Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
https://www.kampungadat.com/2026/04/taufik-nurahman-di-antara-waktu-dan-pengabdian-di-jabung.html
Sambutan Camat Jabung Taufik Nurahman
( Fest Busu Jaman Biyen )

Kepergian seorang pemimpin sering kali baru terasa betapa berharganya ketika ia benar-benar harus melangkah pergi. Itulah yang kini dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Jabung saat melepas sosok camat yang begitu istimewa, Taufik Nurahman.


Beliau bukan sekadar pejabat yang datang dan menjalankan tugas administratif. Perjalanan kariernya yang dimulai dari sekretaris kelurahan (seklur), kemudian lurah, sekretaris kecamatan (sekcam), hingga akhirnya menjadi camat, membentuk beliau sebagai pemimpin yang matang, memahami birokrasi dari bawah, dan yang terpenting—memahami masyarakatnya.


Kurang lebih empat tahun beliau membersamai Jabung. Waktu yang mungkin terasa singkat dalam hitungan kalender, tetapi begitu panjang dalam jejak pengabdian. Sosoknya dikenal sangat rendah hati, hangat, dan tanpa sekat. Tidak ada jarak antara beliau dengan masyarakat. Ia hadir bukan sebagai atasan, melainkan sebagai bagian dari warga itu sendiri.


Hampir di setiap kegiatan dan undangan masyarakat, beliau selalu berusaha hadir. Bahkan di tengah kesibukan yang padat, beliau menyempatkan diri untuk datang, selama tidak bersamaan dengan agenda lain. Ada satu kalimat beliau yang begitu membekas: bahwa selama beliau masih mampu berdiri dan belum “tumbang”, beliau akan datang memenuhi undangan masyarakat. Kalimat sederhana, tetapi mencerminkan dedikasi yang luar biasa.


Latar belakang pendidikannya sebagai lulusan STPDN (kini IPDN) juga tercermin dalam kepemimpinannya yang disiplin, tetapi tetap membumi. Salah satu warisan gagasan beliau yang sangat dirasakan manfaatnya adalah program SIBACA JABUNG (Sinau Bareng Camat Jabung). Program ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang belajar bersama yang dilaksanakan bergilir di desa-desa se-Kecamatan Jabung.


Melalui SIBACA, berbagai tema strategis diangkat sesuai kebutuhan masyarakat—mulai dari pengembangan UMKM, literasi desa, pemanfaatan aset desa, pencegahan perkawinan anak, hingga edukasi kebijakan seperti PBB-P2 dan Posyandu Terintegrasi. Program ini menjadi bukti bahwa beliau tidak hanya memimpin, tetapi juga menggerakkan dan memberdayakan.


Di bidang kebudayaan pun, beliau menunjukkan dukungan yang nyata. Salah satu momen yang masih hangat dalam ingatan adalah kehadiran beliau saat membuka kegiatan Busu Jaman Biyen bersama Kadisparbud dan Kepala Desa Slamparejo. Kehadiran itu bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk kecintaan terhadap budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat.


Menjelang kepindahannya, beliau juga menyempatkan diri berpamitan melalui grup kesenian Kecamatan Jabung. Sebuah gestur sederhana, namun penuh makna, yang kembali menegaskan kedekatan beliau dengan para pelaku seni dan budaya di wilayah ini. Tidak berlebihan jika kemudian rasa kehilangan datang dari berbagai lapisan masyarakat.


Ungkapan haru dan doa pun mengalir dari banyak pihak. Arif Zulfan menyampaikan, “Selamat bertugas di tempat baru, setiap rumah di Jabung adalah rumah keluarga njenengan. Jangan segan mampir.” Sementara Nasai menuturkan, “Terima kasih atas segala sumbangsihnya, njenengan paling idola, Pak. Mugi selalu dalam limpahan keberkahan dan kesuksesan selalu… amiin.”


Dari Sam Fuad, terselip kehangatan persaudaraan, “Semangat, Pakku… di manapun njenengan berada, kita semua tetap seduluran.” Bahkan dari kelompok tani pun, kenangan tak kalah hangat disampaikan oleh Pak Hendry, “Pak Komandan, kami Kelompok Tani Usaha Maju II Argosari akan selalu rindu menanam bersama panjenengan, hehe… walaupun tidak masuk konteks.” Ucapan yang sederhana, namun justru menggambarkan betapa dekatnya beliau dengan berbagai kalangan.


Saat momen pelepasan dan kenang-kenangan, kata-kata seakan tak lagi mampu mewakili perasaan. Suasana haru tak terbendung—tangis, ucapan terima kasih, dan permohonan maaf mengalir begitu saja. Bahkan, gelombang rasa kehilangan itu terasa luas di masyarakat. Hampir di setiap story dan status media sosial, terpampang foto beliau disertai ucapan terima kasih dan doa.

Itu semua menjadi bukti bahwa beliau bukan hanya dikenang sebagai camat, tetapi sebagai sosok yang benar-benar hadir di hati masyarakat.


Selamat bertugas di tempat yang baru, Bapak Taufik Nurahman. Jejak pengabdian panjenengan di Jabung akan selalu hidup dan menjadi inspirasi. Terima kasih atas dedikasi, ketulusan, dan kebersamaan yang telah diberikan. Jabung mungkin kehilangan seorang camat, tetapi akan selalu memiliki kenangan tentang seorang pemimpin yang istimewa.

Festival Busu Jaman Biyen (BJB Fest) 2026 resmi kembali hadir menyapa masyarakat setelah vakum selama lebih dari lima tahun akibat pandemi COVID-19. Berlokasi di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, gelaran yang berlangsung pada 10-12 April 2026 ini mengusung tema besar “Rekonsiliasi Budaya di Tanah Adat”.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi, tetapi juga momentum kebangkitan ekonomi dan pemulihan identitas lokal masyarakat pascapandemi.

Suasana Warga Mendalami Karakter Busu Jaman Biyen
(Foto by Boem )
Daya Tarik Utama BJB Fest 2026 Rekonsiliasi Budaya dan Tradisi BJB Fest 2026 menawarkan pengalaman unik yang membedakannya dari festival desa lainnya. Berikut adalah beberapa highlight utama dari acara tersebut:

1. Suasana Desa Tempo Dulu yang Autentik
Pengunjung yang datang akan disambut dengan suasana pedesaan masa lalu yang kental. Pada malam hari, pencahayaan di lokasi festival tidak menggunakan lampu modern, melainkan hanya mengandalkan obor di sudut-sudut jalan untuk menciptakan nuansa mistis dan klasik.

2. Gastronomi Nusantara: Kuliner Tradisional Langsung dari Rumah Warga
Salah satu keunikan utama festival ini adalah partisipasi organik warga. Setiap rumah warga di wilayah RW 03 disulap menjadi lapak kuliner tradisional yang menyajikan hasil bumi lokal. Pengunjung dapat menikmati hidangan khas seperti:
  • Nasi Jagung
  • Jenang Grendul
  • Gulali dan Kacang Rebus
Tidak hanya membeli, pengunjung juga bisa melihat langsung proses pengolahan makanan secara tradisional, mulai dari menumbuk bahan hingga menggiling jagung menggunakan alat kuno.


3. Pertunjukan Seni dan Budaya yang Memukau
Festival ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui program Dana Indonesiana 2026. Berbagai atraksi seni yang ditampilkan antara lain:

  • Pawai Budaya keliling dusun sebagai pembuka acara.
  • Tari Topeng Gunungsari khas Jabung.
  • Ludruk Organik yang dipentaskan oleh petani lokal tanpa latar belakang seni formal.
  • Teater Tari “Pengakuan Rahwana” dari Malang Dance yang memberikan perspektif baru tentang tokoh Rahwana sebagai simbol cinta sejati.
  • Pemberdayaan Ekonomi dan Gotong Royong Warga

Ketua Pelaksana BJB 2026, Depi Ari Cahyono (Kusnadi), menekankan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah pemberdayaan dan kemanfaatan masyarakat. Panitia tidak memungut biaya bagi warga yang ingin berjualan, sehingga mendorong partisipasi tinggi dari pelaku UMKM lokal. Dari target awal 25 lapak, antusiasme warga melonjak hingga lebih dari 50 pendaftar.
Selain kuliner, atraksi "pekerjaan kasar" masa lalu juga ditampilkan oleh pemuda setempat, seperti memotong kayu dengan alat kuno dan menggendong kayu menggunakan keranjang tradisional khas tahun 1980-an.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Malang
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, menyatakan kekagumannya atas militansi warga Dusun Busu dalam menjaga warisan leluhur. Ia berkomitmen untuk menjadikan Busu Jaman Biyen Festival sebagai agenda rutin tahunan dalam kalender wisata resmi Kabupaten Malang.

Di sebuah desa di Malang pada era 1960–1980-an, kehidupan masyarakat masih penuh keterbatasan. Warga hidup sederhana sebagai petani kecil, buruh, dan pencari nafkah seadanya. Meski serba kekurangan, mereka berusaha tetap bersyukur dan menjaga kebersamaan.

https://www.kampungadat.com/2026/04/gambaran-cerita-ludruk-organik-dengan-judul-hikayat-keplek-di-acara-bjb-fest-2026.html
Namun, ketenangan desa mulai terusik oleh kejadian aneh: beras warga tiba-tiba berkurang secara misterius. Dari satu rumah ke rumah lain, dari dusun ke dusun, kabar tentang makhluk gaib bernama “Keblek” mulai menyebar. Sosok ini dipercaya sebagai siluman pencuri beras, berwujud hitam, menyeramkan, dan sering dikaitkan dengan pesugihan.

Awalnya hanya desas-desus, tapi kejadian demi kejadian membuat warga resah.

  • Di pos ronda, warga mulai membicarakan kesulitan hidup dan harapan akan kesejahteraan.
  • Di rumah-rumah, para ibu menyadari stok beras mereka menyusut tanpa sebab.
  • Di pasar, kabar Keblek menjadi perbincangan hangat, bahkan bercampur candaan dan ketakutan.
  • Anak-anak yang pulang malam pun mulai merasakan kejanggalan hingga akhirnya melihat sosok misterius di kegelapan.

Ketakutan berubah menjadi kepanikan. Warga meningkatkan ronda malam, meminta bantuan dukun, hingga melakukan berbagai ritual untuk menangkap Keblek. Namun, semua usaha belum membuahkan hasil.

Di sisi lain, kisah menyentuh muncul dari Mbok Surti dan anaknya, Wagiah, yang hidup dalam kemiskinan. Mereka hanya mengandalkan sisa panen orang lain untuk bertahan hidup. Ironisnya, beras yang mereka kumpulkan dengan susah payah pun ikut hilang. Hal ini menambah luka dan kemarahan mereka terhadap “Keblek”.

https://www.kampungadat.com/2026/04/gambaran-cerita-ludruk-organik-dengan-judul-hikayat-keplek-di-acara-bjb-fest-2026.html

Akhirnya, warga sepakat melakukan ikhtiar bersama:

  • Berpuasa di hari tertentu
  • Berkumpul di perempatan desa saat malam
  • Menggunakan cara-cara tradisional untuk memancing dan menangkap Keblek

Malam penentuan pun tiba. Suasana mencekam, gelap, penuh ketegangan. Warga bersiap menghadapi sesuatu yang tak pasti—apakah benar Keblek itu makhluk gaib, atau justru ada rahasia lain di balik semua kejadian ini?


Inti Cerita (Makna)

Cerita ini bukan sekadar tentang makhluk gaib, tetapi juga menggambarkan:

  • Kerasnya hidup masyarakat desa
  • Godaan keserakahan vs rasa syukur
  • Ketakutan kolektif yang bisa membesar karena isu
  • Kemungkinan bahwa “Keblek” bukan hanya makhluk, tapi simbol dari keserakahan manusia



JABUNG – Langit Dusun Busu malam itu, Sabtu (4/4/2026), tidak sedang ingin bersahabat. Gerimis turun malu-malu, memeluk udara dengan kelembapan yang menusuk tulang. Namun, di pelataran rumah Pak Ngatenu, dingin tak punya kuasa. Sebuah panggung sederhana berukuran 8x6 meter, berbalut kain hitam legam tanpa “gincu” banner kegiatan, berdiri tegak menjadi kanvas murni bagi sebuah peristiwa budaya yang akan dicatat oleh ingatan.

Malam itu adalah awal dari pengembaraan panjang Malang Dance. Dusun Busu dipilih menjadi saksi pertama pembukaan tur tiga kota (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu) untuk karya teater tari kolosal: “Pengakuan Rahwana”. Sebuah karya yang membedah relung hati sang raksasa, diadaptasi dari bait-bait puitis “Kemelut Cinta Rahwana” karya Begawan Sastra, Prof. Dr. Djoko Saryono.

https://www.kampungadat.com/2026/04/sajak-gerimis-di-pelataran-busu-kala-rahwana-menitipkan-cintanya-pada-tanah-adat.html
Meski rintik hujan kian padat, warga Busu tidak bergeming. Mereka merangsek, mencari celah di teras-teras rumah, memastikan mata tak kehilangan sedetik pun magis di atas panggung. Sebelum sang Dasamuka muncul, suasana dipanaskan oleh gemulai Tarian Mban Egrek dari Sanggar Kopi Maknyak Prigen. Tak lama, alunan musik balada dari Tali Jiwa menghipnotis warga Busu dengan sajak-sajak Iwan Fals, membawa penonton dalam perenungan yang dalam sebelum hujan memaksa alat musik mereka menepi lebih awal.

Namun, jeda itu tak dibiarkan sunyi. Ludruk Organik naik panggung lebih cepat dari jadwal semula. Pak Ngatenu, sang empunya rumah, menjelma menjadi artis dengan membanggakan nama panggilkannya Londo Gendeng. Dengan peci merah dan banyolan khasnya, ia menjadi jembatan rasa, mengabarkan pada warga bahwa malam ini adalah pertunjukan ke-55 bagi sang Rahwana, sebuah pencapaian emas yang dimulai dari tanah Jabung sebelum melawat ke Taman Krida Budaya Malang dan berakhir di Amphiteater Arjuna Wiwaha, Batu.

Kala gerimis mulai menyusut, api semangat justru kian membara. Sesi lawak Ludruk Organik mendadak sunyi saat sosok Winarto Ekram muncul di atas panggung. Bukan sebagai koreografer, melainkan sebagai sang pemuja cinta Rahwana.

https://www.kampungadat.com/2026/04/sajak-gerimis-di-pelataran-busu-kala-rahwana-menitipkan-cintanya-pada-tanah-adat.html

Pertunjukan dimulai dengan lengkingan biola yang jernih, membelah kesunyian malam Busu yang sejuk. Selama satu jam, penonton seolah dipindahkan ke dimensi lain. Mereka tak lagi melihat Rahwana sebagai antagonis yang banal, melainkan sosok yang membawa kemurnian dan ketulusan cinta pada Dewi Sinta.

Langkah kaki yang tegas, sorot mata yang tajam dalam balutan tata cahaya yang dramatis, hingga riuhnya pasukan kera dan lincahnya Hanoman, merangkai sebuah narasi yang apik. Totalitas para penari di bawah suhu dingin Jabung menciptakan kehangatan yang tak kasat mata.

Decak kagum membuncah saat pertunjukan usai. Tidak ada jarak antara sang maestro dan warga biasa. Malam yang diawali dengan kecemasan akan hujan, ditutup dengan tawa dan sesi foto bersama yang akrab.

https://www.kampungadat.com/2026/04/sajak-gerimis-di-pelataran-busu-kala-rahwana-menitipkan-cintanya-pada-tanah-adat.html

Di Dusun Busu, Rahwana telah "mengaku". Bukan mengakui kekalahan, melainkan mengakui bahwa cinta yang tulus dan seni yang membumi akan selalu menemukan jalannya untuk pulang ke hati masyarakat, sedingin apa pun cuaca yang menyertainya.

Malang, 22 Februari 2026 – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar acara Penyerahan Apresiasi Seniman/Pelaku Budaya, Tunjangan Kehormatan Juru Pelihara Cagar Budaya, dan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang dilaksanakan di Taman Krida Budaya, Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang, Sabtu (22/2/2026).

Acara bergengsi tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Timur, serta dihadiri para Bupati dan Wali Kota se-Jawa Timur, jajaran pejabat pemerintah provinsi, kepala dinas kebudayaan, tokoh masyarakat, serta para seniman dan pelaku budaya dari berbagai daerah di Jawa Timur.


Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Timur menyampaikan bahwa kebudayaan merupakan identitas sekaligus kekuatan bangsa yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Menurutnya, para seniman dan pelaku budaya memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai luhur, tradisi, serta kearifan lokal yang menjadi ciri khas Jawa Timur.

“Warisan budaya harus terus tumbuh dan memberi manfaat sosial serta ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, budaya menjadi identitas sekaligus kekuatan pembangunan Jawa Timur

Pada kesempatan tersebut, diberikan penghargaan kepada para seniman dan pelaku budaya berprestasi, serta penyerahan tunjangan kehormatan kepada juru pelihara cagar budaya yang selama ini menjaga situs-situs bersejarah di berbagai kabupaten/kota. Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada pihak-pihak yang berperan dalam pelestarian Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, seperti seni pertunjukan tradisional, upacara adat, kerajinan, dan tradisi lisan.

Kehadiran para Bupati dan Wali Kota se-Jawa Timur menunjukkan sinergi kuat antara pemerintah provinsi dan pemerintah daerah dalam memperkuat pembangunan sektor kebudayaan. Para kepala daerah menyatakan komitmennya untuk terus mendukung para pelaku budaya melalui program pembinaan, fasilitasi kegiatan seni, hingga perlindungan hukum terhadap warisan budaya daerah.

Acara berlangsung khidmat dan meriah, diawali dengan penampilan Topeng Panji atau Topeng Malangan yang dibawakan oleh para seniman perwakilan dari berbagai sanggar seni di Jawa Timur. Pertunjukan tersebut memukau para tamu undangan dengan gerak tari yang anggun, karakter topeng yang khas, serta iringan musik tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya Malangan sebagai bagian dari warisan budaya Jawa Timur.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari, menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2026 Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan apresiasi kepada 640 orang penerima, yang terdiri atas 500 pelaku budaya/seniman dan 100 Juru Pelihara Cagar Budaya.

Pada acara tersebut, penyerahan dilakukan secara simbolis kepada 100 pelaku budaya dan 20 juru pelihara cagar budaya sebagai perwakilan dari seluruh penerima apresiasi tahun ini.

Ia menegaskan bahwa pemberian apresiasi ini merupakan bentuk komitmen Pemprov Jatim dalam mendukung keberlangsungan pelestarian seni, tradisi, dan cagar budaya di berbagai daerah di Jawa Timur.

MALANG – Kesenian tradisional Bantengan Lereng Semeru milik Kabupaten Malang kini resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Pengakuan tersebut diberikan oleh Pemerintah Pusat dan diterima secara simbolis oleh Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M dalam acara Penyerahan Apresiasi Seniman dan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang.

Penyerahan sertifikat dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, sebagai bentuk apresiasi terhadap komitmen pelestarian budaya daerah yang terus dijaga oleh masyarakat Kabupaten Malang, khususnya di wilayah lereng Gunung Semeru.

Gambar Bantengan Lereng Semeru
Sumber Gambar : https://matic.malangkab.go.id/

Bantengan Lereng Semeru, Seni Tradisi Penuh Energi dan Spiritualitas

Bantengan Lereng Semeru merupakan kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di kawasan lereng Gunung Semeru, Kabupaten Malang. Kesenian ini memadukan unsur tari, musik tradisional, kekuatan fisik, serta nilai spiritual yang kental.

Dalam pertunjukannya, Bantengan menampilkan sosok banteng sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan semangat perjuangan. Gerakan dinamis para pemain diiringi tabuhan musik tradisional yang menghentak, menciptakan suasana sakral sekaligus penuh energi.

Tidak hanya sebagai hiburan rakyat, Bantengan Lereng Semeru juga memiliki makna filosofis mendalam. Kesenian ini mencerminkan karakter masyarakat lereng Semeru yang tangguh, kompak, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong.

Identitas Budaya Kabupaten Malang

Pengakuan Bantengan Lereng Semeru sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia semakin memperkaya khazanah budaya Kabupaten Malang dan Provinsi Jawa Timur secara nasional. Status ini menjadi bukti bahwa kesenian tradisional daerah memiliki nilai penting yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Timur menegaskan bahwa sinergi antara pelaku budaya, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya.

“Tanpa kolaborasi, warisan hanya akan menjadi catatan sejarah, bukan praktik hidup yang terus diwariskan,” tegasnya.

Foto penyerahan sertifikat secara simbolis dari gubenur jawa timur ke bupati malang
Sumber Gambar : Kominfo Kabupaten

Komitmen Pelestarian dan Regenerasi

Dengan ditetapkannya Bantengan Lereng Semeru sebagai WBTB Indonesia, diharapkan upaya pelestarian semakin diperkuat, termasuk melalui pembinaan kelompok seni, edukasi budaya kepada generasi muda, serta promosi dalam berbagai event budaya dan pariwisata.

Bantengan Lereng Semeru kini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat lereng Semeru, tetapi juga simbol kekayaan budaya Kabupaten Malang yang diakui secara nasional.

https://www.kampungadat.com/2025/07/filosofi-logo-kecamatan-jabung.html
1. Warna:
  • 🟢 Hijau: Melambangkan kekuatan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Jabung.
  • 🔴 Merah: Simbol keberanian, semangat pantang menyerah, dan dedikasi dalam membangun wilayah.

✳️ Huruf "A" – Tugu Jabung
  • Tugu yang disematkan di huruf A adalah Tugu Jabung, ikon sejarah dan simbol peradaban di Kecamatan Jabung.
  • Menggambarkan kebanggaan budaya, akar sejarah, serta kekuatan identitas lokal yang kokoh.
Huruf "B" – Biji Kopi
  • Unsur biji kopi pada huruf B mewakili kopi Jabung sebagai produk unggulan dan komoditas ekonomi kreatif yang sedang tumbuh.
  • Mewakili kesejahteraan petani serta semangat wirausaha masyarakat desa.
🎭 Huruf "G" – Hidung Topeng Bapang
  • Hidung khas topeng Bapang pada huruf G adalah representasi dari kesenian tari topeng  Malangan/ Topeng Wayang Jabung yang masih dilestarikan di Jabung.
  • Simbol kekayaan budaya lokal, kreativitas, dan warisan leluhur yang hidup di tengah masyarakat.

https://www.kampungadat.com/2025/07/filosofi-logo-kecamatan-jabung.html
3. Tagline: "Berbudaya, Inspiratif, Sinergi, Adaptif"

Logo Kecamatan Jabung mengandung simbol-simbol khas yang mencerminkan identitas, potensi unggulan, dan semangat masyarakatnya.

2. Elemen Visual dalam Tulisan "JABUNG":

  • Berbudaya: Menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi, adat, dan seni lokal.

  • Inspiratif: Menjadi contoh semangat kolaborasi dan inovasi masyarakat desa.

  • Sinergi: Gotong royong antara pemerintah, warga, dan stakeholder.

  • Adaptif: Tangguh dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.


Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang adalah salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi luar biasa di bidang pertanian, UMKM, dan pariwisata berbasis lokal. Terletak di bagian timur laut Kabupaten Malang, Jabung dikenal sebagai daerah yang subur, kaya budaya, dan masyarakatnya hidup rukun serta religius.

https://www.kampungadat.com/2025/07/kecamatan-jabung-kabupaten-malang-jawa-timur-potensi-alam-umkm-dan-budaya-lokal-yang-menarik.html
Peta Kecamatan Jabung 3D

Artikel ini akan mengulas lengkap tentang profil Kecamatan Jabung, mulai dari geografi, potensi unggulan, hingga peluang wisata dan ekonomi lokal yang semakin berkembang.


✅ Profil Singkat Kecamatan Jabung, Malang

Secara administratif, Kecamatan Jabung terdiri dari 12 desa, di antaranya:

  • Jabung
  • Pandansari
  • Taji
  • Kemiri
  • Sidomulyo
  • Slamparejo
  • Argosari
  • Kemantren
  • Gunungjati
  • Sukolilo
  • Sukopuro
  • Ngadirejo

Wilayahnya didominasi oleh dataran tinggi dan sebagian lereng pegunungan, yang menjadikan Jabung sebagai kawasan yang subur dan cocok untuk sektor pertanian dan perkebunan


🌱 Potensi Pertanian dan Komoditas Unggulan

Salah satu kekuatan utama Kecamatan Jabung Malang adalah sektor pertanian. Beberapa komoditas unggulan dari wilayah ini meliputi:

  • Singkong

  • Padi dan jagung

  • Tebu

  • Kopi di wilayah lereng

  • Sayur-sayuran dataran tinggi

Selain itu, Jabung juga dikenal sebagai daerah dengan produk susu kambing dan sapi perah yang mulai dikembangkan melalui koperasi desa.


🛍️ Perkembangan UMKM dan Ekonomi Lokal

Seiring berkembangnya teknologi dan keterbukaan pasar, UMKM di Jabung mulai tumbuh pesat. Beberapa jenis usaha kecil dan menengah yang berkembang antara lain:

  • Produksi olahan singkong dan keripik

  • Toko kelontong dan sembako

  • Usaha ternak kambing dan sapi

  • Kuliner khas desa Jabung

  • Usaha katering dan snack rumahan

Pemerintah desa dan kecamatan terus mendorong digitalisasi UMKM agar mampu menembus pasar luar daerah dan bahkan e-commerce nasional.


🌄 Wisata Jabung Malang: Alam, Edukasi, dan Religi

https://www.kampungadat.com/2025/07/kecamatan-jabung-kabupaten-malang-jawa-timur-potensi-alam-umkm-dan-budaya-lokal-yang-menarik.html
Peta Kecamatan Jabung 2D


Meskipun belum sepopuler destinasi wisata lainnya di Kabupaten Malang, Jabung memiliki daya tarik wisata lokal yang terus dikembangkan, seperti:

  • Gubuk Baca Lereng Mbusu: Ruang edukasi dan wisata literasi di kawasan perbukitan.

  • Wisata Edukasi Pertanian: Belajar bertani dan beternak di desa.

  • Wisata religi: Ziarah makam ulama lokal dan kegiatan keagamaan.

Potensi wisata ini sangat cocok dikembangkan menjadi wisata berbasis masyarakat (community-based tourism) yang ramah lingkungan dan memberdayakan warga.


💡 Harapan Masa Depan Kecamatan Jabung

Dengan sumber daya alam yang melimpah dan masyarakat yang penuh semangat, Kecamatan Jabung berpotensi menjadi:

  • Sentra pertanian dan peternakan organik

  • Kawasan wisata lokal berbasis alam dan budaya

  • Pusat pengembangan UMKM pedesaan di Malang bagian timur

Dukungan infrastruktur, pemasaran digital, dan pelatihan kewirausahaan akan sangat menentukan arah pertumbuhan wilayah ini di masa mendatang.


📌 Kesimpulan

Kecamatan Jabung Kabupaten Malang bukan hanya kawasan agraris, tapi juga wilayah penuh potensi yang siap berkembang. Dengan kekuatan di sektor pertanian, UMKM, dan wisata edukatif, Jabung siap menjadi destinasi unggulan baru di Kabupaten Malang.

Jika Anda mencari desa wisata di Malang, UMKM pedesaan yang berkembang, atau ingin menjajaki peluang investasi di wilayah agraris, Jabung adalah pilihan yang menjanjikan.

Di tengah era produksi musik video yang semakin megah dan penuh efek visual canggih, Iksan Skuter justru menghadirkan sesuatu yang kontras, namun jauh lebih menyentuh. Video klip lagu terbarunya yang berjudul “AKU” digarap di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang — sebuah kampung yang penuh kehangatan dan keaslian.


Dengan mengusung filosofi “less is more”, video ini membuktikan bahwa karya yang dalam tak selalu harus datang dari produksi besar-besaran. Tanpa setting yang extravagance, tanpa lighting berlebihan, dan tanpa studio mahal — hanya sinergi yang kuat antara seniman dan masyarakat, antara musik dan suasana kampung yang apa adanya namun kaya rasa.


Tak ada aktor profesional. Tak ada crew produksi dalam jumlah besar. Yang ada adalah kerja sama dengan warga sekitar, yang dengan tulus dan semangat ikut menyumbangkan energi mereka untuk proses syuting. Wajah-wajah asli masyarakat Dusun Busu, suasana alami kampung, dan kejujuran dalam pengambilan gambar menjadi kekuatan visual dari video ini.


Setiap frame yang direkam adalah potret kehidupan: sederhana, jujur, namun penuh makna — sesuai dengan pesan lagu “AKU” itu sendiri. Dan di balik layar, ada tim hebat yang bekerja dengan hati, bukan hanya kamera.


Video ini bukan hanya tentang musik, tapi juga tentang menyatunya karya dan komunitas. Bahwa seni bisa hidup dan besar dari tempat-tempat kecil, dari dusun yang hangat, dari warga yang bersahaja.


Salut untuk Iksan Skuter dan tim produksi. Terima kasih sudah menjadikan Dusun Busu bukan sekadar latar, tapi bagian dari cerita.




Jabung 30/06/2025, Malang — Sungai bukan hanya aliran air, tetapi juga nadi kehidupan masyarakat. Sayangnya, pencemaran sungai kini menjadi ancaman nyata yang tak bisa diabaikan. Untuk menjawab tantangan itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama para kader Sigasspol (Integrasi Pengawasan Sungai Deteksi Sumber Polusi) melangkah lebih jauh: membangun sinergi bersama komunitas anak-anak Gubuk Baca Lereng Busu.

Acara bertajuk Penguatan kader Sigasspol Tumpakjanoko di Dusun Busu Desa Slamparejo dengan penuh semangat. Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh perwakilan DLH, tapi juga para kader Sigasspol dari wilayah Tumpakjanoko yang siap menjadi garda terdepan dalam memantau dan mengawasi kondisi lingkungan, khususnya sungai.

Uniknya, kegiatan ini Kegiatan ini yang menjadi panitia  adalah anak anak gubuk baca yg rata rata masih SD dan SMP mulai menyiapkan tempat, sound, makanan minuman suguhan hiburan dll Mereka menjadi jembatan antara kader, masyarakat, dan pemerintah dalam menyuarakan pentingnya menjaga bumi — mulai dari sungai di sekitar rumah sendiri.

Tiga Tujuan Utama yang Dibawa

Penguatan ini dilakukan dengan tujuan yang sangat jelas dan strategis:

  1. Meningkatkan Kapasitas Kader
    Para kader Sigasspol dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mendeteksi dan melaporkan pencemaran lingkungan secara cepat dan akurat. Dengan begitu, langkah penanganan bisa dilakukan lebih sigap.

  2. Membangun Jaringan Pengawasan Berbasis Masyarakat
    Dengan melibatkan warga sekitar, terutama generasi muda, terbentuklah jaringan pengawasan lingkungan yang aktif, responsif, dan berkelanjutan.

  3. Mendorong Partisipasi Masyarakat
    Kegiatan ini juga bertujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama.

Perwakilan DLH menyampaikan apresiasi atas antusiasme para kader dan anak-anak Gubuk Baca Lereng Busu. Menurut mereka, semangat seperti inilah yang dibutuhkan untuk menggerakkan perubahan dari bawah.

Salah satu kader Sigasspol Tumpakjanoko menyampaikan bahwa pelatihan dan penguatan seperti ini sangat bermanfaat. “Kami jadi lebih paham bagaimana cara mengenali pencemaran sungai dan kepada siapa harus melapor. Dulu kami hanya bisa mengeluh, sekarang kami bisa bertindak,” ungkapnya.

Sementara itu, anak-anak Gubuk Baca Lereng Busu tampil percaya diri dengan membawakan puisi bertema lingkungan dan menyampaikan pesan moral lewat permainan edukatif. Mereka menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa tumbuh sejak dini, bahkan dari tempat sekecil Gubuk Baca Lereng Busu.



Sungai Bersih, Masa Depan Cerah

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para kader Sigasspol makin kuat, masyarakat makin sadar, dan sungai-sungai kita bisa kembali mengalir jernih, membawa kehidupan yang lebih baik. Dan semua itu, dimulai dari langkah kecil: kolaborasi dan kepedulian.

 

“Metri Topeng” adalah sebuah ritual doa (nylameti) yang dilaksanakan sebagai wujud permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para pelaku seni budaya Topeng Jabung senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan keberkahan dalam upaya mereka uri-uri (melestarikan) warisan tradisi luhur ini.

Seringkali, ritual seperti ini disalahpahami sebagai kegiatan mistis atau bahkan dikaitkan dengan hal-hal berbau syirik. Padahal, bagi masyarakat Jawa, ritual adalah bentuk simbolik dalam menyampaikan niat, harapan, dan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Setiap unsur dan tahap dalam ritual memiliki makna filosofis yang dalam, termasuk istilah-istilah seperti “pecok bakal” dan penggunaan dupa dalam prosesi.



🔍 Makna Filosofis “Pecok Bakal”

Dalam tradisi Jawa, pecok berarti patah, tidak utuh, atau rusak. Sementara bakal merujuk pada cikal bakal, bibit, atau awal mula dari sesuatu yang akan tumbuh besar. Maka, "pecok bakal" menjadi peringatan spiritual — tentang bagaimana niat yang tidak lurus sejak awal akan menghasilkan hasil akhir yang menyimpang atau bahkan merugikan.


Filosofi ini menjadi cermin bagi siapa saja yang memulai sesuatu: apakah niatnya benar dan tulus? Dalam masyarakat Jawa, niat (sangkan paraning dumadi) adalah pondasi utama. Jika niat awal sudah pecok, maka seluruh proses bisa rusak, meskipun tampak baik di permukaan.

Istilah ini juga sering digunakan sebagai kritik sosial:

  • Dalam politik, pemimpin yang pecok bakal adalah mereka yang dari awal tidak punya niat tulus untuk rakyat.

  • Dalam keluarga, pernikahan yang pecok bakal adalah hubungan yang dipaksakan, tidak dilandasi cinta dan kasih sayang.

  • Dalam pertanian, bibit pecok tidak akan ditanam karena diyakini tidak akan menghasilkan panen yang baik.

Dengan kata lain, “pecok bakal” adalah ajaran kewaspadaan — agar setiap niat dan langkah awal harus dijaga dengan tulus dan lurus.


🔥 Makna Simbolik Dupa dalam Tradisi Topeng

Salah satu bagian penting dalam ritual Metri Topeng adalah mengasapi topeng dengan dupa. Tindakan ini mengandung dua makna sekaligus: filosofis dan praktis.



Secara filosofis, dupa menjadi simbol doa dan harapan agar seni tradisi Topeng Jabung selalu wangi dan hidup. Asap dupa yang mengepul dianggap sebagai bentuk pengharapan agar aroma budaya tetap merebak dan tidak pernah hilang oleh zaman.

Namun secara akademis, dupa juga berfungsi menjaga kualitas fisik topeng itu sendiri. Asap dupa mengandung senyawa yang dapat menyerap ke dalam pori-pori kayu, menghambat pelapukan, dan memperkuat struktur topeng. Ini membuat topeng menjadi lebih awet, tahan rayap, dan tidak mudah rapuh oleh usia.


🌾 Melestarikan dengan Kesadaran

Ritual Metri Topeng bukan sekadar upacara adat, tetapi juga bentuk kesadaran spiritual dan budaya — bahwa melestarikan seni tradisi tidak hanya butuh latihan fisik, tapi juga kejernihan niat, penghormatan kepada leluhur, dan hubungan batin dengan Sang Pencipta.


Melalui simbol, doa, dan tindakan penuh makna, masyarakat Jawa mengajarkan kita satu hal penting: bahwa menjaga warisan budaya bukan hanya urusan masa lalu, tetapi juga bekal untuk masa depan.


 

https://www.kampungadat.com/2024/07/loro-pangkon-sebuah-warisan-budaya.html
Prosesi injak telur dalam tradisi pernikahan Loro Pangkon

A : “Assalamualaikum.”

B : “Waalaikumsalam. Teja-teja sulaksana, tejane wong anyar katon. Ilang tejane cumlorot saksada lanang, jumleger kari menungsane. Dherek niku sinten namine?”

A : “Nami kula Pak Cukup, yogane Pak Turah. Tegese cukup sing disandang lan dipangan nganti turah-turah.”

B : “Lha sampeyan niki saking pundi pinangkane?”

A : “Kula saking Suralaya Adilinuwih. Sura tegese wani, laya pati, adi bagus, linuwih samubarang kalire. Lajeng panjenengan menika sinten, lan niki dusun pundi?”

B : “Nami kula Darmojulig. Darmo niku temen, Julig niku duta perwakilan, lan niki dusun Karang Kadempel. Tebih saking Suralaya dumugi Karang Kadempel mriki, menapa ingkang sampeyan padosi, Dhik?”

A : “Madosi griyane mbok rondo sing gadhah petetan pitik dara, aran Sekar Jaya Mulya, ingkang dereng rontok sarine.”

B : “Lha nggih niki Dhik, sing sampeyan padosi. Cocok nggih niki.”

A : “Niku jenenge mapan kabeneran, dapur kaleresan.”

B : “Wonten paribasane, tumbu oleh tutup, bantal oleh guling. Tebih saking Suralaya, liwat dalan pundi sampeyan wau, Dhik?

Percakapan diatas adalah, sepotong percakapan yang dilakukan pada prosesi temu dalam pernikahan Jawa, yang mana dewasa ini, sangat jarang kita temui di prosesi pernikan di sekitar kita. Tradisi yang sangat elok untuk terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari pemanfaatan objek pemajuan kebbudayaan seperti yang telah di amanahkan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan No. 5 tahun 2017.  Percakapan diatas biasanya disebut Loro Pangkon. Namun begitu, ada beberapa pendapat bahwa Loro Pangkon adalah seluruh jalannya ritual dalam pernikahan itu yang disebut Loro Pangkon. Di dalam tulisan ini, dan dengan minimnya pengetahuan penulis berupaya untuk mencoba mengemukakan norma-norma tradisi yang ada dalam tradisi Loro Pangkon, berdasar obrolan dengan beberapa sesepuh di dusun Busu, dan sesepuh di Jabung.

Perjumpaan penulis dengan Tradisi Loro Pangkon ini, saat menetap dan tinggal di di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. saat itu, pertama kali penulis merasa takjub dan semangat dalam mengikuti pernikahan, dikarenakan pernikahan kawan yaitu Kholis pada bulan desember tahun 2019 yang lalu dilangsungkan dengan membawakan adat tradisi jawa dengan Loro Pangkon.

Meski tradisi ini masih banyak dilestarikan di beberapa daerah, terutama di Jawa Timur, namun saat ini, sepengetahuan penulis tradisi Loro Pangkon sudah tidak banyak dipakai dalam resepsi pernikahan di masyarakat Malang, terutama di perkotaan.

Selain prosesi pernikahan menjadi Panjang, biaya untuk melangsungkan prosesi Tradisi Loro Pangkon ini akan mahal ditanggung keluarga mempelai. Namun berbeda bila resepsi pernikahan ini mendapat dukungan warga tetangga atau kerabat, maka ritual Loro Pangkon akan berjalan sangat sakral dan membawa kebahagiaan bagi mempelai dan keluarga karena masyarakat akan ikut andil membantu kelancaran prosesi Loro Pangkon ini.

Meski mulai banyak di tinggalkan, untuk di ketahui bahwa Tradisi ini memiliki makna filosofis yang sangat mendalam dan sarat akan nilai-nilai budaya Jawa, yang bisa menjadi pembelajaran norma-norma Bagai kita, maupun generasi muda saat ini.


https://www.kampungadat.com/2024/07/loro-pangkon-sebuah-warisan-budaya.html
Cak Min memegang Replika Ayam Jago dalam tradisi Loro Pangkon


Arti dan Makna Loro Pangkon

Loro Pangkon berasal dari kata "loro" yang berarti dua dan "pangkon" yang berarti pangkuan. Jadi, Loro Pangkon dapat diartikan sebagai dua pangkuan. Makna filosofisnya adalah bahwa dalam pernikahan Jawa, kedua mempelai akan duduk di dua pangkuan yang berbeda, yaitu pangkuan orang tua pengantin pria dan pangkuan orang tua pengantin wanita. Hal ini melambangkan bahwa kedua mempelai telah meninggalkan pangkuan orang tuanya dan kini memulai kehidupan baru sebagai keluarga yang mandiri.

Berikut adalah beberapa proses pelaksanaan tradisi Loro Pangkon yang saya dapati dalam pengamatan pernikahan sahabat saya Kholis.

1.      Petuk Jago/ Seserahan. Disini para pengiring yang membawa berbagai barang pecah belah, hingga bantal dan tikar, akan di sambut oleh perwakilan tuan rumah, atau perwakilan mempelai pria atau Perempuan, tergantung prosesi ini dilaksanakan dari kedua pihak. Disinilah yang menarik, dan akan menjadi tontonan warga, karena ada percakan Loro Pangkon Dimana dengan membawakan sebuah patung Ayam Jago. Prosesi ini sebagai sarat awal kedua mempelai untuk melangkah ke proses selanjutnya.

   2.  Upacara Siraman: Pengantin pria dan wanita dimandikan dengan air yang dicampur dengan                   berbagai     macam bunga dan daun-daunan. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri                   dari segala kotoran     dan kesialan sebelum memasuki kehidupan pernikahan.

3. Midodareni: Pada malam hari sebelum akad nikah, pengantin pria dan wanita dipisahkan dan diasingkan di dua tempat yang berbeda. Pengantin pria biasanya diasingkan di rumah kerabat dekat, sedangkan pengantin wanita diasingkan di rumah orang tuanya. Upacara Midodareni bertujuan untuk memberikan waktu bagi kedua mempelai untuk merenungkan diri dan mempersiapkan diri secara mental sebelum menikah.

4. Akad Nikah: Pada hari akad nikah, pengantin pria dijemput oleh keluarga pengantin wanita dan diarak menuju tempat akad nikah. Sesampainya di tempat akad nikah, pengantin pria akan duduk di pangkuan ayah pengantin wanita dan mengucapkan ijab kabul. Setelah ijab kabul, pengantin pria dan wanita resmi menjadi suami istri.

5. Resepsi Pernikahan: Setelah akad nikah, biasanya diadakan resepsi pernikahan untuk merayakan pernikahan kedua mempelai. Resepsi pernikahan biasanya dihadiri oleh keluarga, kerabat, dan teman-teman kedua mempelai.

Tradisi Loro Pangkon mengandung beberapa nilai-nilai budaya Jawa yang penting, antara lain:

  • Penghormatan kepada orang tua: Tradisi ini menunjukkan rasa hormat kepada orang tua kedua mempelai yang telah membesarkan dan mendidik mereka.
  • Mengenal makna Norma pernikahan: Selain mempe
  • Kesucian pernikahan: Tradisi ini melambangkan kesucian pernikahan dan tekad kedua mempelai untuk menjalani kehidupan pernikahan dengan penuh tanggung jawab.
  • Keseimbangan: Tradisi ini melambangkan keseimbangan antara peran laki-laki dan perempuan dalam pernikahan.
  • Gotong royong: Tradisi ini menunjukkan nilai gotong royong dalam masyarakat Jawa, di mana keluarga dan kerabat bahu-membahu membantu pelaksanaan pernikahan.
https://www.kampungadat.com/2024/07/loro-pangkon-sebuah-warisan-budaya.html
Kadang, peran mereka tidak tampak (tak mau tampak) tapi dari mereka sebuah kesuksesan ritual Loro Pangkon berjalan dengan semestinya...


Yang menarik dari tradisi ini adalah Barang bawaan/Seserahan yang dibawa oleh para pengiring mempelai, dalam pengamatan penulis barang bawaan ini  menguatkan apa yang telah di wedar pada Loro Pangkon diawal pembuka prosesi pernikahan ini.  Barang bawaan ini bukan hanya sekadar benda, tetapi memiliki arti dan makna tertentu yang berkaitan dengan harapan dan doa bagi kehidupan pernikahan yang akan dijalani. Berikut beberapa contoh barang bawaan dalam tradisi Loro Pangkon:

  • Jarang Goyang: Sebuah kipas yang terbuat dari bulu ayam atau merak. Simbol ini melambangkan kesejukan dan ketenangan dalam rumah tangga.
  • Payung: Melambangkan perlindungan bagi keluarga dari segala rintangan dan bahaya.
  • Jodang dan Ongkek: Wadah yang berisi berbagai macam peralatan dapur. Simbol ini melambangkan kesiapan pengantin wanita untuk mengurus rumah tangga.
  • Bantal dan Guling: Melambangkan keharmonisan dan kebersamaan dalam pernikahan.
  • Uang: Simbol kemakmuran dan kecukupan dalam kehidupan pernikahan.
  • Makanan Tradisional: Biasanya berupa jajanan pasar dan kue-kue tradisional yang melambangkan kesuburan dan kelimpahan.
  • Cok Bakal/Ubo Rampe: Sesaji yang dipersembahkan kepada leluhur sebagai bentuk penghormatan dan doa restu.
  • Hasil Bumi: Berbagai macam hasil bumi seperti padi, jagung, dan buah-buahan melambangkan kesuburan dan kelimpahan rezeki.
  • Uang Sumbangan: Simbol gotong royong dan kepedulian keluarga dalam membantu kelancaran pernikahan.

Tradisi Loro Pangkon saat ini sudah jarang dilakukan dalam pernikahan-pernikahan di wilayah perkotaan, meski masih ada yang melestarikan dengan menampilkan tradisi ini oleh beberapa masyarakat, terutama di pedesaan. Namun, dengan modernisasi dan globalisasi, tradisi ini mulai mengalami beberapa perubahan. Diantara bentuk perubahan tradisi ini bis akita lihat dalam Upacara Midodareni yang dulunya bisa berlangsung selama beberapa hari, kini hanya dilakukan selama beberapa jam. Pengantin Jawa saat ini tidak lagi selalu menggunakan busana pengantin tradisional, tetapi juga menggunakan busana modern seperti gaun pengantin dan jas.Beberapa prosesi pernikahan Jawa yang rumit dan memakan waktu, seperti prosesi panggih pengantin, saat ini mulai disederhanakan.

Meskipun mengalami beberapa perubahan, tradisi Loro Pangkon tetap menjadi salah satu bagian penting dalam budaya pernikahan Jawa. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan dan dijaga agar tidak punah. Melestarikan tradisi ini berarti menjaga warisan budaya leluhur dan menanamkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan pernikahan.

 

 

https://www.kampungadat.com/2024/06/romansa-masa-lalu-dusun-busu-pedesaan.html
Membajak Sawah dengan teknologi tradisional "Brujul" masih dilakukan
warga Busu dalam merawat bumi.

Aliran air sungai bening mengalir di celah bebatuan yang hitam mengkilap dan berbinar terkena cahaya matahari. Dasar sungai penuh batuan vulkanik terlihat jelas di riak bening air. Uap air nan keputihan menambah dinginnya udara pagi hari, memperindah gemericik aliran sungai itu. Kokok ayam bersahutan mengiringi aktivitas pagi disuatu desa lereng perbukitan Bromo. Beberapa warganya mulai menyusuri setapak menuju kali, mandi dan mencuci menjadi tradisi yang elok di pagi dan sore hari dialiran air dari mata air Ripi dan Ipik ini.


Beberapa orang laki-laki dewasa berduyun-duyun membawa Gumbeng kosong menuju ke kali Rasid dan kali Wedok. Jernih air dan senyum tarian ekor ikan-ikan di kali menyambut mereka dengan doa. Sementara laki-laki yang kecil ikut menimba dan mengambil air di aliran kali dengan Cukil. Sapaan dan obrolan pagi mengalir dimulut mereka yang menambah suasana damai di pinggiran kali yang jernih itu. Kepulan asap menyeringai dari sela mulut mereka, seakan asap rokok yang kemebul. 


Nyanyian burung di sela-sela dedaunan pohon dan rimbunya barongan bambu seakan menghantar sebuah lagu selamat datang pagi hari. Kepulan-kepulan kecil asap dapur mulai menghiasi beberapa rumah warga, menandakan aktivitas di pawon sudah berjalan. Hembusan angin dari persawahan Beranan dan Gogolan yang ada di sekitar kampung ini menyibak kepulan asap hilang terserap pepohonan mahoni yang gagah berdiri di sekitaran kampung.


Gentong-gentong air mulai penuh seiring laki-laki desa itu pulang dari kali, suara gemericik dan benturan air dari Gumbeng atau Cukil kedalam wadah Gentong menambah sahdu lagu kehidupan masyarakat desa di pagi hari. Tegukan-tegukan air melepas dahaga tenggorokan dari kendi-kendi yang mengkilap karena berumur. Aroma dan rasa air yang begitu nikmat melebihi air kemasan berteknologi tinggi buatan pabrik. Air murni yang diolah dengan kasih sayang dan penuh doa.


Bocah-bocah terlihat riang didepan tungku api dapur rumahnya, menggoda sang ibu yang berjibaku dengan tiupan angin mulut menyulut bara kayu bakar di pawon. Sabit, cangkul dan peralatan tani di pojokan rumah telah berpindah ke tangan-tangan kekar kaum bapak. Sambutan sinar pagi menerpa kilap dan cipratan langkah kaki petani di petak-petak sawah yang subur.


https://www.kampungadat.com/2024/06/romansa-masa-lalu-dusun-busu-pedesaan.html
Kembul Bejana, setelah "derep" dalam proses Panen Pari (Padi) menjadi kearifan masyarakat dalam berbagi. 

Budaya dan teknologi tradisional leluhur masih terjaga, pengetahuan tentang alam, tentang kehidupan norma-norma adat, dan agama menjadi nadir kehidupan kampung yang sederhana.  Masyarakat petani keren ini memegang teguh aturan-aturan serta ilmu dalam menanam benih-benih padi di sawahnya. Dengan kasih sayang dan iktiar doa, sawah-sawah organic terjaga, dan selalu memetik hasil yang melimpah. Mereka tidak mengenal pupuk kimia, mereka hanya kenal bagaiman mengolah dedaunan dan kotoran ternak menjadi humus dan penyubur tanah penghidupannya.


Petani desa ini hanya mengenal tiga musim dalam mengolah sawah pertanian, Tracap, Warengan, dan asuh bumi. Dengan memegang norma adat ini mereka melimpah dalam hasil tanam. Tradisi rasa syukur tiap kali beraktifitas menjadi tontonan keberkahan untuk warga dan anak-anak kecil. Tasyakuran memulai masa tanam, lantunan doa doa mengiringi ucok bakal dan sesandingan dipojok sawah, anak-anak dan petani bungah dengan nasi dalam takir-takir digenggaman. Konsep berbagi dan sodakoh dibalut rasa sukur atas panen yang bagus di musim yang sudah.


Setelah benih padi mulai tumbuh, lantunan doa syukur kembali menghiasi kalbu petani, tasyakuran dan sodakoh kembali mereka haturkan dalam laku Mbuntoni. Sandingan, Cok Bakal ditambah Gedang Sri mereka hidangkan dalam lingkaran kecil petani dan anak-anak di pojok sawah yang subur. Kembali kebahagiaan terlihat di pagi hari seiring kilau keemasan mentari menggoda embun di benih-benih padi yang mulai membesar.


Puncak tasyakuran dua bulan kemudian, adalah yang ditunggu-tunggu, Wiwit sebuah tasyakuran sebelum padi-padi disawah di Unting dan masuk kerumah-rumah petani. Tapakan riang anak-anak kecil mengiringi bapak-bapak menuju persawahan yang menunduk kuning keemasan dengan membawa Cok Bakal, Pitik Engkong, Kupat Lepet, Polo Pendem, dan ranumnya 2 cengkeh Gedang Ayu. Siratan kegembiraan di wajah bocah dan petani menuju sawah.


Masyarakat pertanian selalu menguggemi tradisi budaya ini, sebagai bentuk syukur dan berterimakasih pada Syang Maha Welas Asih serta bentuk berterimakasih pada Ibu Bumi. Tidak ada rasa serakah pada diri petani, tidak berlaku memperkosa tanah dengan kimia. Kearifan sebagai manusia dan mahluk yang penuh welas asih pada semua mahluk.


https://www.kampungadat.com/2024/06/romansa-masa-lalu-dusun-busu-pedesaan.html
Mbah Ngatemin beranjak dari Kali Lanang, dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang setelah membersihkan badan, selepas menggarap sawah.

Kini, ditahun milenial, munculnya teknologi barat yang merampas dan menggantikan teknologi tradisi, budaya dan tradisi serta ageman Agama tercabik hancur. Ponsel dalam genggaman menggantikan teknologi batin yang murah dan manjur, kearifan merawat tanah berganti derungan mesin memperkosa ibu bumi, desa-desa adat dengan keramahan norma kehidupan semakin gersang seiring hilangnya pepohonan dan hutan sekitar desa.

Aliran air semakin keruh, limbah limbah menjadi racun mematikan penghuni aliran air di kali-kali. Bau amis dan busuk uap airnya menjadi sapaan pagi masyarakat dan mahluk didesa. 


Mengalir masuk petak-petak sawah menjadi meracuni benih-benih padi yang tak lagi sehat dan subur. Tanah-tanah tak berhumus, hitamnya penuh dengan kimiawi hasil teknologi pabrik. Sapaan dan candaan petani semakin kosong, dan getir karena situasi, hasil panen tak lagi mencukupi dan menghidupi. Satronan tengkulak dan penagih hutang menghiasi bibir dan doa para petani desa.



#petanikeren #Adatistiadat #senitradisi#normaadat  #budaya #Silaturahmi #pemajuankebudayaan #OPK