanya untuk tanah Malang, tetapi untuk Indonesia yang mereka cintai.

Sebagian kecil pejuang berhasil meloloskan diri ke perkampungan penduduk, membawa serta kisah heroik yang kelak abadi dalam ingatan bangsa. Sementara itu, tanah Dusun Begawan menjadi saksi bisu, tempat darah para pahlawan menyatu dengan bumi, mengukir sejarah yang tak akan pernah pudar.

Inilah kisah perjuangan para pahlawan Kali Jahe—kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta tanpa batas pada kemerdekaan. Mereka mungkin telah gugur, tetapi semangat mereka tetap hidup, menyala di dada setiap generasi penerus bangsa.

Dikutip dari Nararasi Upacara 17 Agustus di Pakam Pahlawan di Joban Jahe Tahun 2025

Desa Kemantren di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, memiliki jejak sejarah yang panjang. Menurut penuturan para sesepuh, kawasan ini dahulu berupa hutan rimba (alas) yang kemudian dibuka sedikit demi sedikit oleh para pendatang. Salah seorang tokoh pembuka wilayah dipercaya dimakamkan di daerah Alaskulak, tempat yang kemudian dianggap keramat dan dikenal sebagai situs “Petren” atau “Dayangan”.


https://www.kampungadat.com/2025/08/sejarah-desa-kemantren-asal-usul-tradisi-dan-perkembanganya.html
Seiring berjalannya waktu, hutan itu beralih fungsi menjadi permukiman. Aktivitas ekonomi awal masyarakat Kemantren banyak bertumpu pada hasil hutan. Penduduk melakukan kulak hasil hutan, yaitu membeli dan menjual kembali kayu, hasil bumi, maupun tanaman hutan. Dari aktivitas inilah lahir identitas lokal yang melekat pada asal-usul Desa Kemantren.

Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, kehidupan masyarakat berlangsung sederhana. Tekanan ekonomi dan sosial membuat warga harus bertahan dengan kondisi serba terbatas. Rumah-rumah masih berdinding gedek (anyaman bambu), sedangkan penerangan malam hari hanya memanfaatkan minyak dari pohon jarak. Meski begitu, masyarakat tetap menjaga budaya dan tradisi leluhur.

Salah satu tradisi penting adalah bersih desa serta ritual sakral bernama “tandakan”, sebuah tarian spiritual yang pernah populer terutama di masa kepemimpinan Petinggi Pudjan. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus pengikat persaudaraan warga.

Dalam hal kepemimpinan, Desa Kemantren sejak dahulu dipimpin oleh tokoh-tokoh asli masyarakat setempat. Mulai dari Kyai Marsuin di awal abad ke-20 hingga H. Mulyono yang menjabat sebagai Kepala Desa periode 2019–2025, estafet kepemimpinan tersebut mencerminkan kuatnya ikatan antara masyarakat dan tanah kelahiran mereka.

Hari ini, Sejarah Desa Kemantren Malang menjadi bagian penting dalam identitas masyarakat. Perjalanan panjang dari hutan belantara, masa penjajahan, hingga menjadi desa yang terus berkembang, menunjukkan bahwa Desa Kemantren tidak hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk generasi mendatang.

Desa Jabung adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Namanya mungkin terdengar sederhana, tetapi sejarah di baliknya ternyata menyimpan dua versi cerita yang berbeda. Mana yang benar? Itu semua kembali pada kepercayaan masing-masing.

Informasi tentang sejarah nama Jabung berasal dari beragam sumber:

https://www.kampungadat.com/2025/08/jejak-asal-usul-nama-jabung-antara-prasasti-kitab-dan-cerita-sesepuh.html

dari kisah turun-temurun para sesepuh desa, hasil kajian para arkeolog, hingga penafsiran dari Prasasti Kajabung yang menjadi artefak penting.

Versi dari Prasasti Kajabung

Dalam bahasa Indonesia, “Kajabung” diartikan sebagai mengambil kesempatan atau menunggu di suatu tempat. Dalam bahasa Jawa, istilah ini sepadan dengan kata nyanggong—menunggu atau menghadang, bahkan bisa berarti menunggu gerombolan pengacau lewat. Makna ini disimpulkan dari penafsiran prasasti yang kemudian dipadukan dengan cerita lisan dari para tetua desa.

Versi dari Kitab Paseban Yuda

Pendapat lain datang dari arkeolog sekaligus dosen Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono. Menurutnya, kata Jabung berasal dari istilah Jebing, yang ditemukan dalam Kitab Paseban Yuda. Dalam catatan kuno itu, Jabung disebut sebagai nama sebuah kepatihan yang sudah ada sejak tahun 760 Masehi.

Versi Cerita Sesepuh

Lain halnya dengan kisah yang diceritakan Mbah Giran, salah satu sesepuh masyarakat setempat. Menurutnya, pada masa penjajahan, Jabung adalah markas penting para penjajah karena lokasinya menjadi jalur penghubung antarwilayah kekuasaan. Dari sinilah muncul dugaan bahwa kata “Jabung” adalah singkatan dari Jajah (penjajah) dan Hubung (penghubung).

  • sejarah Desa Jabung
  • asal-usul Desa Jabung Malang
  • sejarah nama Jabung
  • Prasasti Kajabung
  • Kitab Paseban Yuda
  • cerita sesepuh Desa Jabung


Dari berbagai versi ini, kita melihat bahwa asal-usul nama Jabung adalah mosaik sejarah yang terbentuk dari catatan kuno, prasasti, dan cerita rakyat. Mana yang paling benar? Biarlah waktu, bukti, dan keyakinan pribadi yang menjawabnya.


Sumber : www.wearemania.net

https://www.kampungadat.com/2025/07/filosofi-logo-kecamatan-jabung.html
1. Warna:
  • ๐ŸŸข Hijau: Melambangkan kekuatan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Jabung.
  • ๐Ÿ”ด Merah: Simbol keberanian, semangat pantang menyerah, dan dedikasi dalam membangun wilayah.

✳️ Huruf "A" – Tugu Jabung
  • Tugu yang disematkan di huruf A adalah Tugu Jabung, ikon sejarah dan simbol peradaban di Kecamatan Jabung.
  • Menggambarkan kebanggaan budaya, akar sejarah, serta kekuatan identitas lokal yang kokoh.
Huruf "B" – Biji Kopi
  • Unsur biji kopi pada huruf B mewakili kopi Jabung sebagai produk unggulan dan komoditas ekonomi kreatif yang sedang tumbuh.
  • Mewakili kesejahteraan petani serta semangat wirausaha masyarakat desa.
๐ŸŽญ Huruf "G" – Hidung Topeng Bapang
  • Hidung khas topeng Bapang pada huruf G adalah representasi dari kesenian tari topeng  Malangan/ Topeng Wayang Jabung yang masih dilestarikan di Jabung.
  • Simbol kekayaan budaya lokal, kreativitas, dan warisan leluhur yang hidup di tengah masyarakat.

https://www.kampungadat.com/2025/07/filosofi-logo-kecamatan-jabung.html
3. Tagline: "Berbudaya, Inspiratif, Sinergi, Adaptif"

Logo Kecamatan Jabung mengandung simbol-simbol khas yang mencerminkan identitas, potensi unggulan, dan semangat masyarakatnya.

2. Elemen Visual dalam Tulisan "JABUNG":

  • Berbudaya: Menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi, adat, dan seni lokal.

  • Inspiratif: Menjadi contoh semangat kolaborasi dan inovasi masyarakat desa.

  • Sinergi: Gotong royong antara pemerintah, warga, dan stakeholder.

  • Adaptif: Tangguh dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.


Di sebuah sudut timur Kecamatan Jabung, tersembunyi sebuah desa yang memiliki kisah unik dan hampir tak dipercaya oleh logika. Namun, inilah cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi—kisah tentang Gading Gajah Kembar, yang menjadi nama sekaligus identitas Desa Gadingkembar.

Konon, pada zaman dahulu kala, hutan-hutan lebat membentang luas di wilayah ini. Belum ada permukiman, hanya sunyi dan suara alam. Sampai datanglah dua orang perantau dari tanah jauh—yang satu berasal dari Mataram, dan satu lagi dari Pekalongan. Tanpa saling mengenal, keduanya melakukan babat alas, membuka lahan untuk dijadikan tempat tinggal.

Di tengah perjuangan mereka menaklukkan rimba, sesuatu yang luar biasa terjadi. Masing-masing dari mereka menemukan gading gajah, di tempat yang berbeda. Sebuah penemuan langka yang tak bisa dijelaskan secara biasa. Dan yang lebih mengejutkan—saat kedua gading itu dipertemukan, keduanya identik, persis seperti kembar. Tidak ada beda sedikit pun.

Masyarakat percaya, ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah pertanda alam, simbol persatuan dari dua kekuatan yang berbeda. Dari sinilah, desa yang mereka bangun bersama diberi nama:

GADINGKEMBAR — Gading yang Kembar.


Menyatukan Wilayah, Merajut Desa

Sebelum nama Gadingkembar dikenal seperti sekarang, wilayah ini adalah kumpulan pemerintahan kecil yang terpisah:

Di wilayah Gasek Kulon, dipimpin oleh Pak Karja,
Di Gading, oleh Pak Dasud,
Dan di Dempok, oleh Pak Garmo.

Pada masa itu, jabatan kepala desa sering diwariskan secara turun-temurun. Setelah wafatnya Pak Karja, kepemimpinan beralih ke anaknya Pak Tijah, lalu dilanjutkan oleh saudaranya Pak Amir, kemudian Pak Jiman.

Di bawah kepemimpinan Pak Jiman, perubahan besar terjadi. Beliau menyatukan wilayah-wilayah tersebut menjadi satu kesatuan desa, dan resmilah berdiri Desa Gadingkembar. Desa ini kemudian terbagi menjadi empat dusun:

Dusun Gasek Kulon
Dusun Gasek Wetan
Dusun Gading
Dusun Dempok

Pak Jiman dikenal sebagai sosok pemimpin yang bijak dan pemersatu. Setelah beliau wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh:

Pak Sukanah (5 tahun),
Pak Asrop (1 tahun),
Pak Dahun (selama 27 tahun, masa terpanjang dalam sejarah desa),
Hingga akhirnya, pada masa penjajahan, desa dipimpin oleh Pak Damun, anak dari Pak Jiman.

Warisan yang Hidup

Kini, Desa Gadingkembar bukan lagi hutan sunyi. Ia telah tumbuh menjadi desa yang hidup, penuh warna dan aktivitas. Tapi kisah tentang dua gading gajah kembar, tentang para pemimpin bijak yang menyatukan wilayah, tetap hidup dalam hati warganya.

Karena dari cerita itulah, Gadingkembar bukan hanya nama. Ia adalah simbol persatuan, kerja keras, dan warisan luhur yang patut dijaga selamanya.


Sumber : desagadingkembar.wordpress.com 

 

Bebarengan Ujudake Sejahteraning Urip
Bersama Mewujudkan Kesejahteraan Hidup

https://www.kampungadat.com/2025/07/bukan-sekadar-nama-inilah-makna-singkatan-busu-yang-jarang-diketahui.html
Kalimat sederhana dalam bahasa Jawa ini memiliki makna yang dalam dan menyentuh:

“Bebarengan ujudake sejahteraning urip”Bersama-sama mewujudkan kesejahteraan hidup.

Di balik rangkaian kata ini tersimpan filosofi luhur masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong, dan semangat untuk saling membantu demi kehidupan yang lebih baik.

๐Ÿ”น Makna Kebersamaan

Kata "bebarengan" bukan sekadar berarti bersama-sama secara fisik, namun juga secara hati, niat, dan tujuan. Ia mengajak setiap individu untuk tidak berjalan sendiri-sendiri, tapi melangkah bersama, saling mendukung, dan saling menguatkan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

๐Ÿ”น Tujuan Mulia: Sejahtera

Sementara itu, "sejahteraning urip" atau kesejahteraan hidup tidak hanya diartikan secara materiil, namun juga meliputi ketenangan batin, keamanan, kesehatan, dan hubungan sosial yang harmonis. Kesejahteraan sejati adalah ketika semua lapisan masyarakat bisa hidup dengan layak, adil, dan bahagia.

๐Ÿ”น Implementasi dalam Kehidupan Desa dan Komunitas

Dalam kehidupan desa atau komunitas, filosofi ini bisa menjadi pedoman utama pembangunan dan kebijakan sosial. Dari program pemberdayaan ekonomi, pengelolaan lingkungan, hingga pendidikan masyarakat — semua akan lebih kuat dan berhasil bila dilakukan secara kolektif.

Seperti pepatah Jawa yang lain mengatakan:

“Sikil kiwa lan tengen kudu bisa mlaku bareng”
(Kaki kiri dan kanan harus bisa melangkah bersamaan).

๐Ÿ”น Penutup

"Bebarengan ujudake sejahteraning urip" bukan hanya sekadar slogan. Ia adalah ajakan untuk bersatu, bekerja bersama, dan mewujudkan cita-cita hidup yang lebih baik — tidak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk semua.

Mari kita jadikan nilai ini sebagai semangat dalam setiap langkah pembangunan, dari desa, komunitas, hingga bangsa.

Di balik tenangnya alam dan ramahnya penduduk Desa Slamparejo, tersimpan kisah penuh perjuangan dari masa lampau. Sebuah kisah tentang tekad, pengorbanan, dan keberanian seorang pengembara yang kini dikenang sebagai pendiri desa — Mbah Gude.

Berabad-abad silam, Mbah Gude bersama rombongan kecilnya melakukan perjalanan jauh dari tanah Mataram. Tujuan mereka sederhana namun mulia: membuka lahan baru dan membangun kehidupan yang damai. Perjalanan membawa mereka ke sebuah tempat yang kala itu dikenal sebagai Peteguhan, yang kini menjadi wilayah Desa Argosari.

Gambar ini hanya ilustrasi

Namun, kedatangan mereka tidak diterima dengan hangat. Penduduk Peteguhan merasa terancam dan menolak kehadiran para pendatang baru. Terjadilah pengusiran. Tapi Mbah Gude bukan orang yang mudah menyerah. Ia justru melihat penolakan itu sebagai petunjuk untuk menemukan tanah yang lebih tepat.

Perjalanan pun berlanjut ke arah utara — menuju wilayah yang saat itu masih berupa hutan belantara. Dengan tekad yang tak tergoyahkan, Mbah Gude dan para pengikutnya mulai menebangi pepohonan, membuka jalan di tengah hutan. Mereka menembus lebatnya alam hingga akhirnya menciptakan pemukiman kecil yang diberi nama Busu, berasal dari kata Tembusan, tempat mereka “menembus” rimba demi harapan baru.

Namun, perjuangan belum usai. Tanah di Busu berbukit dan sulit dijadikan lahan pertanian yang luas. Maka mereka kembali melanjutkan perjalanan lebih ke utara. Di sanalah mereka menemui tantangan baru: rawa-rawa yang dalam dan berbahaya. Tak putus asa, mereka mengikatkan tampar (tali) antar pohon untuk bisa menyeberangi rawa secara bergantian — sebuah aksi yang kemudian dikenal sebagai “nylamper”.

Setelah berhasil melewati rintangan alam itu dan membabat hutan di seberangnya, terbentuklah sebuah daerah baru yang dinamai Slampar, dari kata “tampar” yang menjadi simbol perjuangan mereka. Seiring berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi desa yang kini dikenal sebagai Desa Slamparejo.

Dua dusun pun lahir dari perjuangan ini: Dusun Busu yang menjadi saksi awal pembukaan lahan, dan Dusun Krajan yang berkembang seiring dengan bertambahnya penduduk.


Warisan Semangat

Kini, Desa Slamparejo bukan sekadar titik di peta Kecamatan Jabung. Ia adalah warisan sejarah, tempat di mana jejak langkah Mbah Gude terus hidup dalam semangat gotong royong, kerja keras, dan cinta tanah kelahiran. Setiap warga yang menapakkan kaki di desa ini, tanpa sadar telah menjadi bagian dari cerita panjang yang dimulai dari seutas tampar dan tekad yang tak pernah pudar.