Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

https://www.kampungadat.com/2026/04/Orasi-kebudayaan-tentang-busu-jaman-biyen-oleh-dwi-cahyono-sejarahwan-dan-arteolog-malang.html
Assalamu'alaikum WR WB, Rahayu Sagung Dumadi

Bapak ibu dan saudara sekalian

Pada tanggal 20-21 Maret 2026 berselang Umat Muslim Indonesia merayakan "Hari Raya Idul Fitri". Hampir bersamaan waktu, pada tanggal 19 Maret 2026 umat Hindu merayakan "Hari Raya Nyepi". Dua hari raya keagamaan yang nyaris bersamaan waktu. Selain kedua hari raya itu, masih terdapat sejumlah hari raya keagamaan lain, seperti Hari Raya Waisak pada Umat Buddha, Hari Raya Imlek pada etnik Tionghoa Hoa Pera- makan, perayaan Hari Paskah pada 5 April 2026 dan Natal 25 Desember 2025 lalu pada umat Kristen Protestan dan Katolik, dan masih banyak lagi hari-hari keagamaan lainnya. Terkesan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan "Hari Raya (diakro- nimkan dengan "Riayan" atau "Riadin").

Warga masyarakat etnik pun memiliki hari raya etnikya sendiri-sendiri. Warga sub-etnik Jawa Tengger misalnya, mempunyai Hari Raya Kasada dan Hari Raya Karo yang selenggarakan.setiap tahun dan hari raya Unan-unan setiap lima tahun. Terdapat juga Hari Raya Rambu Solo' pada etnik Toraja, Hari Raya (Pesta) Bona Taon pada etnik Batak, hari raya Pasola pada etnik Marapu di Sumba, dsb. Tak semua Hari Raya etnik tersebut berupa hari raya keagamaan. Bisa juga berupa "hari raya kebudayaan". Sesuai unsur sebutan."budaya" dalam "hari raya budaya", peyelenggaraannya berkenaan dengan perhelatan budaya. Adapun unsur sebutan "raya" pada "hari raya" memberi petunjuk mengenai suasana kebesaran dan kerayaan pada hari yang bersangkutan. Ada kemeriahan, ada kesuka-citaan, dan ada pula kebahagiaan, yang  belum tentu dapat ditemui pada hari-hari biasa. Pendek kata, hari raya keagamaan ataupun hari raya budaya adalah hari yang istimewa. Oleh karena itu, kehadirannya secara periodik ditunggu-tunggu oleh warga. 

 Hari raya budaya tidak senantiasa berskala luas. Ada hari raya budaya yang berskala "mikro", seperti dalam apa yang dinamai "hari raya budaya kampung"  Festival "Busu Jaman Biyen (disingkat dengan "BJB") di Dusun Busu, yang diselenggarakan pada tanggal 10 hingga 12 April 2026 misalnya adalah salah satu dari "Hari Raya Budaya Kampung". Riayan Kabudayan ini adalah "ekspresi kesukacitaan, kebahagiaan dan kemeriahan kampung. Sebagai "agenda budaya tahunan", sekali dalam setahun warga di Dusun Busu mengekspresikan kegembiraan dan kebahagiaannya melalui wahana budaya "BJB", yang pada tahun ini (2026) memasuki tahun ke-3 -- sempat terkendala oleh Covid -19 pada tahun 2020-2022.

Hari Raya Budaya Kampung Busu bertajuk "Festival Busu Janan Biyen". Penggunaan unsur sebutan "jaman byen (bahasa Indonesia "Tempo Dulu")" memberi gambaran bahwa festival budaya ini "berperspektif historis". Sejalan dengan perspektif itu, khasanah sisio-kutural yang mentradisi (tradisi budaya) yang tumbuh dan berkembang di Busu lintas gerasi bahkan lintas masa diekspresikan pada helat budaya Ini. Mengapa helat budaya ini mengambil tema waktu  "masa lalu (bahasa Jawa "jaman biyen)"? Mengapa tidak memperggunakan sebutan "Festival Busu Jaman Now"?

Bapak ibu dan Saudara Pecinta Budaya 

Kerinduan akan kehidupan masa lampau terkadang menjadi "impian sesaat" oleh orang-orang yang hidup di masa kini. Tak sedikit festival betajuk "Tempoe Doeloe" dihelat di banyak tempat pada satu hingga dua dasawarsa terakhir. Kehidupan yang damai, yang "gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo (aman, tentram, dau serta makmur)" pada masa lalu menjadi harapan hidup dari orang-orang masa kini, yang pada kesehariannya berada di dalam "kegundahan, kekurangan (kecingkrangan) dan kesulitan'. Jaman biyen dengan demikian tidak hanya difahami sebagai "kenangan (memory)", namun lebih dari itu merupakan "impian (dreaming)".

https://www.kampungadat.com/2026/04/Orasi-kebudayaan-tentang-busu-jaman-biyen-oleh-dwi-cahyono-sejarahwan-dan-arteolog-malang.html

Pada helat budaya berperspektif "masa lalu (jaman biyen)" yang demikian, nuansa arkais (lawasan), anasir tradisi, kenangan lama, maupun kebaikan hidup" yang pernah hadir di masa lalu dihadirkan kembali. Para hadirin dibawa serta untuk memasuki lorong-lorong kampung yang kala itu dikemas menjadi "lorong waktu kelampauan (ancient time tunel)". Helai budaya ini acap dijadikan sebagai wahana "healing" secara kultural dalam rangka menyembuhkan luka batin, peyakit mental atau kondidi emosional yang bisa jadi menghinggapi orang-orang masa kini guna memperoleh ketenangan, kenyamanan dan kesehatan mental yang lebih baik. Festival Budaya "BJB" dengan demikian adalah wahana healing bagi warga Dusun Busu dan dusun ataupun Desa-desa lain di sekitarnya. Helat budaya ini memiliki "daya magnit" untuk menarik kehadiran warga dusun Busu dan Dusun/Desa lain ke Dusun Busu untuk "berkenduri budaya" yang membahagiakan.

Bapa, ibu, dan Saudara yang Budiman  

Kehidupan sosial di  Busu masa pada masa lampau, yang diwarnai oleh jejaring sosial yang berupa kegotongroyongan dan kerja sama dalam tradisi "sayan (saya+an)" pada sesi ini seolah hadir kembali, sedari proses persiapan hingga pelaksanaan "Festival BJB". Festival budaya kampung Busu yang berbasis pada gotong royong dan dharma bhakti mendapat sokongan dari mayoritas warga dusun secara suka rela dan dalam suasana suka cita. Tanpa adanya fssiltasi dari pemerintah Desa, Kabupaten, Provinsi maupun Pusat pun festival budaya ini tetap dihelat dengan spirit sosial yang mandiri. Kata kunci (keyword) terselenggaranya adalah "kegotongroyongan" menurut tradisi "sayan". Pada ikatan sosial ini warga Busu ibarat untaian lidi dalam bentuk sapu lidi, yang dengan "kebersamaan"-nya mampu menghelat kegiatan akbar yang tak bakal mampu bila ditangani secara perorangan.

https://www.kampungadat.com/2026/04/Orasi-kebudayaan-tentang-busu-jaman-biyen-oleh-dwi-cahyono-sejarahwan-dan-arteolog-malang.html

Busu yang berada di lembah sisi selatan -barat Gunung Tengger adalah kampung tua. Meski merupakan kampung terakhir di tepian Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TN BTS), namun telah menjadi ajang kegiatan sosial- budaya semenjak amat lama. Konon Busu yang berada di Desa Slamparejo ini masuk ke dalam wilayah desa kuno Jebing -- kini berubah sebutan menjadi "Jabung", yakni sebutan untuk Desa dan Kecamatan di sub-area timur Kabupaten Malang. Keberadaan Desa Jebing disebutkan dalam prasasti tembaga (tamra prasasti) yang ditemukan di bukit Penanjakan, sehingga diberi sebutan "Prasasti Pamanjakan (1405/6 Masehi). Pada prasasti era Majapahit ini, Jebing dan empat desa lain di sekitarnya, yaitu desa (1) Kacaba (?), Walandit (kini disebut "Blandit" pada Desa Wonoejo), Mamanggis (kini "Manggis" di Desa Srigading), dan Lili (?) merupakan desa-desa "Tengger Mula", yang setiap tahun di pada Bulan Asada (kini disebuti  "Kasada") melakukan pemujaan terhadap "Gunung Suci Brama" sebagai tempat persemayaman Hyang Swayabhu (sebutan lengkap "Swayabhuva", yakni nama lain untuk Dewa Brahma).

Desa Jabung dan desa-desa lain tetangga-nya, termasuk Walandit, dengan demikian adalah "desa-desa bersejarah". Bahkan, desa kuno Muncang di tetangga Jabung  telah disebut di dalam Prasasti Muncang (944 Masehi). Pada desa di lereng selatan Gunung Tengger ini terdapat bangunan suci suci Walandit untuk pemujaan Sang Hyang Swayambhu. Untuk kepentingan itu desa Muncang ditetapkan sebagai "desa perdikan (sima atau swatantra)". Sebutan "muncang" adalah istilah Jawa Kuna dan Jawa Tengahan untuk rempah-rempah, yang di ddalam bahasa Jawa Baru disebut dengan "miri (bahasa Indonesia "kemiri"). Kini topinimi yang bersinonim arti dengan  "muncang" masih  tersimpan menjadi nama "Kemiri I, II dan III" di Kecamatan Jabung. Desa Kemiri bertetangga dengan Desa Wonorejo (Dusun Blandit berada di dalamnya), Desa Jabung (dulu dinamai "Jebing") dan Desa Slamparejo (Dusun Busu ada di wilayahnya).

Bapak, Ibu dan Saudara yang Bijaksana 

Sebagai "dusun bersejarah",, tepatlah bila Kampung Busu menghelat festival budaya yang berperspektif historis dengan tajuk "Busu Janan Biyen (BJB)". Festival ini turut menegaskan "historisitas Kampung Busu" sebagai kampung yang telah meniti sejarah panjang, sebagaimana terlibat dalam proses dinamika sosial-budayanya dari waktu ke waktu menuju ke arah kemajuan. Anasir sosial-budaya lama, yang kini hadir sebagai tradisi sosio-kultura merupakan "Warisan Sosial-Budaya (Socio-Cultural Heritage)" yang perlu dieksplorasi lantas dikonservasi (dilestarikan) sebagai sumberdaya sosial-budaya internal dusun Busu. Adapun anasir budaya baru luar yang memasuki Dusun Busu dopisisikan sebagai kekuatan eksternal yang berguna untuk membaharukan (mengatualisasiikan) aset ekologis, sosial dan kultural setempat.

Tradisi sosial dan budaya di Busu adalah suatu warisan budaya (cultural heritage) yang secara organik dilestarikan. Generasi tua berada di garda depan untuk melestari- kan warisan budaya masa lampau. Adapun generasi muda musti tampil sebagai "agen pembaharuan" untuk mengaktualisasikan kekayaan alam, sosial dan budaya lokalnya agar sesuai dengan kondisi dan keperkuan hidup  masa kini. Paduan antara dua ikhtiar itu, yaitu (a) konservasi dan (b) unovasi itu merupakan kekuatan internal untuk dapat mendinsmisasikan Dusun Busu ke arah kemajuan tanpa harus menyirnakan aset sisio-kultura yang telah mentradisi di dusunnya. Kreatifitas warga dusun adalah kunci untuk unovasi dusun. Anasir tradisi diolahkreasikan memjadi "tradisi-kreasi" agar sesuai dengan jiwa zaman (zeit geist).

Kampung Busu adalah dusun agraris, yang konon warganya membudidayakan padi jenis gaga di sawah pagagan dan palawija ditanah tegalnya. Kini budidaya padi dan palawija mulai tergeser oleh budidaya rumput gajah sebagai pakan sapi perah yang dibudidayakannya.  Sebagian yang lainnya mengisi waktu luang dalam bertani dengan  usaha kerajinan dan pertukangan. Konon dusun Slamparejo para sub-area timur Kabupaten Malang merupakan sentra kerajinan anyam bambu.  Ada pula yang merajin mainan anak dari bahan kayu. Para pekerja bangunan dan tukang kayu asal Busu  dikenal sebagai tukang bangunan yang terampil. Ini berarti bahwa kreatifitas telah cukup lama terbangun di Dusun Busu. Hingga kini pun sejumlah warga kampung Busu dikenal sebagai kreator handal di sektor kerajinan. Okeh karena itu, Kampung Busu layak menyandang predikat sebagai "Kampung Undagi/Undahagi yang warga dusunnya terbilang kreatif, sehingga bisa juga dipredikati sebagai "kampung kreatif"..

Untuk kepentingan kini serta mendatang, anasir tradisi yang menjadi kekayaan internal Kampung Busu perlu dibaharukan (up dating) dengan memanfaatkam anasir budaya baru dari luar secara adaptif untuk mendinamisasikan eko-sosio-kultura di Dusun Busu. Dengan cara demikian, maka Kampung Busu, yang pada satu dasawarsa terakhir menjelma menjadi "Kampung Sapi Perah" bakalan memperoleh kemajuannya dan membuahkan kesejahteraan bagi warga masyarakatnya. Selamat merayakan "Hari Raya Budaya Kampung" di Dusun Busu yang bertajuk "Busu Jaman Biyen (disingkat "BJB"". Semoga helat budaya tahunan ini bakal membuahkan ragam kefaedahan dan berlanjut ke helat BJB ke-4 pada tahun datang (2027).

Wassalamualaikum WR WB. Rahayu

Griyajar Citralekha, 9 April 2026

Festival Busu Jaman Biyen (BJB Fest) 2026 resmi kembali hadir menyapa masyarakat setelah vakum selama lebih dari lima tahun akibat pandemi COVID-19. Berlokasi di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, gelaran yang berlangsung pada 10-12 April 2026 ini mengusung tema besar “Rekonsiliasi Budaya di Tanah Adat”.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi, tetapi juga momentum kebangkitan ekonomi dan pemulihan identitas lokal masyarakat pascapandemi.

Suasana Warga Mendalami Karakter Busu Jaman Biyen
(Foto by Boem )
Daya Tarik Utama BJB Fest 2026 Rekonsiliasi Budaya dan Tradisi BJB Fest 2026 menawarkan pengalaman unik yang membedakannya dari festival desa lainnya. Berikut adalah beberapa highlight utama dari acara tersebut:

1. Suasana Desa Tempo Dulu yang Autentik
Pengunjung yang datang akan disambut dengan suasana pedesaan masa lalu yang kental. Pada malam hari, pencahayaan di lokasi festival tidak menggunakan lampu modern, melainkan hanya mengandalkan obor di sudut-sudut jalan untuk menciptakan nuansa mistis dan klasik.

2. Gastronomi Nusantara: Kuliner Tradisional Langsung dari Rumah Warga
Salah satu keunikan utama festival ini adalah partisipasi organik warga. Setiap rumah warga di wilayah RW 03 disulap menjadi lapak kuliner tradisional yang menyajikan hasil bumi lokal. Pengunjung dapat menikmati hidangan khas seperti:
  • Nasi Jagung
  • Jenang Grendul
  • Gulali dan Kacang Rebus
Tidak hanya membeli, pengunjung juga bisa melihat langsung proses pengolahan makanan secara tradisional, mulai dari menumbuk bahan hingga menggiling jagung menggunakan alat kuno.


3. Pertunjukan Seni dan Budaya yang Memukau
Festival ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui program Dana Indonesiana 2026. Berbagai atraksi seni yang ditampilkan antara lain:

  • Pawai Budaya keliling dusun sebagai pembuka acara.
  • Tari Topeng Gunungsari khas Jabung.
  • Ludruk Organik yang dipentaskan oleh petani lokal tanpa latar belakang seni formal.
  • Teater Tari “Pengakuan Rahwana” dari Malang Dance yang memberikan perspektif baru tentang tokoh Rahwana sebagai simbol cinta sejati.
  • Pemberdayaan Ekonomi dan Gotong Royong Warga

Ketua Pelaksana BJB 2026, Depi Ari Cahyono (Kusnadi), menekankan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah pemberdayaan dan kemanfaatan masyarakat. Panitia tidak memungut biaya bagi warga yang ingin berjualan, sehingga mendorong partisipasi tinggi dari pelaku UMKM lokal. Dari target awal 25 lapak, antusiasme warga melonjak hingga lebih dari 50 pendaftar.
Selain kuliner, atraksi "pekerjaan kasar" masa lalu juga ditampilkan oleh pemuda setempat, seperti memotong kayu dengan alat kuno dan menggendong kayu menggunakan keranjang tradisional khas tahun 1980-an.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Malang
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, menyatakan kekagumannya atas militansi warga Dusun Busu dalam menjaga warisan leluhur. Ia berkomitmen untuk menjadikan Busu Jaman Biyen Festival sebagai agenda rutin tahunan dalam kalender wisata resmi Kabupaten Malang.

Di sebuah desa di Malang pada era 1960–1980-an, kehidupan masyarakat masih penuh keterbatasan. Warga hidup sederhana sebagai petani kecil, buruh, dan pencari nafkah seadanya. Meski serba kekurangan, mereka berusaha tetap bersyukur dan menjaga kebersamaan.

https://www.kampungadat.com/2026/04/gambaran-cerita-ludruk-organik-dengan-judul-hikayat-keplek-di-acara-bjb-fest-2026.html
Namun, ketenangan desa mulai terusik oleh kejadian aneh: beras warga tiba-tiba berkurang secara misterius. Dari satu rumah ke rumah lain, dari dusun ke dusun, kabar tentang makhluk gaib bernama “Keblek” mulai menyebar. Sosok ini dipercaya sebagai siluman pencuri beras, berwujud hitam, menyeramkan, dan sering dikaitkan dengan pesugihan.

Awalnya hanya desas-desus, tapi kejadian demi kejadian membuat warga resah.

  • Di pos ronda, warga mulai membicarakan kesulitan hidup dan harapan akan kesejahteraan.
  • Di rumah-rumah, para ibu menyadari stok beras mereka menyusut tanpa sebab.
  • Di pasar, kabar Keblek menjadi perbincangan hangat, bahkan bercampur candaan dan ketakutan.
  • Anak-anak yang pulang malam pun mulai merasakan kejanggalan hingga akhirnya melihat sosok misterius di kegelapan.

Ketakutan berubah menjadi kepanikan. Warga meningkatkan ronda malam, meminta bantuan dukun, hingga melakukan berbagai ritual untuk menangkap Keblek. Namun, semua usaha belum membuahkan hasil.

Di sisi lain, kisah menyentuh muncul dari Mbok Surti dan anaknya, Wagiah, yang hidup dalam kemiskinan. Mereka hanya mengandalkan sisa panen orang lain untuk bertahan hidup. Ironisnya, beras yang mereka kumpulkan dengan susah payah pun ikut hilang. Hal ini menambah luka dan kemarahan mereka terhadap “Keblek”.

https://www.kampungadat.com/2026/04/gambaran-cerita-ludruk-organik-dengan-judul-hikayat-keplek-di-acara-bjb-fest-2026.html

Akhirnya, warga sepakat melakukan ikhtiar bersama:

  • Berpuasa di hari tertentu
  • Berkumpul di perempatan desa saat malam
  • Menggunakan cara-cara tradisional untuk memancing dan menangkap Keblek

Malam penentuan pun tiba. Suasana mencekam, gelap, penuh ketegangan. Warga bersiap menghadapi sesuatu yang tak pasti—apakah benar Keblek itu makhluk gaib, atau justru ada rahasia lain di balik semua kejadian ini?


Inti Cerita (Makna)

Cerita ini bukan sekadar tentang makhluk gaib, tetapi juga menggambarkan:

  • Kerasnya hidup masyarakat desa
  • Godaan keserakahan vs rasa syukur
  • Ketakutan kolektif yang bisa membesar karena isu
  • Kemungkinan bahwa “Keblek” bukan hanya makhluk, tapi simbol dari keserakahan manusia



https://www.kampungadat.com/2026/04/rundown-bjb-fest-2026-festival-busu-jaman-biyen.html


RUNDOWN ACARA

Festival Busu Jaman Biyen (BJB Fest 2026)
“Rekonsiliasi Budaya di Tanah Adat”
๐Ÿ“… 10 – 12 April 2026
๐Ÿ“ Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kec. Jabung, Kab. Malang


Hari 1 – Jumat

Pagi (09.00 WIB – selesai)

  • Bubak’an
    Peserta: Masyarakat & Panitia

Siang (13.30 – 16.00 WIB)

  • Bangga Mendesะฐ: “Menjadi Mbusu”
    ๐Ÿ“ Area Dusun Busu RW 03

Sore (15.00 – 17.30 WIB)

  • Pawai Undang Tamu:
  • Sambutan dari Perwakilan dinas Kebudayaan dan pariwisata
  • Pepiling weweling Bapak Kepala Desa
  • Orasi budaya

17.30 WIB

  • Istirahat / Break Magrib

18.15 WIB

  • Persiapan & cek sound Keroncong
    Oleh: Grup Keroncong Senandung Sidorejo

18.30 – 21.00 WIB

  • Jeda Giat – Panggung Sambang
        ๐Ÿ“ (Area Bazar Gastronomi)

21.00 WIB

  • Keroncong Senandung Swara Sidorejo
    ๐Ÿ“ Panggung Utama
  • Mocopat oleh Mbok Ngatinah (Maestro Mocopat Malangan)
    ๐Ÿ“ Panggung 3 (Distrik RT 22)
  • Terbang Gandul
  • ๐Ÿ“ Panggung (Distrik RT 18)

Hari 2 – Sabtu

08.00 – 11.30 WIB

  • Bangga Mendesะฐ: “Riyayan Dolanan Rakyat”
    ๐Ÿ“ Dusun Busu RW 03

09.00 – 15.30 WIB

  • Bangga Mendesะฐ: “Menjadi Mbusu”
    ๐Ÿ“ Dusun Busu RW 03
15.30 - 19.00
  • Blocking perfom Topeng Darmo langgeng +check sound n karawitan
  • ๐Ÿ“ Panggung Utama
19.30-20.30
  • Gending Gending Pambuko
  • ๐Ÿ“ Panggung Utama
20.30 - 22.30
  • Pentas Wayang Topeng Darmo Langgeng ( panggung utama)
  • ๐Ÿ“ Panggung Utama
20.00- 22.00
  • Lagu lagu tempo dulu ( ciple legend) 
  • ๐Ÿ“ Districk RT 22.
22.30 - 23.00
  • closing

Hari 3 – Minggu

09.00 – 13.00 WIB

  • Bangga Mendesะฐ: “Riyayan Pembakti Kampung”
    ๐Ÿ“ Dusun Busu RW 03

09.00 – 15.00 WIB

  • Bangga Mendesะฐ: “Menjadi Mbusu”
    ๐Ÿ“ Dusun Busu RW 03

15.00 – 17.30 WIB

  • Bangga Mendesะฐ: “Uyon-Uyon Kampung”
    ๐Ÿ“ Dusun Busu RW 03

17.30 – 19.30 WIB

  • Break magrib dan Isyak

19.30 – 20.30 WIB

  • Prolog Ludruk organik
20.40 – 22.30 WIB
  • Drama "Ludruk organik" dalam lakon "Hikayat Keblek"
22.30 - Selesai
  • Closing

JABUNG – Langit Dusun Busu malam itu, Sabtu (4/4/2026), tidak sedang ingin bersahabat. Gerimis turun malu-malu, memeluk udara dengan kelembapan yang menusuk tulang. Namun, di pelataran rumah Pak Ngatenu, dingin tak punya kuasa. Sebuah panggung sederhana berukuran 8x6 meter, berbalut kain hitam legam tanpa “gincu” banner kegiatan, berdiri tegak menjadi kanvas murni bagi sebuah peristiwa budaya yang akan dicatat oleh ingatan.

Malam itu adalah awal dari pengembaraan panjang Malang Dance. Dusun Busu dipilih menjadi saksi pertama pembukaan tur tiga kota (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu) untuk karya teater tari kolosal: “Pengakuan Rahwana”. Sebuah karya yang membedah relung hati sang raksasa, diadaptasi dari bait-bait puitis “Kemelut Cinta Rahwana” karya Begawan Sastra, Prof. Dr. Djoko Saryono.

https://www.kampungadat.com/2026/04/sajak-gerimis-di-pelataran-busu-kala-rahwana-menitipkan-cintanya-pada-tanah-adat.html
Meski rintik hujan kian padat, warga Busu tidak bergeming. Mereka merangsek, mencari celah di teras-teras rumah, memastikan mata tak kehilangan sedetik pun magis di atas panggung. Sebelum sang Dasamuka muncul, suasana dipanaskan oleh gemulai Tarian Mban Egrek dari Sanggar Kopi Maknyak Prigen. Tak lama, alunan musik balada dari Tali Jiwa menghipnotis warga Busu dengan sajak-sajak Iwan Fals, membawa penonton dalam perenungan yang dalam sebelum hujan memaksa alat musik mereka menepi lebih awal.

Namun, jeda itu tak dibiarkan sunyi. Ludruk Organik naik panggung lebih cepat dari jadwal semula. Pak Ngatenu, sang empunya rumah, menjelma menjadi artis dengan membanggakan nama panggilkannya Londo Gendeng. Dengan peci merah dan banyolan khasnya, ia menjadi jembatan rasa, mengabarkan pada warga bahwa malam ini adalah pertunjukan ke-55 bagi sang Rahwana, sebuah pencapaian emas yang dimulai dari tanah Jabung sebelum melawat ke Taman Krida Budaya Malang dan berakhir di Amphiteater Arjuna Wiwaha, Batu.

Kala gerimis mulai menyusut, api semangat justru kian membara. Sesi lawak Ludruk Organik mendadak sunyi saat sosok Winarto Ekram muncul di atas panggung. Bukan sebagai koreografer, melainkan sebagai sang pemuja cinta Rahwana.

https://www.kampungadat.com/2026/04/sajak-gerimis-di-pelataran-busu-kala-rahwana-menitipkan-cintanya-pada-tanah-adat.html

Pertunjukan dimulai dengan lengkingan biola yang jernih, membelah kesunyian malam Busu yang sejuk. Selama satu jam, penonton seolah dipindahkan ke dimensi lain. Mereka tak lagi melihat Rahwana sebagai antagonis yang banal, melainkan sosok yang membawa kemurnian dan ketulusan cinta pada Dewi Sinta.

Langkah kaki yang tegas, sorot mata yang tajam dalam balutan tata cahaya yang dramatis, hingga riuhnya pasukan kera dan lincahnya Hanoman, merangkai sebuah narasi yang apik. Totalitas para penari di bawah suhu dingin Jabung menciptakan kehangatan yang tak kasat mata.

Decak kagum membuncah saat pertunjukan usai. Tidak ada jarak antara sang maestro dan warga biasa. Malam yang diawali dengan kecemasan akan hujan, ditutup dengan tawa dan sesi foto bersama yang akrab.

https://www.kampungadat.com/2026/04/sajak-gerimis-di-pelataran-busu-kala-rahwana-menitipkan-cintanya-pada-tanah-adat.html

Di Dusun Busu, Rahwana telah "mengaku". Bukan mengakui kekalahan, melainkan mengakui bahwa cinta yang tulus dan seni yang membumi akan selalu menemukan jalannya untuk pulang ke hati masyarakat, sedingin apa pun cuaca yang menyertainya.

JABUNG, MALANG – Di sudut pelataran Kampung Tretek Dusun Busu, Desa Slamparejo, sesosok paruh baya sedang asik dengan kuas dan cat, dengan lugas tangannya menyaput guratan sebuah wajah yang “seram” pada pelapah Kelapa. Sosoh itu tak lain adalah Mbah Pit, salah satu tokoh sepuh Kampung Tretek. Mbah Piet siang itu sedang membuat Tetek Melek, salah satu pengetahuan tradisional leluhur dalam upaya Tolak Balak.

Yang menarik adalah inisiatif Mbah Piet untuk membuat Tetek Melek ini yaitu untuk dihadirkan dalam gelaran Festival Busu Jaman Biyen (BJBfest2026) yang akan di gelar tanggal 10-12 april 2026 nanti. Kehadirannya di gelaran Festival Busu Jaman Biyen (BJBfest) 2026 bukan sekadar pajangan estetis, melainkan upaya menghidupkan kembali memori kolektif tentang pengetahuan tradisional penolak bala.

https://www.kampungadat.com/2026/04/tetek-melek-simbol-kewaspadaan-pelestari-tradisi-penolak-bala-di-bjbfest-2026.html

Bagi generasi muda saat ini, Tetek Melek mungkin tampak asing atau sekadar kerajinan tangan biasa. Namun, bagi sesepuh Dusun Busu, benda ini adalah perlambang kekuatan dan doa masyarakat dalam menghadapi masa-masa sulit, terutama saat terjadi pagebluk (wabah penyakit) di masa lampau.

Secara harfiah, "Melek" dalam bahasa Jawa berarti terjaga atau waspada. Dahulu, Tetek Melek diletakkan di depan rumah atau di gerbang desa sebagai sarana tolak bala. Pengetahuan tradisional ini mengajarkan bahwa untuk menghadapi musibah atau wabah, masyarakat harus tetap waspada dan "terjaga" secara lahir maupun batin.

"Tetek Melek ini adalah kearifan lokal yang hampir punah. Dahulu, orang tua kita menggunakannya untuk mengusir aura negatif atau penyakit yang masuk ke desa. Bahannya sangat sederhana, hanya dari pelepah kelapa yang ada di sekitar kita, tapi maknanya sangat dalam tentang perlindungan dan kewaspadaan," ujar Mbah Piet, ketika diminta alasan membuat Tetek Melek

Era saat ini tantangan terbesar adalah minimnya pengetahuan generasi milenial dan Gen Z terhadap fungsi-fungsi magis-sosial dari benda-benda tradisi seperti Tetek Melek. Banyak anak muda yang tidak lagi mengenali bentuk apalagi maknanya.

Dalam rangkaian BJBfest 2026 yang didukung oleh Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan RI, Tetek Melek dipamerkan kembali secara luas. Tidak hanya dipajang, festival ini juga memberikan ruang bagi pengunjung untuk berinteraksi dan mempelajari proses pembuatannya.

https://www.kampungadat.com/2026/04/tetek-melek-simbol-kewaspadaan-pelestari-tradisi-penolak-bala-di-bjbfest-2026.html

"Kami tidak ingin pengetahuan ini mati di tangan generasi sekarang. Dengan menampilkannya di BJBfest, kami ingin memberi tahu anak-anak muda bahwa leluhur kita punya sistem pertahanan diri yang cerdas dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk saat menghadapi pagebluk," Ujar Kusnadi disela-sela kesibukan Panitia menyongsong terselenggaranya Festival BJBfest2026.

Penempatan Tetek Melek di sepanjang rute festival bersanding dengan lapak-lapak gastronomi dan panggung Ludruk Organik menciptakan suasana "Jaman Biyen" yang otentik. Hal ini selaras dengan tema besar festival tahun ini, yakni "Rekonsiliasi Budaya di Tanah Adat".

Kusnadi, menambahkan bahwa menghadirkan kembali Tetek Melek adalah cara warga untuk bersyukur karena telah melewati masa pandemi yang sulit beberapa tahun lalu. "Ini seperti mengingatkan kita kembali, bahwa setelah pagebluk Covid kemarin, kita harus tetap melek (waspada) dan terus bergotong royong agar desa tetap aman," tuturnya.

Melalui BJBfest 2026, Tetek Melek kini kembali menemukan "panggungnya". Ia bukan lagi sekadar pelapah kelapa yang terbuang, melainkan saksi bisu keuletan budaya masyarakat Jabung dalam menjaga harmoni dan menolak segala bentuk marabahaya di tanah adat mereka.

 

JABUNG, MALANG – Suasana Balaidusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, terasa hidup dengan denting gongseng dan gerak ritmis Tari Topeng Gunung Sari, Kamis (2/4/2026). Momen ini menjadi pembuka konferensi pers Festival Budaya Busu Jaman Biyen (BJBfest 2026), sebuah ajang budaya yang telah lama dirindukan masyarakat Malang, khususnya warga Busu dan Jabung.

Setelah sempat vakum sejak 2019 akibat pandemi Covid-19, BJBfest akhirnya kembali digelar pada 10–12 April 2026. Kebangkitan festival ini didukung oleh Dana Indonesiana 2026 dari Kementerian Kebudayaan RI, yang menjadi salah satu penguat terselenggaranya kembali kegiatan budaya berbasis masyarakat ini.

https://www.kampungadat.com/2026/04/konferensi-pers-kebangkitan-bjbfest-2026-dari-pinggiran-malang-ludruk-organik-dan-teater-3-kota-jadi-sorotan.html
Konferensi Pers BJB Festival

Penanggung jawab BJBfest 2026, Kusnadi, menjelaskan bahwa festival ini lahir dari semangat gotong royong warga. Ia mengenang perjalanan BJBfest yang awalnya mengusung konsep “Tempo Dulu-an” hingga berkembang menjadi identitas budaya yang kuat.

Salah satu ikon utama festival ini adalah Ludruk Organik, yang memiliki kisah unik. Berawal dari keterbatasan dana untuk mengundang grup ludruk profesional, warga akhirnya membentuk kelompok sendiri. Karena latihan dilakukan di dekat kandang sapi dan para pemain bukan seniman profesional, muncul ejekan “Ludruk Organik”. Namun, sebutan itu justru diadopsi sebagai simbol keaslian dan kemandirian warga.

https://www.kampungadat.com/2026/04/konferensi-pers-kebangkitan-bjbfest-2026-dari-pinggiran-malang-ludruk-organik-dan-teater-3-kota-jadi-sorotan.html
Sepengal Adegan Ludruk Organik

Keunikan BJBfest tetap dipertahankan tahun ini. Halaman rumah warga akan kembali disulap menjadi panggung budaya yang menampilkan beragam potensi desa, mulai dari kuliner tradisional hingga atraksi berbasis pertanian. Selain itu, festival ini juga mengangkat seni tradisi yang mulai langka, seperti Mocopat Malangan, Topeng Jabung, Terbang Gandul, dan Keroncong, sebagai bagian dari upaya revitalisasi budaya.

BJBfest 2026 semakin istimewa dengan hadirnya kolaborasi lintas kota. Winarto Ekram, pimpinan Malang Dance, memilih Dusun Busu sebagai lokasi pembuka pertunjukan teater bertajuk “Pengakuan Rahwana”, yang akan digelar di tiga wilayah: Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu.

Menurut Winarto, tampil di tengah masyarakat desa memberikan pengalaman berbeda dibandingkan panggung formal. Ia justru menantikan respons jujur dari warga sebagai bentuk apresiasi terhadap karya yang telah dipentaskan puluhan kali di berbagai daerah di Indonesia.

https://www.kampungadat.com/2026/04/konferensi-pers-kebangkitan-bjbfest-2026-dari-pinggiran-malang-ludruk-organik-dan-teater-3-kota-jadi-sorotan.html
Penampilan Topeng Wayang Jabung

Sementara itu, sesepuh dusun, Junaedi, menegaskan bahwa BJBfest bukan sekadar festival, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat nilai gotong royong warga. Meski berangkat dari desa, festival ini telah mampu menjangkau perhatian hingga tingkat regional.

Sebagai penutup konferensi pers yang digelar secara lesehan, para awak media disuguhi cuplikan “Hikayat Keblek” yang dibawakan oleh para pemain Ludruk Organik. Pertunjukan ini menjadi teaser untuk puncak acara yang akan digelar pada 12 April 2026.

BJBfest 2026 menjadi bukti bahwa kekuatan budaya lokal dapat tumbuh dari desa dan memberi dampak luas. Lebih dari sekadar hiburan, festival ini menegaskan bahwa kedaulatan budaya tetap hidup di tangan masyarakat.

Malang, 22 Februari 2026 – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar acara Penyerahan Apresiasi Seniman/Pelaku Budaya, Tunjangan Kehormatan Juru Pelihara Cagar Budaya, dan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang dilaksanakan di Taman Krida Budaya, Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang, Sabtu (22/2/2026).

Acara bergengsi tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Timur, serta dihadiri para Bupati dan Wali Kota se-Jawa Timur, jajaran pejabat pemerintah provinsi, kepala dinas kebudayaan, tokoh masyarakat, serta para seniman dan pelaku budaya dari berbagai daerah di Jawa Timur.


Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Timur menyampaikan bahwa kebudayaan merupakan identitas sekaligus kekuatan bangsa yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Menurutnya, para seniman dan pelaku budaya memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai luhur, tradisi, serta kearifan lokal yang menjadi ciri khas Jawa Timur.

“Warisan budaya harus terus tumbuh dan memberi manfaat sosial serta ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, budaya menjadi identitas sekaligus kekuatan pembangunan Jawa Timur

Pada kesempatan tersebut, diberikan penghargaan kepada para seniman dan pelaku budaya berprestasi, serta penyerahan tunjangan kehormatan kepada juru pelihara cagar budaya yang selama ini menjaga situs-situs bersejarah di berbagai kabupaten/kota. Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada pihak-pihak yang berperan dalam pelestarian Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, seperti seni pertunjukan tradisional, upacara adat, kerajinan, dan tradisi lisan.

Kehadiran para Bupati dan Wali Kota se-Jawa Timur menunjukkan sinergi kuat antara pemerintah provinsi dan pemerintah daerah dalam memperkuat pembangunan sektor kebudayaan. Para kepala daerah menyatakan komitmennya untuk terus mendukung para pelaku budaya melalui program pembinaan, fasilitasi kegiatan seni, hingga perlindungan hukum terhadap warisan budaya daerah.

Acara berlangsung khidmat dan meriah, diawali dengan penampilan Topeng Panji atau Topeng Malangan yang dibawakan oleh para seniman perwakilan dari berbagai sanggar seni di Jawa Timur. Pertunjukan tersebut memukau para tamu undangan dengan gerak tari yang anggun, karakter topeng yang khas, serta iringan musik tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya Malangan sebagai bagian dari warisan budaya Jawa Timur.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari, menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2026 Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan apresiasi kepada 640 orang penerima, yang terdiri atas 500 pelaku budaya/seniman dan 100 Juru Pelihara Cagar Budaya.

Pada acara tersebut, penyerahan dilakukan secara simbolis kepada 100 pelaku budaya dan 20 juru pelihara cagar budaya sebagai perwakilan dari seluruh penerima apresiasi tahun ini.

Ia menegaskan bahwa pemberian apresiasi ini merupakan bentuk komitmen Pemprov Jatim dalam mendukung keberlangsungan pelestarian seni, tradisi, dan cagar budaya di berbagai daerah di Jawa Timur.

Seni tradisional dan nilai-nilai keagamaan sejatinya bisa berjalan beriringan, saling melengkapi dan memperkaya karakter generasi muda. Hal inilah yang tercermin dalam lahirnya Bantengan Arek Santri Budoyo, sebuah komunitas seni budaya yang berakar kuat pada kehidupan religius di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.


๐ŸŒŸ Asal-Usul dan Inspirasi

Komunitas ini lahir dari sekelompok pemuda kampung yang dikenal aktif dalam kegiatan mengaji di rumah Bapak Sanali, seorang tokoh agama setempat yang dihormati. Dari lingkungan santri yang penuh kedamaian dan semangat belajar agama inilah, perlahan tumbuh keinginan untuk mengekspresikan semangat mereka dalam bentuk seni tradisional, khususnya kesenian Bantengan.


Awalnya mereka tampil secara spontan dan akrab disebut dengan nama Mberot, sebuah sebutan yang khas dan melekat di masyarakat kabupaten malang. Namun seiring waktu, dengan semangat kebersamaan dan niat yang lebih serius, mereka mulai membentuk wadah resmi yang diberi nama:

Arek Santri Budoyo

Komunitas ini resmi berdiri pada tanggal 4 September 2022, di bawah kepemimpinan Bapak Juli sebagai penggerak sekaligus pembina kegiatan.

๐ŸŽญ Seni yang Tidak Melupakan Akar

Yang unik dan membanggakan dari Arek Santri Budoyo adalah semangat mereka dalam menjaga keseimbangan antara berkesenian dan kehidupan religius. Meskipun aktif dalam latihan dan pentas Bantengan, mereka tidak pernah melupakan jati diri mereka sebagai santri. Kegiatan mengaji bersama Bapak Sanali tetap menjadi rutinitas yang dijaga dengan konsisten.


Inilah yang menjadi nilai pembeda dari Bantengan Arek Santri Budoyo dibanding kelompok seni lainnya. Mereka tidak hanya menampilkan gerakan gagah dan atraktif khas Bantengan, tetapi juga membawa jiwa spiritualitas dan akhlak mulia ke dalam setiap langkahnya.


๐Ÿ›ค️ Harapan dan Cita-Cita

Kehadiran Arek Santri Budoyo tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat sekitar, tapi juga menjadi simbol bahwa seni dan agama bisa berjalan beriringan tanpa harus di campur adukan dan harmoni. Melalui kesenian Bantengan, mereka ingin mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda sekaligus mengajak agar tidak melupakan ajaran agama sebagai fondasi hidup.

Dengan semangat “ngaji tetap jalan, seni terus dilestarikan”, Arek Santri Budoyo berharap bisa terus tumbuh, menginspirasi, dan membawa manfaat bagi masyarakat Dusun Busu dan sekitarnya.



Bantengan Arek Santri Budoyo, bukti bahwa dari surau kecil, bisa lahir gerakan besar — seni yang santun, budaya yang beriman.





Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang adalah salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi luar biasa di bidang pertanian, UMKM, dan pariwisata berbasis lokal. Terletak di bagian timur laut Kabupaten Malang, Jabung dikenal sebagai daerah yang subur, kaya budaya, dan masyarakatnya hidup rukun serta religius.

https://www.kampungadat.com/2025/07/kecamatan-jabung-kabupaten-malang-jawa-timur-potensi-alam-umkm-dan-budaya-lokal-yang-menarik.html
Peta Kecamatan Jabung 3D

Artikel ini akan mengulas lengkap tentang profil Kecamatan Jabung, mulai dari geografi, potensi unggulan, hingga peluang wisata dan ekonomi lokal yang semakin berkembang.


✅ Profil Singkat Kecamatan Jabung, Malang

Secara administratif, Kecamatan Jabung terdiri dari 12 desa, di antaranya:

  • Jabung
  • Pandansari
  • Taji
  • Kemiri
  • Sidomulyo
  • Slamparejo
  • Argosari
  • Kemantren
  • Gunungjati
  • Sukolilo
  • Sukopuro
  • Ngadirejo

Wilayahnya didominasi oleh dataran tinggi dan sebagian lereng pegunungan, yang menjadikan Jabung sebagai kawasan yang subur dan cocok untuk sektor pertanian dan perkebunan


๐ŸŒฑ Potensi Pertanian dan Komoditas Unggulan

Salah satu kekuatan utama Kecamatan Jabung Malang adalah sektor pertanian. Beberapa komoditas unggulan dari wilayah ini meliputi:

  • Singkong

  • Padi dan jagung

  • Tebu

  • Kopi di wilayah lereng

  • Sayur-sayuran dataran tinggi

Selain itu, Jabung juga dikenal sebagai daerah dengan produk susu kambing dan sapi perah yang mulai dikembangkan melalui koperasi desa.


๐Ÿ›️ Perkembangan UMKM dan Ekonomi Lokal

Seiring berkembangnya teknologi dan keterbukaan pasar, UMKM di Jabung mulai tumbuh pesat. Beberapa jenis usaha kecil dan menengah yang berkembang antara lain:

  • Produksi olahan singkong dan keripik

  • Toko kelontong dan sembako

  • Usaha ternak kambing dan sapi

  • Kuliner khas desa Jabung

  • Usaha katering dan snack rumahan

Pemerintah desa dan kecamatan terus mendorong digitalisasi UMKM agar mampu menembus pasar luar daerah dan bahkan e-commerce nasional.


๐ŸŒ„ Wisata Jabung Malang: Alam, Edukasi, dan Religi

https://www.kampungadat.com/2025/07/kecamatan-jabung-kabupaten-malang-jawa-timur-potensi-alam-umkm-dan-budaya-lokal-yang-menarik.html
Peta Kecamatan Jabung 2D


Meskipun belum sepopuler destinasi wisata lainnya di Kabupaten Malang, Jabung memiliki daya tarik wisata lokal yang terus dikembangkan, seperti:

  • Gubuk Baca Lereng Mbusu: Ruang edukasi dan wisata literasi di kawasan perbukitan.

  • Wisata Edukasi Pertanian: Belajar bertani dan beternak di desa.

  • Wisata religi: Ziarah makam ulama lokal dan kegiatan keagamaan.

Potensi wisata ini sangat cocok dikembangkan menjadi wisata berbasis masyarakat (community-based tourism) yang ramah lingkungan dan memberdayakan warga.


๐Ÿ’ก Harapan Masa Depan Kecamatan Jabung

Dengan sumber daya alam yang melimpah dan masyarakat yang penuh semangat, Kecamatan Jabung berpotensi menjadi:

  • Sentra pertanian dan peternakan organik

  • Kawasan wisata lokal berbasis alam dan budaya

  • Pusat pengembangan UMKM pedesaan di Malang bagian timur

Dukungan infrastruktur, pemasaran digital, dan pelatihan kewirausahaan akan sangat menentukan arah pertumbuhan wilayah ini di masa mendatang.


๐Ÿ“Œ Kesimpulan

Kecamatan Jabung Kabupaten Malang bukan hanya kawasan agraris, tapi juga wilayah penuh potensi yang siap berkembang. Dengan kekuatan di sektor pertanian, UMKM, dan wisata edukatif, Jabung siap menjadi destinasi unggulan baru di Kabupaten Malang.

Jika Anda mencari desa wisata di Malang, UMKM pedesaan yang berkembang, atau ingin menjajaki peluang investasi di wilayah agraris, Jabung adalah pilihan yang menjanjikan.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan tren global yang menggoda generasi muda, segelintir remaja di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, justru memilih jalan berbeda. Mereka tidak larut dalam budaya instan, melainkan menoleh ke belakang — pada akar tradisi, pada seni yang hampir terlupakan: Topeng Jabung.

Topeng Jabung bukan sekadar seni tari, tetapi wujud ekspresi kebudayaan masyarakat Jabung yang penuh makna. Gerakan tari yang penuh simbol, iringan musik gamelan yang syahdu, serta topeng kayu yang diukir dengan nilai-nilai filosofis, semuanya merepresentasikan identitas dan kebijaksanaan lokal.


Di antara para pelestari muda itu, ada nama-nama remaja yang kini mulai dikenal di lingkup desa. Mereka rela menyisihkan waktu dari kesibukan sekolah dan gawai, demi berlatih menari, mengukir topeng, atau menjadi bagian dari tim pengiring gamelan. Bagi mereka, menjaga Topeng Jabung adalah bentuk cinta terhadap leluhur, sekaligus tanggung jawab sebagai generasi penerus.

"Kami tidak ingin hanya menjadi penonton. Kami ingin menjadi pelaku. Supaya anak-anak nanti juga tahu kalau kita punya budaya sendiri yang indah," ujar puspita (16), salah satu remaja penggiat tari topeng di Dusun Busu, Slamparejo.


Keterlibatan remaja ini tidak terjadi begitu saja. Banyak dari mereka terinspirasi oleh para seniman sepuh yang dengan sabar membimbing, dan juga oleh komunitas budaya seperti Sangar Cerita Kampung Treteg yang membuka ruang kreativitas dan pelestarian budaya secara terbuka.

Selain tampil di acara desa, remaja-remaja ini juga aktif saat ada tamu berkunjung, seperti rombongan wisata budaya, sekolah, bahkan turis asing. Dengan percaya diri, mereka menari mengenakan topeng sambil mengisahkan cerita rakyat Jawa Timur yang sarat pesan moral.


Lebih dari sekadar tampil di panggung, kepedulian mereka terhadap Topeng Jabung menjadi simbol kebangkitan kesadaran budaya di kalangan muda. Bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, tapi bekal untuk masa depan.


Topeng bukan hanya tentang wajah yang ditutup kayu. Ia adalah wajah kita sendiri — sebagai bangsa yang kaya budaya. Dan selama masih ada remaja yang peduli, topeng-topeng itu tidak akan pernah kehilangan suara.

 

Dusun Busu, Permata Tersembunyi di Jabung yang Memikat Turis Asing

Di tengah hamparan alam Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, terdapat sebuah dusun yang menyimpan keunikan budaya dan keramahan warga yang luar biasa Dusun Busu, Desa Slamparejo. Tempat ini kini tidak hanya menjadi kebanggaan warga sekitar, tetapi juga telah menarik perhatian turis mancanegara yang ingin menyelami kehidupan kampung khas Indonesia.

Salah satu daya tarik utama dusun ini adalah Busu Kuliner, sebuah tempat wisata edukasi untuk turis asing yang menghadirkan aneka masakan tradisional khas Indonesia. Di sini, para turis mancanegara tak hanya mencicipi sajian lokal, tetapi juga diajak langsung belajar memasak makanan khas Jawa dengan bumbu-bumbu asli dan metode tradisional. Aktivitas ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung karena selain memasak, mereka juga dikenalkan dengan nilai-nilai kekeluargaan dan kegotongroyongan masyarakat setempat.

Tidak berhenti di dapur, turis juga diajak berkeliling kampung, menyusuri jalan-jalan kecil yang dikelilingi sawah, kebun, dan rumah-rumah warga yang ramah. Mereka berkesempatan melihat langsung kehidupan sehari-hari masyarakat desa, mulai dari bertani, membuat kerajinan, hingga mengikuti aktivitas budaya yang masih lestari.


Salah satu momen yang paling ditunggu adalah pertunjukan seni Tari Topeng Wayang Jabung—sebuah kesenian khas lokal yang sarat akan nilai sejarah dan filosofi Jawa. Tarian ini menjadi media untuk mengenalkan warisan budaya kepada dunia luar, serta memperkuat identitas kultural Dusun Busu sebagai kampung wisata budaya.


Semua keberhasilan ini tentu tidak bisa dilepaskan dari dukungan penuh masyarakat dan pemerintah desa, yang secara aktif menjaga dan mengembangkan potensi lokal. Namun, ada satu sosok penting yang menjadi pionir dari geliat pariwisata budaya di dusun ini, yaitu Pak Kusnadi, atau yang akrab disapa Pakde Abiet.


Pakde Abiet adalah sosok yang mencintai kampung halamannya dengan sepenuh hati. Berkat dedikasi dan inisiatif beliau, Dusun Busu mulai dikenal luas sebagai destinasi wisata edukasi dan budaya. Semangatnya dalam mengenalkan kekayaan lokal telah menginspirasi banyak orang, termasuk generasi muda di kampung itu, untuk ikut melestarikan warisan budaya dan membangun desa dengan potensi yang mereka miliki.

Dusun Busu bukan hanya tempat wisata, tapi juga simbol dari kekuatan lokal yang dikelola dengan cinta dan kebersamaan. Sebuah contoh nyata bahwa kampung kecil pun bisa menginspirasi dunia.